Monthly Archives: October 2009

Kirana (4): Selaras Hening

membuka lemarimu lagi
mencium aromamu
menyeruak…

memori bermain dua langkah
memangkuku dengan hangat akrab pelukannya
(… syahdu kuresapi percikan melankoli hujan bulan Juni)
bak seorang bayi, kembalikanku pada rahim ibuku

(… bisu kelambu bingkai siluet nafas insan)

kau dan aku saling memandang
menyatukan garis takdir gerhana
di sisi kitab kehidupan yang tak sabar
untuk ditanggalkan dayu asmara
mengusik celah kecil untuk kembali ke Surga

(… temaram bulan menuntunku padamu)

perlahan bisik dialektika mengalun
mengiringi malam yang lelah
menyusuri segenap kesadaran
dan malaikat pun diam-diam mencuri dengar
dengki mencium bibir kita bagai raja yang sepi

(…. kulihat Tuhan tersenyum)

dalam hening, kau amati rapuhku
dan kau gubah aku dalam sebuah tembang rindu
mengalun bagai gemerisik oase di padang gurun
hingga angin menunduk malu di tepi pelesir doa

bersimpuh kurengkuh ketelanjanganmu
bagai dian menerangi mabuk malam
membara bagai api Ibrahim
tumbuhkan nyala gelora jiwa

bagai tanah tropis, kau lembut menopangku
(… dalam teduh matamu, kekasih)
menanam cinta pada kedirian kita
mengolah rindu di setiap denyut nadi
mengajar darah
untuk serahkan diri pada kasih kuasaNya
jadikan kita muara samudera penciptaan
bergolak mengayun
tenang menghanyutkan

dalam pusara ini
kita sentuh keindahan jagad raya
jamah rahasia semesta
dan kau tembangkan untukku
sebuah suluk surgawi
firman Tuhan yang bernyanyi
jadikan tiada ada
dan ada tiada

(… linting candu bergelayut di telinga kita)

lihatlah, kekasih
gugur rembulan seakan saksi
dalang-dalang gayung menyambut kepulangan sang anak
lukiskan sukma pada secarik kain putih
mekarkan kisah kita pada tiap helaan nafas
mendua menyusuri
lakon canting dan malam

*terinspirasi dari Serat Centhini “Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan”

<< Kirana (3)

Advertisements

permainan kata

betapa jelinya permainan kata
menjerat sukma
memberi cermin luka
pada eksodus Musa yang tersesat
dalam sinar keemasan lembayung ungu
bagai ruam lebam pada langit yang merah membara

sungguhlah kita buta oleh kata
adopsi cicak di lidah
tak sadar memelihara nyamuk dalam aliran darah
mungkin kita sendiri nanti kering
bermain sekering kata
pesta buaya

kelereng-kelereng sukma bergulir
anak-anak adu silat lidah
tertawa-tawa
sambil membelit orangtua mereka
dengan kata yang diletakkan di lidah mereka
saat sang ayah mengutuk nafsu
menyembunyikan selangkangannya yang basah oleh malam
dan sang ibu mengumbar tawa ejekan
di depan layar televisi
menikmati cuap-cuap basi
untuk sarapan di pagi hari
saat anak-anaknya menemba ilmu
bagaimana menipu diri jadi buaya

Bangsa Pocong: Religiositas yang Disalahkaprahkan

56585433Lahir dan dibesarkan di negeri Zamrud Khatulistiwa ini, saya cukup paham dan meresapi bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa dengan tradisi religius yang kuat. Masih tersisa jejak animisme dan dinamisme dalam aliran kepercayaan yang dianut beberapa suku di Indonesia. Dayak dengan Kaharingan, Jawa dengan Kejawen, suku Arso di Papua yang mendasarkan religinya pada penghormatan nenek moyang, dan sebagainya. Bahkan dalam dasar negara kita, Ketuhanan yang Maha Esa dianggap sila yang mendasari sila-sila lainnya sehingga founding fathers kita meletakkannya pada sila yang pertama.

Ketuhanan pun dianggap sebagai sumber hidup jantung Indonesia, berdetak ke seluruh aspek hidup bangsa. Ketika terjadi bencana berkali-kali, tidak sedikit orang yang menganggap bahwa bencana itu adalah murka Tuhan. Di youtube serta berbagai jejaring sosial, tersebar video-video dan informasi simpang siur mengenai kapan hari kiamat. Hal ini sebenarnya membuat saya bertanya-tanya. Kalau bangsa kita ini adalah bangsa yang berTuhan, seharusnya kita tahu bahwa tidak ada yang tahu kapan kiamat selain Tuhan karena Tuhanlah yang menentukan hari penghakiman itu. Kemudian saya berpikir, apakah hal ini merupakan indikasi tentang menyimpangnya pengertian akan iman pada Tuhan? Apakah Ketuhanan itu terlalu diresapi sehingga bangsa kita lupa untuk mundur selangkah hanya untuk mengevaluasi apa yang sebenarnya dimaksud dengan Ketuhanan dalam hidup pribadi, bermasyarakat, dan berbangsa?

Pagi ini, saya menggaruk-garuk kepala walaupun kepala saya tidak gatal. Sebabnya, saya menonton acara berita di sebuah stasiun televisi swasta nasional. Di situ, sedang diliput sebuah berita tentang kesurupan mahasiswa di tengah demonstrasi. Setelah membaca headline berita itu, diperlihatkan polisi sedang sibuk menangani korban yang katanya kesurupan. Ah, melihat berita itu di layar televisi saya, saya benar-benar miris. Bukannya saya menyangkal adanya fenomena kesurupan, yang saya persoalkan adalah penitikberatan berita. Dari headline berita itu, seakan-akan kesurupan adalah berita utama sedangkan demonstrasi mahasiswa hanyalah latar belakangnya. Setelah era televisi diserbu acara memburu hantu, apakah acara berita juga harus mengikuti pola mistisisme yang salah kaprah ini?

Iseng-iseng saya berpikir, apa maksud stasiun televisi ini? Apakah ia ingin mengusulkan pada polisi untuk kursus ilmu mengusir setan? Iseng-iseng saya membayangkan pasukan bhayangkara beranak divisi pengusiran setan, dipimpin oleh Dukun Anu. Aih lucunya… membayangkan satgas dilatih oleh dukun-dukun. :p Lalu saya ingat juga, beberapa waktu yang lalu, seorang pejabat yang didakwa melakukan penipuan, mengatakan pada media bahwa ia bersedia untuk melakukan sumpah pocong untuk meyakinkan orang-orang bahwa ia tidak bersalah. Di Madura pun, kejadian serupa tapi tak sama pernah terjadi. Sepasang suami istri lepas dari tuduhan dan kembali mendapatkan kepercayaan masyarakat karena mereka bersedia melakukan sumpah pocong. Ah apakah seseorang bisa lepas dari dakwaan, hanya dengan sumpah pocong, yang dianggap efektif untuk membungkam tuduhan dengan premis “kalau ia bersalah dan di dunia tidak terhukum, akhirat akan menegakkan keadilan”? Saya ngeri membayangkannya. Betapa banyak oportunis di negara kita yang akan memanfaatkan celah “hukum” ini, melakukan lebih banyak penindasan dan ketidakadilan. Jika kebusukannya diendus masyarakat, langsung melakukan sumpah pocong dan masyarakat akan “memaafkan”. Kalau begini kejadiannya, saya tidak heran jika nanti-nantinya bangsa Indonesia akan bermutasi jadi bangsa pocong.

Saya pikir, urusan politik, hukum, kenegaraan, dan sebagainya, janganlah Tuhan terlalu sering dibawa. Takutnya kita kecele, kelilipan sampai-sampai ‘setan’ koruptor dikira Tuhan. Bukannya saya tidak percaya pada sila pertama Pancasila itu. Namun kata-kata manusia sering berbelit oleh kepentingan pribadi, apalagi kaum oportunis jagonya memanfaatkan celah distorsi pemahaman sok religius yang salah kaprah. Oleh karena itu, daripada kita heboh tentang kapan kiamat akan tiba, lebih baik kita memberesi kesembronoan negara kita. Nantinya ketika bangsa kita menghadap Tuhan, kita tidak dikemplang olehNya gara-gara kita terlalu sering meng-abuse Tuhan sebagai jargon keroposnya bangsa kita.

image, courtesy of http://www.indonesiaindonesia.com

Posted also in Ngerumpi and Politikana

Kirana (3)

desert-moon-brent-ander

HARI 1

Panji:
Bercanda dengan waktu
Kupecundangi ia dengan inginku

Kirana:
Aku melukis cintaku pada yang tak kelihatan
menertawakan mereka yang bersumpah pocong
dan pada berita-berita yang mengumbar kesurupan

HARI 12

Kirana (pada dirinya sendiri):
Aku menyumbat telingaku dengan lagu
Tersipu malu pada ia yang mengumbar kata
Kubiarkan ia pergi tanpa lambaian selamat tinggal

HARI 15

Panji (pada dirinya sendiri):
Ingat rumahku di ujung jalan
Merindu rembulan yang menanti di sana
Kuharap tidaklah ia lupakan aku meski egoisku memendam purnama

HARI 40

Panji (menembang):
Lihatlah, kekasih
Telingamu simaklah
Alam selalu bergolak tak betah dikungkung rangka manusia
Mengubur peri-peri di tanah
Membakar tangan-tangan yang menengadah pada Sang Omega

Tak lagi aku mengais warisan Alpha
Eden tinggal kenangan
Bagai bayang oase di ujung horizon
Makin didekati, makin jauh
Makin didamba, ia pergi

Saat-saat ini aku membawa potretmu
Dalam pertemuan setarik nafas, selalu kau oleskan zaitun pada tubuhku
Memberi kelembutan pada kerasnya ingin
Mengusap hangat gigilnya jiwa

Mungkin saat kamboja gugurkan daunnya
Aku akan pulang ke pangkuanmu
Namun sisi waktu seringlah memberi khianat
Tubuh terperangkap lalap kemangi
Janji diinterupsi kepentingan

Namun ingatlah
Walau wangi silih berganti
dalam mimpiku, kaulah bunganya
Harum sukmamu akan menuntunku
Laksana bulan menerangi tinta malam
pandu sang pengelana yang tersesat
untuk kembali pada keindahan

Sayup-sayup angan menyelusupi nadi kita
terdengar gemerisik sungai
lantunan tembang perjumpaan
gairah kasih
mengenal diri dari kehidupan yang lalu
sebelum dilahirkan dalam dunia fana
setelah menjemput lahan maut

Di balik kelir itu, kita memadu mesra
ciptakan kembali Firdaus di peraduan
dirasuki cinta yang menjanda
Sang Panji merindu Candrakirana

Desert Moon Drawing by Brent Ander, courtesy of fineartamerica.com

>> Kirana (4)
<< Kirana (2)

Kirana (2)

Suatu kali yang dikira-kira ini, aku mengintipnya sedang menenun sutra yang dititipkan oleh seorang petani dalam persimpangan hidupnya dan aku mendengarnya menangis. Sela-sela benang itu mengurai matanya, basahi kembali suatu pengelanaan di antara kotak-kotak pengampunan. Ia menahan jawabnya di ujung rindu. Lama ia menatap ke dinding merah itu, dan ia lukiskan sebuah potret perempuan dengan melodi-melodi kasihnya.

“Kutuliskan dalam kitab hidupku,
kau bercerita soal kegundahanmu
dan gelapmu terhimpit kegilaan dunia
Jawab apa yang kau ingin, kekasih?
Tak bisalah aku tahu
karena aku pun terjebak dalam permainannya
bermain prinsip seperti mengadu dadu
sudah tak kukenal lagi batas malu ataupun kemaluan

Gilanya aku dengar dirimu kekasih
Kau membakar lilin malam
Menyenandungkan kehadiranku
Puaskan duka
Namun mengapa, di saat aku hendak merengkuhmu dalam pelukku,
kau khianati aku dalam mimpi
nodai kisah kita dengan laku ragumu
sedang aku di sini berkali-kali menanti
Kirana, kapan kau palingkan kembali syahdumu padaku?
Mari kita menjamu kasih, mengolah rindu
kau aku kekasih, punyaku, milikmu, dan bukan numpang lewat.”

>> Kirana (3)
<< Kirana (1)

bird-silhouette-470
image, courtesy of http://www.roadsidescholar.com

cinta burung dara

dove

Di suatu pagi, aku kedatangan seekor burung dara yang baru lepas dari sangkarnya. Melihatku sedang menyisir rambutku, ia terbang di hadapanku dan memperdengarkanku kisahnya:

kalau aku cinta monyet
aku tulis di majalah dinding sekolah
akan aku ukir namanya di papan seukuran pintu kelas
dan kulambaikan kala ia bertanding basket
kapanpun itu

namun saat aku benar aku jatuh cinta
tidak ada satupun lalat yang akan mendengar
sebab akan kujaga baik-baik cinta itu
agar cuma jadi milik kami berdua
dan akan kami sebar anak-anak cinta kami
dengan sabar, ikhlas, dan mendengar
supaya orang lain juga rasakan hangatnya cinta
tanpa perlu suburkan industri infotainment
yang lesu oleh rekayasa
cerai hamil nikah selingkuh cinta lokasi

maka jangan bertanya mengapa kami menikah
karena tanpa basa basi kami mencinta

Lalu ia pergi begitu saja, tanpa sempat aku sampaikan rasa ingin tahuku, akan kisah siapakah itu sesungguhnya. Apakah ia curi dengar diriku dan dindingku, suamiku dan wanita-wanitanya? Sungguhlah itu hanya suatu sudut pandang naif dari kemudaanku kala itu.

Ah suamiku, ternyata terlalu royal ia membagi cinta hingga cinta-cinta itu berserakan di jalan, menunggu yang akan menyapunya di pagi hari. Kala ia merebahkan dirinya di sampingku, cintanya habis teronggok di tepi jalan. Penuh surat penolakan di sakunya, ia meraung-raung di pelukanku yang dingin. Awalnya kubelai rambutnya, kukecup keningnya, dan membasuhnya dengan air dan kehangatan cinta. Namun lama-lama aku lelah dan bosan, sebab ia mengambil cintaku lalu boroslah ia mengumbar cinta itu.

Kukatakan padanya suatu malam, “Mas, aku bukan pabrik cinta.”

“Tapi aku ingin cinta. Aku butuh cinta.”

“Aku tahu. Kau pikir aku tidak butuh cinta? Cari saja cintamu di tempat lain.”

“Tidak mau, aku inginnya punyamu.”

Aku menghela nafas, mencoba menyabar-nyabarkan diri. Suamiku, seperti apa adanya kunikahi, dan haruslah kutanggung keputusan itu.

“Baiklah. Kau hanya ingin cinta dariku, tapi aku mulai kehabisan cinta. Bagaimana kalau aku mencari persediaan cinta di tempat lain, supaya aku bisa tetap menyuplai cinta untukmu.”

Ia terdiam, menyenderkan tubuhnya ke dinding kamar kami. Kulihat pemandangan yang sungguh kontras dan sedikit menggelikan. Di atas kepalanya tergantung foto perkawinan kami, aku mengenakan tank top dan celana kulit hitam, rambut acak-acakan, sementara ia mengenakan jas dan kemeja putih, corsage mawar merah disematkan di dada kirinya, segalanya serba bersih, serba klimis, kinclong bak bintang iklan pasta gigi. Ia masih sama seperti yang dulu, hanya saja dulu ia bertubuh ramping seutas ijuk namun sekarang ia bak karung goni yang ditumpuk-tumpuk di gudang hingga sesak dan hampir menjebol pintunya. Lalu aku hitung satu dua tiga. Ah benar saja, ia mulai mengadu tulang belakang kepalanya ke dinding. Kucoba hitung ketukannya, ah staccato!

“Oops gawat,ternyata cintaku memang sudah habis,” bisikku pada diri sendiri. Tergelak oleh pikiranku sendiri, aku mati-matian menahan otot wajahku. Bak seorang istri dalam pajangan opera sabun, aku berusaha tersenyum. Walau senyumku tak menentramkan batin, setidaknya senyum itu tidak boleh melecehkan. Aku bertanya lagi, “Bagaimana, suami? Deal or no deal?”

Satu dua tiga empat lima. “Biarlah kupikir-pikir dulu.” Lalu ia menghambur ke kamar mandi sambil membawa radio compoku, membanting pintu. Satu dua tiga,

All by myself
Don’t wanna be
All by myself
Anymore

Lantunan Celine Dion menyelusup ke telingaku yang lelah, diiringi dengan nada-nada sepi dan isak tangis dari bocah kemarin sore. Melihat semuanya ini, aku sudah biasa. Menelan pemandangan ini, aku lakukan secara rutin. Namun hari ini berbeda, sungguh membuat diriku sendiri kagum. Untuk pertama kalinya, aku utarakan keinginanku. Selama tiga tahun, aku menunggu keberanianku tiba, untuk melanggar nasehat ibuku yang bertalu-talu kala aku ingin memercikkan bubur arang di wajah suamiku. Yah kali ini aku menanti. Suamiku tak pernah tahan akan kesendirian. Katanya sendiri membuka bilur-bilur di hatinya dan kerutan di wajahnya. Ia tak pernah ingin sedih, maka ia tak akan pernah mau sendiri. Di rumah, di kantor, di hotel, di jalan, atau di mana saja, ia akan menarik, menggoda, dan kalau perlu membayar cinta yang akan usir sepi hatinya. Kemudian aku membatin, apalah arti limabelas menit dibanding tiga tahun penantian.

Sepuluh menit kemudian, kudengar pintu berderit. Wajahnya menyembul dari sela-sela pintu, bibirnya merengek, namun matanya menguat-nguatkan posturnya yang pernah kugilai dan ingin kucium-ciumi setiap detiknya.

“Baiklah. Asal kau bisa menjamin aku tak akan tahu dari mana asal cinta-cinta itu kau curi.”

Aku terpana melihat suamiku. Kupikir aku akan senang mendengarnya namun tak kusangka, aku malah jijik dengannya, dengan keberadaanku, dengan pernikahanku, dengan cinta yang kuperkosa bak seorang penulis yang ingin menulis kembali dongeng Cinderella untuk membela posisi Ibu Tiri yang tersudutkan. Namun, aku perempuan yang setia dengan kata-kata walau tidak pada cinta.

“Aku setuju. Aku rasa itu adil.”

Mendengar jawabanku, ia membuka pintu kamar itu, merentangkan tangannya, memintaku untuk merengkuhnya dalam pelukanku. Namun aku terpaku. Rasanya aliran darah di tubuhku berhenti, dan seluruh tubuhku kesemutan. Tak sabar, ia menghampirku dan mendaratkan pelukannya padaku, namun aku tak membalas, aku tak sanggup. Cintaku sudah habis, moralku habis, namun aku tak boleh kehilangan diri. Tuhan melahirkan aku dengan kedirianku, maka itulah hal yang paling harus kupertahankan, walau aku harus bertaruh nyawa dan rasa, agar ketika aku menghadapNya, aku dapat mengembalikan diriku kembali seutuhnya.

Oleh karenanya, kukumpulkan segenap tekad untuk jadi kekuatanku, “Dan aku akan pergi mencuri cinta itu sekarang. Empat hari lagi, akan kau terima bagian cintaku untukmu. Cinta yang akan membuatmu paham satu jalan tertutup, jalan lain harus kau buka. Aku akan terbang seperti burung dara, menjemput kebebasanku kembali dan mungkin memulai lagi cinta dari awal, dengan titik asa dan jiwa baru.”

Ia melepaskan pelukannya, menyentuh bahuku, mengelus pipiku. Matanya bertanya seakan meminta penjelasan namun tak tahu memulai dari mana.

“Apa kau akan pergi sekarang dan baru kembali empat hari lagi?”

Aku menghela nafas, menghimpun segenap emosiku agar kata-kataku tidak membakar kerapuhannya. Ia yang pernah kucinta, haruslah kusejukkan dengan apa yang kupunya, meski telah tak bersisa.

“Aku telah pergi bertahun-tahun yang lalu, pagi ini seekor burung dara menjemputku, dan malam ini aku pulang kembali. Dan empat hari lagi (kutahan senyum yang ingin meregangkan bibirku), kita bercerai.”

image, courtesy of http://www.blangkonbirdfarm.co.cc

Peace, Love, and Rock ‘N Roll

*Jun 25 - 00:05*

Sudah genap dua minggu, saya kembali menjadi budak kapitalis, demi meraup sesuap nasi dan kalau bisa, sepasang sepatu Louboutin dan segepok tiket keliling dunia. Hari pertama, saya lalui dengan santai-santai saja, mengenal lingkungan kantor, menghafal nama rekan-rekan di sana, berusaha mengendus gosip-gosip insider, mencatat orang-orang kunci yang harus saya sambangi kalau saya butuh ini itu. Saya juga mengukur waktu perjalanan, dengan rute A, rute B, angkutan umum ini itu. Alasannya demi kepraktisan saja, tidak pakai lama-lama di jalan, dan tentu saja tidak pakai bete.

Hari kedua, dimulai dengan membantu assignment seorang rekan, mewawancarai remaja SMP dan SMA, soal lagu-lagu favorit mereka. Selain melatih kembali level kenekadan dan keahlian wawancara, sekalian saya mengecek dan meng-update info musik-musik yang paling gres. Kesimpulannya, selera musik saya ternyata sangat in the vintage closet. Dari mereka, saya baru tahu ternyata ada genre pop punk di musik Indonesia yang sekarang sedang dirajai oleh Pee Wee Gaskins. Tak mau kalah, pulang ke rumah, saya langsung buka youtube dan ternyata lagu-lagunya boleh juga.

Ngomong-ngomong soal lagu, saya sendiri bingung pada saat ditanya orang suka musik seperti apa. Buat saya, selera musik itu tergantung mood, tergantung episode hidup yang sedang dijalani, dan memori yang melambai-lambai di jalan kenangan. Kalau lagi musim hujan dan ingin menye-menye tanpa terjebak jadi soap opera-ish, saya memilih untuk ditemani merdu suara malaikat Feist dan Emiliana Torrini, The Cure kalau ingin sentuhan yang lebih maskulin. Cuaca panas, Jack Johnson. Ingin memperbaiki mood yang malas, saya abuse track-track-nya Franz Ferdinand, Suede dan Pulp. Untuk menemani saya bekerja, saya menjagokan The Verve dan Charlatans. Saat berimajinasi, saya memilih The Beatles dan The Postal Service. Ketika sedang marah dan sinis, saya pilih Placebo dan Nirvana.

Ternyata musik ada di setiap aspek kehidupan saya. Musik menggambarkan tema saya, walaupun saya hanya jadi pendengar. Banyaknya genre musik menunjukkan betapa beragamnya tema hidup manusia, dan memberikan sedikit kelegaan bahwa ternyata ada orang yang sedikit banyak mampu menggambarkan beberapa bagian dari saya dan ada juga orang yang mempunyai perasaan, aspirasi, kisah hidup yang mirip dengan saya. Beribu-ribu fans berkumpul, disatukan oleh musik, oleh empati yang ditawarkan oleh pemusik lewat karyanya. Melalui hal ini, suatu hubungan batin terjadi antara pembuat karya dan penggemarnya. Maka, saya tidak heran ketika ada orang yang depresi berat ketika Michael Jackson meninggal. Rasanya seperti kehilangan seorang sahabat.

But you are not alone, for I am here with you
Though we’re far apart, you’re always in my heart

(Michael Jackson)

Walau saya bukan fans mampus Michael Jackson, rasanya ada sedikit kesedihan menyelusup dalam hati saya. Setidaknya lagu Michael Jackson menemani masa remaja saya. Saya sempat mengagumi moonwalk, berjoget diiringi lagu “Black or White, duduk menonton video klip “Earth Song” sambil mengamati cuaca yang memanas, sibuk menghafalkan “Heal The World” yang membuat hati saya damai, menangis mendengarkan “You are not Alone” di masa-masa labil saya, dan sebagainya. Mantan dosen saya, seorang Michael Jackson mania, tampaknya cukup berduka mendengar idolanya meninggal. Masa mudanya ditemani oleh lantunan The King of Pop. Ia dan teman-temannya mengadakan acara “Tribute to MJ” pada hari ulang tahun MJ tahun ini. Membacakan riwayat MJ, tampak di wajahnya segurat nostalgia masa mudanya bersama MJ. Saya tidak tahu apakah ia sempat ketemu MJ secara langsung, namun paling tidak saya bisa menyimpulkan bahwa kenangan telah mengikat suatu pertautan tersendiri antara dirinya dengan MJ. Lagu-lagu MJ adalah tema masa mudanya. Sedikit maklum, sebab saat masa mudanya itu berbarengan dengan masa kejayaan MJ di blantika musik internasional.

Namun saya kaget sekaligus takjub, saat mewawancara dua orang anak SMP, nama Michael Jackson meluncur dari mulut mereka. Dengan berbinar-binar, mereka menceritakan lagu-lagu MJ yang menjadi favorit mereka. Rupanya orangtua mereka sering memutarkan lagu-lagu MJ untuk mereka dan mereka pun jatuh cinta. Saya pikir, betapa ajaib sebuah penciptaan. Ketika umur manusia itu habis, tidaklah begitu dengan karyanya. Begitu sebuah karya diciptakan dari segenap hati, ia akan menyentuh hati si penikmat karya itu pula. Dalam hidup yang serba mekanistis ini, apalah yang lebih dirindukan daripada suatu hal yang mampu mengingatkan kita bahwa kita manusia, dari daging, dari darah, dari tanah, dan juga dari rasa Tuhan. Oleh karena itu, sesuatu yang mendorong pencapaian rasa akan selalu dikenang, selalu dicari, dan tak pernah dilupakan. Bukanlah egoistis diri yang diagungkan, melainkan hati yang digugah oleh lantunannya, betapa banyak hati yang disatukan olehnya. Maka saya rasa ungkapan ini walaupun sering di-abuse secara berlebihan, tidak akan pernah basi: peace, love, and rock ‘n roll!

image, courtesy of assets.nydailynews.com

Posted also in Ngerumpi

Kirana (1)

serimpi

kau melambai
memancing asa yang kering
‘tuk coba rasa kelembutanmu
di antara batu-batu yang menghimpit nafas
puaskan dahaga akan peristirahatan
dari tulang belulang yang lelah gontai oleh badai

di balik kelir kecoklatan
kau mengintipku
sedang bersembunyi dalam gincu merah
dan bau parfum yang tajam
membius yang lalu lalang
agar datanglah tubuhnya
dan hilang hati
pada hari yang sama
detik yang itu-itu juga

siapa kamu
wahai bulir malamku
yang menyambangi peraduanku
tiap aku tersirap kebutaan dunia
kala aku membasuh diri dengan air mata malaikat maut
yang mengalir di bawah tempat tidurku

kupanggil dirimu
namun kau lenyap
meninggalkanku dalam ingin
menarikku dengan jawab di ujung bayangan
dan kuingat
di suatu hari yang kelabu
kau selipkan sebuah kompilasi jazz
tentang masa kecilmu
ibumu, ayahmu, dan anjing-anjing mereka
dan pilu kudengar nada-nadamu
kau bertanya, “kapankah kau tanggalkan matamu untuk keabadian?”

dalam impian, kekasih
ketika syair-syair hentikan pelariannya dalam kepalaku
syair berkelana ke bilik-bilik penguasa
mengendus-ngendus bau kejayaan
mencari-cari celah ketololan
di balik kutang dan taburan gairah

syair sekali berbisik padaku
kata-kata itu menyesatkan
karena jaranglah kata menjawab nyata
kata berputar bolak balik dihantam kata lagi
dan tidaklah kau akan dengar gemerisik kaki menyusup di antara langkah
dengki yang membakar tungku dendam
akan menculikmu di suatu hari yang tuli
hingga pada babak terakhir,
kau isi sesal dan rasa kehilangan
yang mungkin akan dijadikan sebuah naskah oleh penulis yang terlalu awas
menghibur orang-orang yang haus akan air mata dan kasihan
agar mereka dapat hibur dirinya sendiri kembali,
bahwa hidup mereka lebih beruntung
daripada si tokoh yang tragis dan buntung

dunia ini gila
aku pun menghabiskan tenagaku untuk berakting gila
sambil mempertaruhkan diri untuk tidak ikut-ikut gila
namun apa itu waras? apa itu gila?
mereka bilang tipis batasnya
cendikiawan berkelakar, itu hanya masalah persepsi
kalau begitu, apakah persepsi menjerat masyarakat mudarat?

apa kau simak ceritaku, kekasih
meski ragamu tak di sini
dan adamu mungkin hanya dalam mimpi?

image, courtesy of djawatempodoeloe.multiply.com

>> Kirana (2)

Membongkar Manipulasi Sejarah: Kontroversi Pelaku dan Peristiwa

6233919
Membongkar Manipulasi Sejarah: Kontroversi Pelaku dan Peristiwa
by Asvi Warman Adam
My rating: 4 of 5 stars

Published: February 2009 by Penerbit Buku Kompas
Binding: Paperback, 257 pages
Setting: Indonesia
isbn: 9797094041 (isbn13: 9789797094041)

Description:

Ketika Orde Baru berakhir, gugatan terhadap sejarah bermunculan. Sejarah pun menjadi polemik karena fakta dan interpretasi selama ini dinilai tidak tepat, tidak lengkap, dan tidak jelas. Manipulasi sejarah dilakukan secara sistematis dan meluas demi kepentingan politik dan kekuasaan.

Mengapa Proklamator Sukarno tidak tampak saat pengibaran bendera Merah Putih 17 Agustus 1945 yang dimuat dalam buku “Pejuang dan Prajurit”? Kemudian, siapa yang melakukan rekayasa dalam buku “Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”, bahwa Sukarno tidak memerlukan Hatta dan Sjahrir, bahkan “peranan Hatta dalam sejarah tidak ada”? Mengapa peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 digambarkan menyanjung Soeharto dan melupakan Sultan Hamengku Buwono IX sebagai konseptor? Bagaimana kisah diorama Monumen Nasional era Orde Baru yang penuh manipulasi sejarah?

Penulis melalui bukunya ini membeberkan kebenaran sejarah secara jujur. Bukan hanya membongkar manipulasi dan rekayasa sejarah Indonesia saja, tetapi juga menampilkan tokoh-tokoh pergerakan dengan kisah yang menyentuh hati. Kisah Agus Salim yang dikatakan menguasai “bahasa kambing dan kuda”. Kisah Mayor John Lie, seorang tokoh etnis Tionghoa, yang berani membersihkan ranjau laut. Juga kisah M.H. Thamrin seorang politikus santun yang “satu napas” dengan Bung Karno.

My review:
Buku ini merupakan kumpulan artikel Dr. Asvi Warman Adam berkaitan dengan manipulasi sejarah bangsa Indonesia. Dibagi dalam empat bagian besar (Nama yang mengukir Indonesia; Kontroversi Sejarah, Gerakan 30 September; Pelurusan Sejarah, Pendidikan Sejarah), berbekalkan wawasan yang luas dan kaya referensi literatur, Dr. Asvi Warman Adam membahas dan membongkar manipulasi sejarah yang terjadi di bangsa ini secara sistematis. Analisis yang tajam, dipaparkan dengan jelas tiap poin-poinnya, membuatnya enak untuk dibaca dan mengajak kita untuk lebih kritis terhadap sejarah. Menurut saya, buku ini tepat sekali untuk dibaca oleh pelajar-pelajar sejarah, baik yang di bangku sekolah (SD, SMP, SMA, kuliah), maupun masyarakat kita sekarang, sebab suka atau tidak suka, kita telah menjadi bagian dari produk sejarah yang dimanipulasi secara sistematis dan menyeluruh oleh rezim yang berkuasa selama 32 tahun.

Kalau dibilang tidak mendalam pembahasannya, rasanya saya kurang setuju, karena sesuai judul bukunya, tujuan buku ini adalah memaparkan argumen kritis terhadap kondisi persejarahan bangsa termasuk literatur yang tersedia. Untuk mengukur cakrawala pengetahuan sejarah, tidaklah cukup hanya dengan membaca satu literatur tetapi juga memperkaya diri dengan sumber-sumber lainnya, sebab sejarah bukanlah ilmu masa lampau semata, melainkan ilmu yang dapat terus diperbaharui seiring dengan penambahan fakta yang ditemukan serta perspektif yang digunakan untuk menilik fakta itu.

Selayang Pandang tentang ‘Kehilangan’

giant floe

giant floe

Ingin itu berbeda-beda bagi tiap insan. Pencapaian ingin orang yang satu akan berbeda dengan yang lain walaupun dari kulitnya, ingin itu bisa tampak mirip dengan orang lain.

Ingin itu irasional, maka ketika satu orang ingin sesuatu, tiada argumen yang bisa patahkan ingin itu.

Namun ketika Tuhan berbisik, siapa pula yang bisa pertahankan ingin itu. Ketika orang berjalan, tiadalah orang lain tahu: apa yang Tuhan bisikkan padanya dan kapan Tuhan berbisik padanya.

Tahu-tahu orang itu sudah lenyap, pergi menempuh jalannya sendiri. Orang-orang, termasuk kita, bisa menamakannya kehilangan, berduka, marah, kecewa, pengkhianatan, dan sebagainya. Akan tetapi ketika sampailah pada visi akhir hidup, kita menyebutnya pengelanaan.

image, courtesy of ice-glaces.ec.gc.ca