Kirana (2)

Suatu kali yang dikira-kira ini, aku mengintipnya sedang menenun sutra yang dititipkan oleh seorang petani dalam persimpangan hidupnya dan aku mendengarnya menangis. Sela-sela benang itu mengurai matanya, basahi kembali suatu pengelanaan di antara kotak-kotak pengampunan. Ia menahan jawabnya di ujung rindu. Lama ia menatap ke dinding merah itu, dan ia lukiskan sebuah potret perempuan dengan melodi-melodi kasihnya.

“Kutuliskan dalam kitab hidupku,
kau bercerita soal kegundahanmu
dan gelapmu terhimpit kegilaan dunia
Jawab apa yang kau ingin, kekasih?
Tak bisalah aku tahu
karena aku pun terjebak dalam permainannya
bermain prinsip seperti mengadu dadu
sudah tak kukenal lagi batas malu ataupun kemaluan

Gilanya aku dengar dirimu kekasih
Kau membakar lilin malam
Menyenandungkan kehadiranku
Puaskan duka
Namun mengapa, di saat aku hendak merengkuhmu dalam pelukku,
kau khianati aku dalam mimpi
nodai kisah kita dengan laku ragumu
sedang aku di sini berkali-kali menanti
Kirana, kapan kau palingkan kembali syahdumu padaku?
Mari kita menjamu kasih, mengolah rindu
kau aku kekasih, punyaku, milikmu, dan bukan numpang lewat.”

>> Kirana (3)
<< Kirana (1)

bird-silhouette-470
image, courtesy of http://www.roadsidescholar.com

Advertisements

7 thoughts on “Kirana (2)

  1. wongiseng says:

    Laku ragu malah merusak ya ? Padahal katanya, lupa siapa yg bilang: The funniest thing about love is that you never can tell if it is love – Until you start to doubt it 😀

    • bukan merusak sih, tepatnya memilukan hati. misalnya ketika kita sungguh mencintai seseorang, dan orang itu meragukan cinta kita, rasanya sakit, seperti dikhianati.:)

      wah menarik tuh, you never can tell if it’s love – until you start to doubt it?, maksudnya gimana mbah?

  2. wongiseng says:

    Kayanya itu ngomongin masalah selewat fase kasmaran. Kalo waktu sedang kasmaran total, ndak mungkin ada doubt, tapi sedang ada dalam kondisi mabuk.

    Kalo udah kesadaran kembali, baru mulai bertanya-tanya dan mulai kerasa mana yang beneran love, mana yang lagi mabuk.

  3. wongiseng says:

    Fase kasmaran itu penting dan perlu di lewati, baru berlanjut ke bagian yang repot 😀 Jadi tugas rutin untuk menjaga dan merawat. Copas ya, ini dari The Road Less Travelled, buku bekas yg saya beli di pasar loak beberapa taun lalu :

    Once through the cathexis stage, the work of love begins. It is not a feeling. It consists of what you do for another person. As Peck says in The Road Less Traveled, “Love is as love does.” It is about giving the other person what they need to grow. It is about truly knowing and understanding them.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: