Watch What You Left Behind – Sebuah Pelajaran dalam Taksi

Leave No Trace

Leave No Trace

Kemarin pagi, saya yang masih kelelahan menyesuaikan diri dengan jam kantor setelah dua bulan menikmati kebebasan, memutuskan untuk memenangkan rasa malas saya dengan lebih royal. Saya sebenarnya bisa saja naik bus namun saya memutuskan untuk menyetop taksi. Sepanjang jalan, sopir taksi yang saya tumpangi cukup ramah. Intinya kami tidak melalui perjalanan di hutan Jakarta nan macet dengan diam dalam arti sibuk dengan diri sendiri dan tenggelam dalam keacuhan. Ternyata inilah awal dari pelajaran hari itu untuk saya dan saya pikir juga bisa untuk teman-teman sekalian di sini.

Ijinkan saya untuk memulai cerita ini, dan bukalah pikiran kalian bebas dari prasangka. Inilah kisah yang hendak saya tuliskan pagi ini.

Seorang penumpang naik taksi. Sepanjang perjalanan, ia sibuk dengan telepon genggamnya, berkasih-kasihan dengan seorang, yang dari suaranya, sepertinya perempuan. Ditilik dari omongannya, mungkin kekasih. Inilah yang sopir taksi itu tuturkan pada saya yang haus cerita, untuk tidak menyebut naluri wartawan infotainment. Diamati dari cermin dan dicuri-curi pandang sedikit, pemuda itu tampak cemas, berkali-kali ia menggoyangkan kakinya, menyeka wajahnya, bermain sisir-sisiran rambut dengan jari-jarinya, mengusap pahanya. Intinya pemuda itu tidak duduk dengan tenang, dan tampak dari gesture nya, ada yang mengganjal pikirannya. Di sampingnya, terletak sebuah buku yang tampak lecek dan diperlakukan asal-asalan. Buku itu letaknya memang dekat dengan sang empu namun posisinya cukup berantakan. Buku ini tampak disusupi oleh sesuatu yang membuatnya lebih tebal dari yang seharusnya.

Setelah bersabar dengan kesemrawutan pelaku lalu lintas Jakarta, akhirnya sampailah sang sopir taksi menunaikan kerjanya. Si pemuda buru-buru menyudahi teleponnya dan hendak keluar. Sesuai prosedur, pak sopir mengingatkan penumpang itu untuk memeriksa kembali barang bawaannya agar jangan sampai tertinggal. Layaknya manusia-manusia ibu kota yang mulai hilang asosiasi antara kata dan perilaku, si pemuda mengiyakan tanpa memandang, menutup pintu taksi, dan melenggang masuk ke sebuah gedung perkantoran. Kenapa saya bilang mulai putus asosiasi? Nyatanya setelah sopir taksi meninggalkan lokasi tersebut, kira-kira setengah jam kemudian, pak sopir iseng menengok ke belakang dan menemukan buku pemuda tersebut di jok belakang tempat pemuda tersebut duduk sebelumnya. Di tengahnya, diselipkan enam keping DVD dengan gambar binatang di covernya. Pak sopir menduga ini mungkin DVD untuk anak-anak, soal binatang. Lalu ia segera menghubungi pool untuk memberitahukan adanya barang yang tertinggal, menjelaskan barang itu sesuai dengan persepsinya supaya si pemilik kalau mencari, bisa langsung diinformasikan oleh pool. Setelah ia meletakkan kembali komunikator radio penghubungnya, pak sopir mengamati cover DVD itu dan segera ia merasa janggal. Cover DVD tersebut dihiasi potret sapi, kuda, dan anjing namun juga disertai perempuan-perempuan besar aset (dada dan paha) hanya mengenakan lingerie.

Tanda tanya itu tidak terjawab sampai saya menyetop taksinya, membuka pintu, duduk, dan mengobrol dengan pak sopir. Dengan semangat, ia menceritakan si pemuda yang gelisah dan DVD yang tertinggal. Mendengar tawa saya, ia merasa inilah kesempatan untuk menjawab tanda tanya besar itu. Ia membuka laci di depan kursi sebelah kirinya, dan menyerahkan buku yang tampak dihamili itu. Saya membuka bagian tengahnya langsung, mengiyakan kejanggalan pada cover DVD tersebut, dan mulai membaca deskripsinya. Oh Tuhan, bukanlah saya ingin menggunakan namaMu sembarangan, bukan apa-apa Tuhan, sebab hanya itulah yang bisa saya katakan menghadapi sederetan kata-kata yang tertulis cilik-cilik di bagian belakang DVD itu.

Kata-kata itu tertulis dalam Bahasa Inggris namun biarlah saya coba menyampaikannya dalam bahasa ibu kita,

“Apa yang lebih menyenangkan daripada bercinta tanpa resiko hamil? Bercinta dengan binatang…”

Saya kaget. Pak sopir panik, cemas membawa DVD itu dalam taksinya. Ia takut kalau disetop dan diperiksa polisi, ia bisa-bisa malah didakwa yang aneh-aneh, sebab sulitlah penegak hukum kita untuk mengenal kebenaran dan dakwaan palsu. Mata mereka dibutakan oleh kepentingan dan apa yang lebih mendidihkan darah daripada bayangan kemaksiatan dan kekerasan? Namun soal keabnormalan dan pesakitan, biarlah saya tinggalkan dulu. Satu hari berlalu, saya masih shock dan mual mengingat kembali kilasan satu pagi kemarin.

Jadi, yang mau saya sampaikan begini..

Jika anda membawa sesuatu, pahamilah apa barang tersebut sampai ke hakikatnya sehingga anda sadar betul keuntungan dan kerugian yang bisa timbul saat barang itu berpindah tangan, baik sengaja ataupun tidak disengaja, baik pihak yang menerima maupun yang kehilangan.

Dear jittery passenger before me, watch what you left behind, you ruined the poor driver’s weekend romantic escapade, and my appetite as a bystander!

Posted also in ngerumpi(dot)com

Advertisements

4 thoughts on “Watch What You Left Behind – Sebuah Pelajaran dalam Taksi

  1. iin says:

    bwahahahhaha ternyata ini lebih paraaaaahhh dibanding handphone ketinggalan di taksi*amit-amit juga sih*.. well at least, kalo Hape ketinggalan, lumayan lah kalo sopirnya baik budi dia jual buat ongkosin sekolah anak2nya.. nah kalo dipidi itu.. humm HARGA DIRI booookk! hahahhaa

    • HAHAHAHAHAHA
      kasian dong sama gue iiiin
      gue sepanjang hari itu cuma bisa bengong, nahan mual :LOL:

      si sopir taksinya bete gitu, dia cerita udah rencanain malam mingguan romantis sama istrinya, moodnya rusak gara2 tuh dipidi

  2. enno says:

    Hah??? Emang bisa sama binatang?? Huek huek huek gw jadi mual jugaaaaaaaa… Ih rasanya pengen kenal deh sama yg punya dipidi hihihihihi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: