Bangsa Pocong: Religiositas yang Disalahkaprahkan

56585433Lahir dan dibesarkan di negeri Zamrud Khatulistiwa ini, saya cukup paham dan meresapi bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa dengan tradisi religius yang kuat. Masih tersisa jejak animisme dan dinamisme dalam aliran kepercayaan yang dianut beberapa suku di Indonesia. Dayak dengan Kaharingan, Jawa dengan Kejawen, suku Arso di Papua yang mendasarkan religinya pada penghormatan nenek moyang, dan sebagainya. Bahkan dalam dasar negara kita, Ketuhanan yang Maha Esa dianggap sila yang mendasari sila-sila lainnya sehingga founding fathers kita meletakkannya pada sila yang pertama.

Ketuhanan pun dianggap sebagai sumber hidup jantung Indonesia, berdetak ke seluruh aspek hidup bangsa. Ketika terjadi bencana berkali-kali, tidak sedikit orang yang menganggap bahwa bencana itu adalah murka Tuhan. Di youtube serta berbagai jejaring sosial, tersebar video-video dan informasi simpang siur mengenai kapan hari kiamat. Hal ini sebenarnya membuat saya bertanya-tanya. Kalau bangsa kita ini adalah bangsa yang berTuhan, seharusnya kita tahu bahwa tidak ada yang tahu kapan kiamat selain Tuhan karena Tuhanlah yang menentukan hari penghakiman itu. Kemudian saya berpikir, apakah hal ini merupakan indikasi tentang menyimpangnya pengertian akan iman pada Tuhan? Apakah Ketuhanan itu terlalu diresapi sehingga bangsa kita lupa untuk mundur selangkah hanya untuk mengevaluasi apa yang sebenarnya dimaksud dengan Ketuhanan dalam hidup pribadi, bermasyarakat, dan berbangsa?

Pagi ini, saya menggaruk-garuk kepala walaupun kepala saya tidak gatal. Sebabnya, saya menonton acara berita di sebuah stasiun televisi swasta nasional. Di situ, sedang diliput sebuah berita tentang kesurupan mahasiswa di tengah demonstrasi. Setelah membaca headline berita itu, diperlihatkan polisi sedang sibuk menangani korban yang katanya kesurupan. Ah, melihat berita itu di layar televisi saya, saya benar-benar miris. Bukannya saya menyangkal adanya fenomena kesurupan, yang saya persoalkan adalah penitikberatan berita. Dari headline berita itu, seakan-akan kesurupan adalah berita utama sedangkan demonstrasi mahasiswa hanyalah latar belakangnya. Setelah era televisi diserbu acara memburu hantu, apakah acara berita juga harus mengikuti pola mistisisme yang salah kaprah ini?

Iseng-iseng saya berpikir, apa maksud stasiun televisi ini? Apakah ia ingin mengusulkan pada polisi untuk kursus ilmu mengusir setan? Iseng-iseng saya membayangkan pasukan bhayangkara beranak divisi pengusiran setan, dipimpin oleh Dukun Anu. Aih lucunya… membayangkan satgas dilatih oleh dukun-dukun. :p Lalu saya ingat juga, beberapa waktu yang lalu, seorang pejabat yang didakwa melakukan penipuan, mengatakan pada media bahwa ia bersedia untuk melakukan sumpah pocong untuk meyakinkan orang-orang bahwa ia tidak bersalah. Di Madura pun, kejadian serupa tapi tak sama pernah terjadi. Sepasang suami istri lepas dari tuduhan dan kembali mendapatkan kepercayaan masyarakat karena mereka bersedia melakukan sumpah pocong. Ah apakah seseorang bisa lepas dari dakwaan, hanya dengan sumpah pocong, yang dianggap efektif untuk membungkam tuduhan dengan premis “kalau ia bersalah dan di dunia tidak terhukum, akhirat akan menegakkan keadilan”? Saya ngeri membayangkannya. Betapa banyak oportunis di negara kita yang akan memanfaatkan celah “hukum” ini, melakukan lebih banyak penindasan dan ketidakadilan. Jika kebusukannya diendus masyarakat, langsung melakukan sumpah pocong dan masyarakat akan “memaafkan”. Kalau begini kejadiannya, saya tidak heran jika nanti-nantinya bangsa Indonesia akan bermutasi jadi bangsa pocong.

Saya pikir, urusan politik, hukum, kenegaraan, dan sebagainya, janganlah Tuhan terlalu sering dibawa. Takutnya kita kecele, kelilipan sampai-sampai ‘setan’ koruptor dikira Tuhan. Bukannya saya tidak percaya pada sila pertama Pancasila itu. Namun kata-kata manusia sering berbelit oleh kepentingan pribadi, apalagi kaum oportunis jagonya memanfaatkan celah distorsi pemahaman sok religius yang salah kaprah. Oleh karena itu, daripada kita heboh tentang kapan kiamat akan tiba, lebih baik kita memberesi kesembronoan negara kita. Nantinya ketika bangsa kita menghadap Tuhan, kita tidak dikemplang olehNya gara-gara kita terlalu sering meng-abuse Tuhan sebagai jargon keroposnya bangsa kita.

image, courtesy of http://www.indonesiaindonesia.com

Posted also in Ngerumpi and Politikana

Advertisements

9 thoughts on “Bangsa Pocong: Religiositas yang Disalahkaprahkan

  1. Kiamat? Berapa kali remalan manusia meleset. Tetapi kalau malapetaka mahaburook, karena kesembronoan manusia dalam skala yang besar, saya percaya.

    Soal membawa-bawa Tuhan? Yah begitulah cara mereduksi Tuhan. Ada bencana alam dibilang bahwa Tuhan lagi marah. 🙂

  2. ada mengecilkan Tuhan dengan memanusiakan Tuhan, mereka-reka sifat manusia ini ada juga pada Tuhan.

    soal berita-berita? hmmm….makin lama saya kok kecewa, bukan karena yang diberitakan kabar buruk, tapi pemberitaannya yang bagi saya ndak layak disebut berita.

  3. ah ada yang kurang, maksud saya, ada usaha untuk mengecilkan Tuhan dengan mecoba me-manusia-kan Tuhan.

  4. wongiseng says:

    Abis liat video ini: http://video.vivanews.com/read/6532-alasan_polri_tahan_bibit_dan_chandra

    Saya langsung inget tulisan bangsa pocong mu. Judulnya lasan menahan, tapi kalimat pertama setelah menjelaskan kami akan menggunakan hak menahan adalah:

    “Insya Allah yang kami lakukan jangan di kait-kaitkan dengan dengan dendam kriminalisasi Kami pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan”

    Setelah menyatakan menahan langsung defensif dan menyatakan bertanggung jawab di hadapan Tuhan.

    • ahahahha (ketawa miris)

      kira2 malaikat Tuhan bilang apa ya?
      ‘Aih cape deeeeee…’

      😀

    • memang ada andil Tuhan dalam setiap langkah, bahkan tarikan napas kita, tapi bukan berarti kita berhak membawa-bawa nama-Nya, pertanggungjawaban kepada Tuhan itu pasti akan ditagih nanti, tapi jangan lupakan pertanggungjawaban kepada sesama.

      saya khawatir nanti ujung-ujungnya mereka berkilah, meminta maaf karena mereka juga cuma manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa, hahahaha…. 😀

      • “bukan berarti kita berhak membawa-bawa nama-Nya, pertanggungjawaban kepada Tuhan itu pasti akan ditagih nanti, tapi jangan lupakan pertanggungjawaban kepada sesama.”
        –> setuju sekali

        sebagai manusia, secara garis besar kita punya dua tanggung jawab
        yang pertama, kepada Kanjeng Gusti
        yang kedua, kepada sesama manusia, yang sebenarnya juga adalah amanah dari Kanjeng Gusti

        jadi kalau pertanggungjawaban pada sesama dikangkangi, dan Kanjeng Gusti dijadikan merk untuk melegalkan segala penyelewengan; saya yang sok tahu, sok menghitung ini, berkesimpulan kalau dosanya itu dua tingkat. dan bahkan bukan cuma dobel, jangan-jangan… “berapa lapis? ratusan”

        (gile ye gue korban iklan sekaligus budak iklan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: