Sepucuk Surat untuk Sahabatku

Kala aku merengkuh tidurku, aku teringat padamu, sahabatku. Aku ingat masa-masa kita dulu di sebuah lorong saksi air mata, tangis, bahagia, dan canda kita, saat kita menyambut orang yang lalu lalang dengan salam dan senyum terhangat, saat kita menukar kopi kita, dan saat datangnya seorang adik bagi kebersamaan kita.

Aku ingat, sahabatku, saat itu kita bersama-sama membangun hidup, meletakkan dasar-dasar cinta tanpa nafsu dan prasangka. Kita meniupkan nafas hidup kita pada tiap sisi lorong hingga siapapun yang melintas akan rasakan indahnya keakraban tiga insan dalam tiga tubuh namun satu hatinya. Betapa ajaibnya sebuah persahabatan yang mengakar, seperti sebuah pohon raksasa yang dahan dan akarnya saling menguatkan dari terpaan hujan, badai, dan sengatan matahari yang terkadang ingin mengambil air hidup kita.

Kemudian aku ingat, sahabatku, adik kita menunduk malu kala ia ditiup oleh angin-angin yang iri padanya. Namun kau lihatlah sekarang, sahabatku, ia telah tumbuh seperti batang pohon yang mengakar kokoh, seperti dirimu, sahabatku. Sedangkan aku daun yang melambai-lambai yang ingin mengerti arti kelembutan dan kerasnya hati. Kau adalah akar bagi kami dan inginlah kami selalu bersama denganmu.

Sahabatku, kini walau kita terpisah oleh jarak, tidaklah pernah kulupa kenangan itu. Ah bahkan kenangan bukanlah kata yang tepat ‘tuk gambarkan memori-memori yang hidup, yang disemai, dan dirawat dalam hati hingga tumbuh jadi puncak-puncak syukur. Aku daun yang kering kala itu, sedang menancapkan gairah hidupnya pada sang tanah, agar suatu hari kudapat mengakar kuat seperti dirimu.

Ada kala di mana aku terhimpit dalam embun, panas, dan hujan yang menggoyahkan semangatku, namun ketika kuingat kita, aku ingin kembali bangkit, ingatlahku pada nasihatmu, bahwa segala sesuatu yang dipaksakan tiadakanlah berbuah, segala sesuatu akan indah pada waktunya.

Sahabatku, saat ini aku sedang berjuang dalam keringnya tanah gurun, dan usahaku untuk pertahankan rinai hidupku. Aku tiada lagi hendak mematahkan akarmu dan menyimpannya untuk diriku. Tidak, sahabatku. Kali ini aku ingin berjuang dengan kekuatanku sendiri, sebab tiada kemegahan tanpa kejatuhan, tiada terang tanpa gelap, tiada rimbun tanpa gugur. Hanyalah aku ingin bernostalgia, memutar kembali perjumpaan kita dan perjalanan kita, hingga tiba saatnya kita harus berpisah dan merangkai hidup kita sendiri. Bila saatnya kita bertemu lagi, kuingin kau bangga padaku yang telah tumbuh dari hanya sehelai daun menjadi pohon kecil yang mampu bertahan dengan keras dalam sebuah arti kelembutan hati, ikhlas, dan mampu membagi air hidup bagi adik-adik kita yang lain.

Kuharap doaku sampai padamu, lewat angin yang berbaik hati menawarkan jasanya untuk berbisik padamu, melalui kata yang Tuhan anugerahkan pada tiap ciptaanNya, derita yang mengingatkan kita untuk ikhlas bersabar, dan cinta yang senantiasa menumbuhkan kita. Aku rindu padamu sahabatku. Inginlah aku sampaikan padamu, bahwa rinduku bukanlah rindu yang mengikat janji temu untuk suatu waktu yang pasti, namun rinduku adalah tanda cinta abadi, tanpa tercemar ego, yang selalu kudoakan, dari relung hati yang terdalam. Dan pada adik kita yang tercinta, kuharap engkau selalu menemukan jalan kembali padaNya, dan semailah cinta pada tiap langkah yang kau tempuh.

Salam,

Sahabatmu,

Cinta.

Jakarta, 1 Oktober 2009

Advertisements

2 thoughts on “Sepucuk Surat untuk Sahabatku

  1. ivy_puppy says:

    Wow…
    So nice!!
    Pastinya bahagia py sahabat spt ini…
    jd kangen sama sahabat kecil jg! >,<

    Salam kenal ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s