mata. mata.

mataku sibuk berputar ke belakang ke depan
bergulat dalam cangkang
merekah bagai bunga di musim semi
menggeliat ke kanan dan ke kiri
menunggu
belaian udara mencuri sedikit air darinya
retakan-retakan merah di atas putihnya
bagai merampok kemurnian telaga
namun tetap ia menanti

bayang di antara kerumunan pasar
pergi melesak
hilang
nampak di belakang penjaja kue senja
lalu lenyap lagi

mataku memohon cahaya Agni
‘tuk hentikan satu detik saja
agar dapat kuambil imaji itu
dan kubawa pulang
kuamat-amati dalam nostalgia
menggambar siluetnya
mengangankan geraknya nafasnya
harapan dan hatinya
lalu akan kuabadikan dia di atas sehelai kertas koran
agar aku terus menebak
bermain potongan puzzle
biar inginku susun dirinya
dengan impian-impian
ditemani secangkir teh dan kue apem kekasihnya

suatu waktu kudengar ia berkata sesuatu dalam sunyi
gerakan tangan mengalun
menarik mataku
hentakkan syaraf
bius nafasku
lalu ia pergi lagi

kupikir ia memanggilku
dan aku pun menjawabnya bisu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: