Kepada yang Terhormat, Indonesia

hari ini sebuah gardu mati
lampu lalu lintas mati
jiwa-jiwa mati
bumi hampir mati

namun hiduplah terus melintas
menyambangi batas-batas cakrawala
menanam gada yang tiada siapa bisa tebak

lamanya sebuah bangsa berdiri
mengayunkan lagu-lagu kebangsaan
hanya pada upacara
suatu kewajiban
bukan lagi nyanyian hati

siapakah kita
yang akhirnya tergerus oleh tanah
dan retaknya jantung pertiwi

hingga manakah kita sanggup bertahan
kemanusiaan ditantang
kita menantang
alam menantang
cinta ikut menantang
ladang kita berteriak
kapankan akan berhenti
haruskah semua diberanguskan oleh murka

kepolosan seorang anak kecil luluh
oleh budaya-budaya bacok membacok
sindir menyindir
tawa nyinyir
pembakaran semangat yang alih-alih membakar emosi belaka
hingga korban bertumpah
seperti seorang pemabuk membuang kulit-kulit kacangnya
ketika menenggak seratus botol bir

lamakah kita terpekur
dalam angan-angan akan datangnya Ratu Adil
yang saban kali diramalkan oleh para peramal mengatasnamakan jubah hitam mengumandangkan Ketuhanan?

saatnya kita lepas dari buaian impian nostalgia masa lalu
kejayaan kita memang ditantang
digdaya kita runtuh
bukankah kita harusnya belajar dari masa lalu untuk masa depan
dan tidak selamanya terjebak pada suatu omong kosong belaka

rakyat menangis
alang-alang menduduki kota
traktor menggilas desa-desa
jutaan jiwa mengadu nasib
berharap akan bawa rejeki untuk sanak saudara
namun kala ia berhadapan dengan nyata
malahlah ia diinisiasi jadi penjahat
pencuri perampok pemerkosa bangsa
dari kalangan yang suci, jadilah kalangan yang terlacur

bapak-bapak dan ibu-ibu yang terhormat
janganlah hanya menyebar janji belaka
memaksa-maksakan diri bermain adegan di depan media massa
supaya kelihatan simpatik namun dalam hati hanya mengutuk
panji-panji partai tanggalkanlah
kami jijik melihat tikus yang menggali lubang-lubang baru di bawah rumah kami

saat ini saudara-saudara kami sedang berduka
tidaklah kami paksa kalian untuk ikut-ikutan berbela sungkawa
hanyalah kami harap sebentuk cinta dan pengertian
bantuan yang walau ala kadarnya
diberi dari tulus hati yang paling dalam

tubuh kami hidup dari materi
namun jiwa kami bergelora oleh rasa

sungguhkah cinta hanya baru tumbuh di kala bencana?

di mana kami anak-anak yang terlupakan
kau taruh ketika bumi sedang bertapa

apakah bumi harus diganyang
untuk kalian menebar cinta di antara kami?

kami bersuara
kami berdoa
bukan untuk mengolok-olok kalian
hanya kami harap kita semua hidup dengan kesadaran
bahwa tiada kamu tanpa kami
tiada kami tanpa kamu
kita semua adalah satu
negara sakti Pancasila
hikmat Bhinneka Tunggal Ika
sebuah bangsa
Indonesia

*untuk Indonesia, tertanggal 1 Oktober 2009, semoga Kesaktian Pancasila bukan buah bibir belaka

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: