cinta burung dara

dove

Di suatu pagi, aku kedatangan seekor burung dara yang baru lepas dari sangkarnya. Melihatku sedang menyisir rambutku, ia terbang di hadapanku dan memperdengarkanku kisahnya:

kalau aku cinta monyet
aku tulis di majalah dinding sekolah
akan aku ukir namanya di papan seukuran pintu kelas
dan kulambaikan kala ia bertanding basket
kapanpun itu

namun saat aku benar aku jatuh cinta
tidak ada satupun lalat yang akan mendengar
sebab akan kujaga baik-baik cinta itu
agar cuma jadi milik kami berdua
dan akan kami sebar anak-anak cinta kami
dengan sabar, ikhlas, dan mendengar
supaya orang lain juga rasakan hangatnya cinta
tanpa perlu suburkan industri infotainment
yang lesu oleh rekayasa
cerai hamil nikah selingkuh cinta lokasi

maka jangan bertanya mengapa kami menikah
karena tanpa basa basi kami mencinta

Lalu ia pergi begitu saja, tanpa sempat aku sampaikan rasa ingin tahuku, akan kisah siapakah itu sesungguhnya. Apakah ia curi dengar diriku dan dindingku, suamiku dan wanita-wanitanya? Sungguhlah itu hanya suatu sudut pandang naif dari kemudaanku kala itu.

Ah suamiku, ternyata terlalu royal ia membagi cinta hingga cinta-cinta itu berserakan di jalan, menunggu yang akan menyapunya di pagi hari. Kala ia merebahkan dirinya di sampingku, cintanya habis teronggok di tepi jalan. Penuh surat penolakan di sakunya, ia meraung-raung di pelukanku yang dingin. Awalnya kubelai rambutnya, kukecup keningnya, dan membasuhnya dengan air dan kehangatan cinta. Namun lama-lama aku lelah dan bosan, sebab ia mengambil cintaku lalu boroslah ia mengumbar cinta itu.

Kukatakan padanya suatu malam, “Mas, aku bukan pabrik cinta.”

“Tapi aku ingin cinta. Aku butuh cinta.”

“Aku tahu. Kau pikir aku tidak butuh cinta? Cari saja cintamu di tempat lain.”

“Tidak mau, aku inginnya punyamu.”

Aku menghela nafas, mencoba menyabar-nyabarkan diri. Suamiku, seperti apa adanya kunikahi, dan haruslah kutanggung keputusan itu.

“Baiklah. Kau hanya ingin cinta dariku, tapi aku mulai kehabisan cinta. Bagaimana kalau aku mencari persediaan cinta di tempat lain, supaya aku bisa tetap menyuplai cinta untukmu.”

Ia terdiam, menyenderkan tubuhnya ke dinding kamar kami. Kulihat pemandangan yang sungguh kontras dan sedikit menggelikan. Di atas kepalanya tergantung foto perkawinan kami, aku mengenakan tank top dan celana kulit hitam, rambut acak-acakan, sementara ia mengenakan jas dan kemeja putih, corsage mawar merah disematkan di dada kirinya, segalanya serba bersih, serba klimis, kinclong bak bintang iklan pasta gigi. Ia masih sama seperti yang dulu, hanya saja dulu ia bertubuh ramping seutas ijuk namun sekarang ia bak karung goni yang ditumpuk-tumpuk di gudang hingga sesak dan hampir menjebol pintunya. Lalu aku hitung satu dua tiga. Ah benar saja, ia mulai mengadu tulang belakang kepalanya ke dinding. Kucoba hitung ketukannya, ah staccato!

“Oops gawat,ternyata cintaku memang sudah habis,” bisikku pada diri sendiri. Tergelak oleh pikiranku sendiri, aku mati-matian menahan otot wajahku. Bak seorang istri dalam pajangan opera sabun, aku berusaha tersenyum. Walau senyumku tak menentramkan batin, setidaknya senyum itu tidak boleh melecehkan. Aku bertanya lagi, “Bagaimana, suami? Deal or no deal?”

Satu dua tiga empat lima. “Biarlah kupikir-pikir dulu.” Lalu ia menghambur ke kamar mandi sambil membawa radio compoku, membanting pintu. Satu dua tiga,

All by myself
Don’t wanna be
All by myself
Anymore

Lantunan Celine Dion menyelusup ke telingaku yang lelah, diiringi dengan nada-nada sepi dan isak tangis dari bocah kemarin sore. Melihat semuanya ini, aku sudah biasa. Menelan pemandangan ini, aku lakukan secara rutin. Namun hari ini berbeda, sungguh membuat diriku sendiri kagum. Untuk pertama kalinya, aku utarakan keinginanku. Selama tiga tahun, aku menunggu keberanianku tiba, untuk melanggar nasehat ibuku yang bertalu-talu kala aku ingin memercikkan bubur arang di wajah suamiku. Yah kali ini aku menanti. Suamiku tak pernah tahan akan kesendirian. Katanya sendiri membuka bilur-bilur di hatinya dan kerutan di wajahnya. Ia tak pernah ingin sedih, maka ia tak akan pernah mau sendiri. Di rumah, di kantor, di hotel, di jalan, atau di mana saja, ia akan menarik, menggoda, dan kalau perlu membayar cinta yang akan usir sepi hatinya. Kemudian aku membatin, apalah arti limabelas menit dibanding tiga tahun penantian.

Sepuluh menit kemudian, kudengar pintu berderit. Wajahnya menyembul dari sela-sela pintu, bibirnya merengek, namun matanya menguat-nguatkan posturnya yang pernah kugilai dan ingin kucium-ciumi setiap detiknya.

“Baiklah. Asal kau bisa menjamin aku tak akan tahu dari mana asal cinta-cinta itu kau curi.”

Aku terpana melihat suamiku. Kupikir aku akan senang mendengarnya namun tak kusangka, aku malah jijik dengannya, dengan keberadaanku, dengan pernikahanku, dengan cinta yang kuperkosa bak seorang penulis yang ingin menulis kembali dongeng Cinderella untuk membela posisi Ibu Tiri yang tersudutkan. Namun, aku perempuan yang setia dengan kata-kata walau tidak pada cinta.

“Aku setuju. Aku rasa itu adil.”

Mendengar jawabanku, ia membuka pintu kamar itu, merentangkan tangannya, memintaku untuk merengkuhnya dalam pelukanku. Namun aku terpaku. Rasanya aliran darah di tubuhku berhenti, dan seluruh tubuhku kesemutan. Tak sabar, ia menghampirku dan mendaratkan pelukannya padaku, namun aku tak membalas, aku tak sanggup. Cintaku sudah habis, moralku habis, namun aku tak boleh kehilangan diri. Tuhan melahirkan aku dengan kedirianku, maka itulah hal yang paling harus kupertahankan, walau aku harus bertaruh nyawa dan rasa, agar ketika aku menghadapNya, aku dapat mengembalikan diriku kembali seutuhnya.

Oleh karenanya, kukumpulkan segenap tekad untuk jadi kekuatanku, “Dan aku akan pergi mencuri cinta itu sekarang. Empat hari lagi, akan kau terima bagian cintaku untukmu. Cinta yang akan membuatmu paham satu jalan tertutup, jalan lain harus kau buka. Aku akan terbang seperti burung dara, menjemput kebebasanku kembali dan mungkin memulai lagi cinta dari awal, dengan titik asa dan jiwa baru.”

Ia melepaskan pelukannya, menyentuh bahuku, mengelus pipiku. Matanya bertanya seakan meminta penjelasan namun tak tahu memulai dari mana.

“Apa kau akan pergi sekarang dan baru kembali empat hari lagi?”

Aku menghela nafas, menghimpun segenap emosiku agar kata-kataku tidak membakar kerapuhannya. Ia yang pernah kucinta, haruslah kusejukkan dengan apa yang kupunya, meski telah tak bersisa.

“Aku telah pergi bertahun-tahun yang lalu, pagi ini seekor burung dara menjemputku, dan malam ini aku pulang kembali. Dan empat hari lagi (kutahan senyum yang ingin meregangkan bibirku), kita bercerai.”

image, courtesy of http://www.blangkonbirdfarm.co.cc

Advertisements

7 thoughts on “cinta burung dara

  1. wongiseng says:

    Cerita tragis yang keren 🙂

  2. Riana says:

    Hi, kunjungan balik.
    Sepertinya pilu sekali cerita ini?
    Aku kusimpan untuk kubaca nanti sore, ditemani bagea’ kenari untuk melerai pilunya.
    Salam kenal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: