suatu pagi di ujung jalan

pagi ini, aku bertemu engkau di ujung jalan.
kau tersenyum dan aku tersenyum.
dalam hitungan detik, kulihat lagi semesta di kepalamu.
luas dan indah.
sungguh mengagumkan, sayangku.
sama seperti saat aku pertama kali bertemu denganmu.
kau menyangga jagad raya di atas kepalamu dan masih bisa tersenyum padaku.

kau tersenyum lagi dan aku tersenyum lagi.
hatiku hangat oleh senyummu, kasihku.
burung-burung muncul dari daun telingamu, berkicau keagungan dan kemegahan dunia. matamu bersinar seperti matahari pagi
pipimu merona bak tanah yang tumbuhkan kehidupan.
dan bibirmu semanis madu bunga yang sedang merekah, memancarkan keharuman abadi.

kau tersenyum lagi dan aku tersenyum lagi.
kita berdua larut dalam senyum.
matamu memandang jauh ke dalam mataku.
mataku memandang jauh ke dalam matamu.
hatimu membaca isi hatiku.
hatiku membaca isi hatimu.
dua insan berbicara lewat batin.

aku heran, cintaku.
sekian lama tak berjumpa, kita masih seperti dulu.
rupanya waktu tak pernah melunturkan asmara kita berdua.
aku bertanya-tanya,
masihkah kemesraan ini bertahan seratus tahun lagi?

Jakarta, 23 Maret 2005

diedit lagi Jakarta, 14 Oktober 2009 atas saran seorang ‘guru’

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: