Monthly Archives: November 2009

You Jump, I Jump

Beberapa hari yang lalu, saya, diiming-imingi segepok foto dan sejumput mabuk malam, akhirnya setuju menemani teman saya dengan gandengan barunya. Sebut saja nama teman saya Lidi, dan pacarnya Ludo. Kencan kesekian kalinya setelah melewati periode ragu, nggerundel, dan tebak-tebakan. Walaupun harus siap-siap jadi nyamuk, godaannya (baca: foto dan mabuk) terlalu besar. Maka, berangkatlah saya menuju tempat hangout di jantung ibukota yang (ngakunya) lifestyle center.

Lovebirds flying, flocking, singing in the sky, never weary.

Ludo: “Mau di mana?”

Lidi: “Terserah, aku ikut aja.”

Lidi (ke saya): “Mending biar dia yang ngatur. Soalnya dia yang rempong. Kita tahu beres aja.”

Saya (mengangguk): “Setuju.”

Akhirnya kami duduk di sebuah lounge di tepi jendela, menikmati lanskap lalu lintas Jakarta, ditemani segelas mojito beer, wine, dan secangkir teh untuk teman saya yang sakit perut. Awal-awalnya, pembicaraan dibuka dengan sesi curhat. Sudah pasti topiknya tentang saya. Kalau teman saya yang curhat, ada pacarnya. Kurang asik. Yang begitu itu biarlah jadi pembicaraan kami di kamar mandi. What’s in Bali stays in Bali. What’s in the ladies room, stays there, until further notice. 🙂 Bisa saja sih, mereka berdua yang curhat, but then again I’m not a marriage consultant. On that part, I suck like everybody else. There you go.

Ludo: Apa hal yang paling kamu takutkan? What’s your biggest fear?

Lidi: Hah? He’s being so serious again. Ya udah, kamu dulu aja.

Ludo: Kecoak.

Lidi: Gubraks.

Ludo: Iya, kalau tikus, cicak, gak papa. Tapi kalau kecoak, hiy, aku bisa kabur.

Lidi: Kupikir apa yang serius.

Ludo: Jadi kalau ada tikus, cicak, aku yang usir. Kalau kecoak, kamu ya.

Lidi (making funny face): Aaaahhh dia lucu banget yaaa….

VOICE OVER (me in my head almost choked): Seeing a future of marriage life.

Ludo (ke saya): So apa ketakutan terbesar kamu?

Saya (spontan): Komitmen

Ludo: Kamu takut komitmennya atau takut putusnya?

Saya (berpikir): Hm…. Putusnya mungkin. Pas harus ngelepas, itu yang berat. Gimana nerimanya. When we welcome someone, we have to be ready also to let go. When we say hi, we must be ready to say goodbye.

Lidi (bengong, and yes dear, your face was so funny :D)

Ludo: That’s right. Itu gak bisa dilepasin. It comes in one package. Walaupun begitu, putus itu bukan sesuatu yang harus dipersiapin dari jauh-jauh hari kan, soalnya kalau begitu, nanti jatuhnya itung-itungan, gak tulus lagi.

Saya: Yah… Begitulah

Ludo: How do you define love? What does love mean to you?

Lidi (cengok, menggeleng-geleng)

Saya: Aduh berat banget pertanyaannya. Hm… I guess… hm… (damned, susah banget!) At the end of the day, after working in the office, while sipping my tea or coffee on weekends, I do feel something’s missing. Maybe that part is love. Aku kangen momen-momen jatuh cinta, think about the person I love, call him just to say I love you, etc. Aku kangen romansanya, tapi sebenarnya yang paling mendasar, I do miss love.

Ludo: Do you agree that love is precious?

Saya: Yes, I do. Bahkan kupikir orang-orang melakukan sesuatu karena ingin mencari cinta. Love is the ulterior motive. It doesn’t have to be love between men and women, but love in general, friendship, parenthood, etc.

Lidi (bengong): So…?

Saya: You jump.

Ludo: Yup, just experience that. Jump! Kalau kamu menyerah sama rasa takut kamu, bukan cuma kehilangan momen, tapi kamu kehilangan hidup. You’ll miss life.

Tiba-tiba saya teringat sebuah dialog di film yang dulu saya sumpah-sumpahi cheesy kelas berat. Ternyata, film yang dilansir sebagai salah satu film sepanjang masa ini punya makna yang ingin ditawarkan, makna universal mendasar namun sering dilecehkan oleh seorang skeptis dan sarkastik seperti saya.

Jack: No, let me try and get this out. You’re ama- I’m not an idiot, I know how the world works. I’ve got ten bucks in my pocket, I have no-nothing to offer you and I know that. I understand. But I’m too involved now. You jump, I jump remember? I can’t turn away without knowing you’ll be all right… That’s all I want.
(Titanic, 1997)

Setelah itu, saya ‘dimarahi’ kecil-kecilan oleh Lidi di ladies room. Tersipu malu tapi sok marah, it’s so you, Lidi. 😀 Saya cuma bisa nyengir dan menjawab, “That’s the conversation over alcohol, and not tea.” Saya ingat sekali wajah teman saya yang cengok, merah biru ungu. Buru-buru saya ambil langkah seribu, menyelamatkan diri. But you still love me, don’t you dear? 😀

Posted also in Ngerumpi

Advertisements
Tagged , , , ,

malam, jangan kau menangis

mencintai laksana biru menggelora dasar samudera
mendera kasih, mengikat pedih

malam, kau berbisik padaku dalam tidur
menangis menahan beban matahari dan awan
menerpa hamparan padang pasir
berkelana mencari oase kidung perjalanan dan harapan

malam, janganlah kau menggores luka di hatimu
amarah dendam dan kecewa bukanlah kesalahan
dambamu ingin mengungkap sebab kekosongan
bagai senja melukis semburat jingga dalam lembayung sendu

aku mengerti, kekasih
kau merindu bulan pelabuhan sukma

namun bukankah kau menyimpan terang mentari di balik saku bajumu?
bulan ingin kau rasakan
bahwa ia telah menunggumu menyingkap tirai waktu
berkejar-kejaran dengan lolongan sunyi
penjaga gerbang hidup

maka kekasih, ijinkanlah aku berlayar dalam samudera perhelatan kelahiranku
mewujud janji, menabur bunga-bunga perdamaian
mengayun bersama aliran hidup, menikahi bahagia
melindungi langit, sumpah setia, cinta dan harapan

Tagged , , , , , ,

Belajar dari “Patch Adams”

Berdasarkan kisah nyata, film ini bercerita tentang Hunter “Patch” Adams, seorang mahasiswa kedokteran yang berusaha mencerahkan dunia kedokteran yang “dingin”. Dokter-dokter yang kaku dan acuh tak acuh menggelitik Patch. Kebanyakan dokter hanya peduli dengan penyakit pasien. Menurut Patch, paham ini harus ditinggalkan. Arti sehat bukan hanya semata-mata bebas dari penyakit, melainkan juga kepenuhan atau kesejahteraan secara fisik, mental, dan sosial (WHO dalam Pyke, 1968). Seharusnya dokter tidak hanya merawat penyakit, tetapi juga pasiennya. Apabila dokter memperhatikan aspek psikologis pasien, semangat hidup pasien akan timbul dan pasien akan lebih memperhatikan kesehatannya. Hal inilah yang mendorong Patch menggunakan metode “humor – humanisme”. Ia berusaha membuat pasiennya senang dan nyaman.

Dalam bukunya, House Calls, Adams mengatakan bahwa tujuan pertama yang harus dicapai setiap kali ada pasien yang datang adalah menjalin persahabatan. Pertemuan pertama bisa berlangsung antara 3 – 4 jam. “We might go for a walk. If you like to fish, maybe we will go fishing. If you like to run, we run together, and I’ll interview you while we are running. By the end of that time, I hope we have a trust, a friendship starting to develop, and from there we can proceed.” Mitch Roman, rekan Patch yang menentang pendekatan Patch, merasa frustrasi. Walaupun pengetahuan dan keahliannya menyembuhkan penyakit tidak diragukan, ia tidak dapat membuat pasiennya makan.

Saya ingat dengan adegan ketika Patch, untuk pertama kalinya, ke rumah sakit yang dikelola kampusnya. Saat itu Patch dan temannya menyusup di antara mahasiswa kedokteran yang sedang melakukan kunjungan. Di depan mereka, seorang perempuan, yang kakinya hampir busuk akibat diabetes, sedang terbaring. Mahasiswa-mahasiswa kedokteran itu sibuk bertanya tentang penyakitnya kepada dokter senior. Perempuan tersebut tampak bingung, seolah bertanya “Apakah yang kalian pedulikan hanya penyakitku?” Berbeda dengan yang lainnya, Patch malah menanyakan namanya. Setelah itu, pasien tersebut tersenyum, seperti mengucap terima kasih, “akhirnya ada orang yang benar-benar peduli pada saya”. Secara pribadi, adegan ini paling menyentuh saya. Hal kecil, seperti menanyakan nama, ternyata dapat membuat pasien merasa senang. Pasien tidak selalu hanya butuh janji apakah ia akan sehat. Sebuah perhatian dapat membuat harinya lebih cerah.

Kritik kedua Patch terhadap dunia kedokteran adalah anggapan bahwa kematian adalah musuh yang harus dikalahkan. Kalah dan menang dokter ditentukan dari keberhasilannya menyembuhkan penyakit. Sedangkan Patch menganggap kematian sebagai hal yang tidak perlu ditakuti karena kematian merupakan proses alami dalam kehidupan. Manusia pada akhirnya akan mati. “Why can’t we treat death with a certain amount of humanity and dignity, and decency, and God forbid, maybe even humor.” (“Patch Adams”, 1998). Apabila dokter memfokuskan dirinya untuk merawat pasien, tidak akan ada kekalahan.

Kematian merupakan proses yang menakutkan. Pasien-pasien, terutama dalam kasus penyakit terminal, seringkali stres karenanya. Kadangkala pasien ini butuh membicarakan kematian dengan seseorang. Dalam film ini, ada seorang pasien bernama Bill Davis yang perangainya sangat buruk. Ia sering mengusir dokter dan perawat yang berkunjung ke kamarnya. Pada awalnya, Patch juga ditolaknya. Akan tetapi, ketika Patch mengajak Bill untuk membicarakan kematian, Bill merespon dengan cukup baik. Sejak saat itu, Bill mau menjalani perawatan dengan baik. Ini merupakan adegan kedua yang paling berkesan untuk saya. Patch berani mengambil resiko membicarakan topik yang dianggap paling tabu untuk dibicarakan dengan seorang pasien. Ternyata itulah yang dibutukan oleh pasien.

Dalam film ini, Patch juga mengritik biaya rumah sakit yang terlalu mahal. Rumah sakit telah melupakan aspek kemanusiaan dan lebih mementingkan uang. Seorang ibu, yang anaknya baru meninggal, tidak boleh menengok anaknya sebelum menandatangani formulir. Keadaan seperti ini membuat masyarakat ragu untuk datang ke rumah sakit. Melihat keadaan ini, Patch mendirikan Gesundheit dimana pasien yang datang tidak perlu memusingkan soal biaya.

“All of life is a coming home” (“Patch Adams”, 1998). Semua orang mencari rumah dalam perjalanan hidupnya. Tempat yang terbaik adalah rumah. Mengambil filosofi ini, Gesundheit dikondisikan seperti rumah. Orang-orang di dalamnya seperti keluarga. Masing-masing orang di sana, termasuk pasien, diwajibkan untuk saling merawat satu sama lain, seperti memasak, mengganti perban, ataupun mendengarkan keluh kesah. Semua orang saling membantu untuk meredakan “badai” dalam hati mereka.

Secara keseluruhan, film ini ingin mengajak pelaku dunia pelayanan kesehatan untuk kembali kepada akarnya, yaitu untuk membantu orang. Akan tetapi film ini masih menyisakan pertanyaan dalam realitanya. Dalam dunia pelayanan kesehatan Indonesia, seringkali terdengar keluhan pelayanan rumah sakit yang kurang bermutu dan tidak profesional, atau kurang empati dalam melakukan program pelayanan kesehatan terutama di rumah sakit. Semoga saja pemerintah dan pelaku pelayanan kesehatan Indonesia mempunyai semangat seperti Patch yang senantiasa setia membantu orang lain dengan senyum dan harapan.

Tagged , , , , ,

nostalgia biru.

melalui sepi aku berdiri
menatap dinding penciptaan
duka mendayu, langit syahdu
membalut luka memori nostalgia masa kecil

kau aku mengayuh sepeda bersama
bertukar koran, bertukar cerita
bertukar asa, bertukar rasa
mengukir kisah, melawat waktu

kau menjawab cinta, aku mencari danau
kita tuliskan sajak harapan kita di atas sehelai daun lontar
prasasti murni rasa, cipta sejarah
menjelajah sungai, mengusap langit
bertakhta diamuk ombak samudera

sampailah tutup masa mengadu
berbagi pada anak cucu
tentang kisah prajurit dan kaptennya
merundung duka, membasuh sepi
merangkum doa, merajut bahagia

Tagged , , , , ,

berawal dari tanah, berakhir debu.

berawal dari tanah, berakhir debu
menimbun ingin, buru cemburu
lintasan menangkis, hati berduka
murka dan akhir, bahagia dan awal.


image, courtesy of gettyimages.com

Tagged , , , , ,

luka.

menghimpun luka menjamu asmara
langkah pergi menahan rindu
buket di hati, selamat tinggal
biru dan hitam, cakrawala duka
cerita sepasang anak manusia,
singkap tirai jumpa

“kukira, malam
kau sungguh terluka.”


image, courtesy of gettyimages.com

Tagged , , , ,

Sekilas tentang Ikhlas

Ikhlas, kata yang akrab di telinga dan lidah, namun belum tentu dekat di hati. Ikhlas, kata yang simpel namun memiliki makna yang mengakar dalam hati, dalam jiwa, dari detik penciptaan dan perjalanan hidup kita. Ikhlas, mudah untuk diucapkan, namun seringkali manusia sulit untuk melakukannya, entah karena alasan apapun: ingin dan ego.

Dalam hidup, seringkali segala sesuatu tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita. Lumrah saja bila kita meneropong hidup dari kacamata yang lebih luas. Manusia hidup tidak sendiri. Hal ini bukan berarti pencapaian keinginan adalah hasil kompromi dengan manusia lain, namun berkaitan dengan rencana yang telah Kanjeng Gusti atur untuk kita, atau meminjam istilah dari sekolah kehidupan, garis besar kurikulum pengajaran. Tentunya tidaklah saklek bagi kita, tidak seperti robot. Manusia masih punya hak untuk memilih: menolak atau menjalani.

Misalnya seperti di sekolah, kita merasa sudah belajar mati-matian namun tahu-tahunya nilai kita masih merah. Apa yang terjadi? Seharusnya kita dapat nilai yang lebih bagus, seharusnya kerja keras kita berbuah hasil yang pantas.

Kita bisa saja menyalahkan guru kita, menuduh bahwa ia tidak adil, dan sebagainya. Lalu kita menolak untuk mengikuti kelasnya, menolak untuk belajar. Namun apakah hal itu dapat membuat kita jadi lebih pintar?

Jangan-jangan aksi protes kita alih-alih malah merugikan diri sendiri. Ternyata setelah dievaluasi, cara belajar kita yang salah. Misalnya, bagaimana pelajaran bisa dipahami dengan baik kalau cara belajar kita sistem kebut semalam? Bagaimana kita bisa konsentrasi belajar kalau sebentar-sebentar Blackberry berbunyi dan kita selalu gatal untuk menjawab?

Ketika hubungan saya dengan mantan kekasih berakhir, saya tidak rela. Bagaimana mungkin saya menerima akhir hubungan itu begitu saja? Sudah banyak yang telah saya investasikan dalam hubungan ini: harapan, impian, perasaan, dan pengorbanan.

Awal hubungan kami, dapat dikatakan, tidak berjalan dengan mulus, sandungan kekasih masa lalu masih membayangi hubungan kami. Ketika hubungan itu mulai memasuki tahap yang lebih serius, kami pun dibayangi dengan keraguan akan masa depan dan rasa tidak percaya diri. Namun karena kami saling menyayangi dan perasaan itu telah tumbuh begitu kuat, kami bertahan, meski saya tidak mengerti mengapa kedamaian tidak kami rasakan.

Saat bertemu dengannya, saya merasa bahagia namun saat kami tidak dapat bertemu, saya takut kehilangan. Ketika bertemu dengannya, saya pun sangat mengontrol diri saya karena saya takut berbuat “salah” sehingga momen bahagia yang jarang itu pun rusak. Begitupun ia. Dengan caranya sendiri, ia berusaha untuk membahagiakan saya meski ia sendiri merasakan kejanggalan. I love you but something doesn’t feel right.

Putus sambung jadi makanan bulanan kami. Berkali-kali kata itu terucap, namun berkali-kali pula kami menarik keputusan itu karena perasaan rindu dan takut kehilangan.

Ketika putus itu benar-benar final, saya depresi. Bagaimana mungkin hubungan yang telah saya bangun dengan susah payah, dengan pengorbanan yang begitu besar, saya biarkan berakhir begitu saja? Saya menyalahkan awal perjumpaan kami, mengapa kami menjalin hubungan kalau hanya untuk hasil akhir yang sia-sia, menyalahkan sahabat yang senantiasa memberi saran pada saya untuk berani mengutarakan perasaan hati meski bertentangan dengan keinginan (mantan) kekasih saya, tak kurang juga menyalahkan Tuhan yang (waktu itu) saya vonis telah menyeret saya dalam hubungan yang menyedihkan sekaligus melelahkan ini.

Saya marah, saya sedih, saya tidak rela, saya kecewa. Semakin saya memikirkannya dan menyadari bahwa waktu tak bisa diputar kembali, saya putus asa. Saya menutup pintu hati saya, menyeret diri dalam kepahitan dan sarkasme akan kebahagiaan sejati. Saya pesimistis dan menertawakan setiap cerita bahagia orang lain sebab saat itu saya yakin bahwa kebahagiaan itu seperti sepuntung rokok yang dibakar. Lama-lama habis, berubah menjadi abu, ditinggalkan, dan dilupakan.

Namun semakin saya tenggelam dalam kepedihan, semakin saya marah, saya merasa suatu suara jauh dalam hati saya, memanggil saya, mengusap hati saya yang dirundung kegelapan, berbisik pada saya untuk bangkit, berjalan kembali menuju Cahaya.

Saat itu saya teringat ucapan sahabat saya,

“Ketika kamu merasa sepi, rasakanlah. Ketika kamu sedih, rasakanlah. Ketika kamu menyesal, rasakanlah. Jangan kau tolak, sebab dengan begitu, akan kamu rasakan indahnya sepi, sedih, dan sesal.”

Waktu ia mengatakan hal itu pada saya, saya hanya mengangguk-ngangguk pada nasehat yang terdengar idealis dan tidak masuk akal. Namun ketika Tuhan memanggil, siapa yang bisa menolak? Kita adalah bagian dari zat-Nya, kita yang pergi, akhirnya pun akan kembali pada-Nya dengan cara-cara yang misterius dan tidak terduga oleh akal manusia.

Ia berbisik, “Jadilah ikhlas, anak-Ku.” Bukan dengan kepasrahan pasif, melainkan menerima dengan sepenuh hati dan rasa syukur. Menikmati aliran hidup dan ayunannya.

Perlahan seiring waktu, saya mulai melihat, meninjau, dan mengevaluasi kembali dengan ikhlas hati. Saya dan dia, dalam perjalanan hidup kami, dipertemukan, diijinkan untuk beriring bersama, saling mengenal, dan membuka rahasia hati masing-masing. Dalam proses itu, ada kasih, ada pembelajaran, baik mengenai pasangan maupun tentang diri sendiri. Ia bercerita pada saya tentang dunianya dan begitupun saya, berbagi pemikiran, berbagi perasaan. Indah rasa bahagia itu, indah pula rasa rindu, sepi, sedih, dan sesal.

Saya pun sadar bahwa saya tidak mungkin berada di tempat saya sekarang tanpa ia pernah hadir dalam hidup saya. Contoh kecil, saya tidak mungkin berani bermimpi menjadi penulis kalau bukan ia yang mendorong saya terus-menerus. Saya tidak mungkin bekerja di industri saya sekarang jika ia tidak mengenalkan dunia ini pada saya. Contoh besarnya, saya tidak mungkin mengenal diri saya dengan lebih baik seperti sekarang jika tidak melalui hubungan dengannya. Mengutip Paulo Coelho, “kesulitan” (difficulty) adalah “alat” yang teruji “turun-temurun” bagi manusia untuk mengenal dirinya. Saya pun bersyukur atas segala hal yang telah Tuhan ijinkan untuk saya alami.

Tentunya ikhlas tidak terjadi dalam semalam. Butuh proses. Bukan waktu yang paling dibutuhkan, melainkan sikap hati dan kesadaran, bahwa kita adalah bagian dari-Nya, jatuh bangun kita selalu disertai oleh-Nya, dan di balik kekelaman sekalipun, berkat menunggu untuk kita singkap.


Jakarta, 25 November 2009

Canting Candrakirana

Posted also in Ngerumpi

Tagged , , , , , , ,

Dream shall forever be my treasure

My desire drifts away but dream shall forever be my treasure as it takes me further from where I am now, travels time and place, beating despair and “truth” trap.

Tagged , ,

derap puisi

musik mengalun, iringi detik adegan perjumpaan
kala matahari bersinar, kita pun menabur benih di peraduan Dewi Sri
sedang tertidur pulas mendengar ucap hati
mengandung puisi, melukis samudra, mewarnai angin
mengisi nafas, membungkam udara, menjelajah atmosfer
merindu awan, hujan, dan persatuan

saat matahari pulang ke ufuk senja,
aroma setanggi bius imaji
goda gelora hati ‘tuk bermimpi tentang sekotak nada yang kau sisipkan di balik telingaku

musik pun mengalun lagi
menghentak sukma, memanggil hati yang gelisah
menggelitik lara, membalut luka lalu
mengayuh bulan, malam yang menyapa
sepi penjaga gerbang Firdaus

cinta dan sepuntung rokok

Siapa berkata: mencinta bagai menarik sepuntung rokok dan menghembuskannya ke udara? Mungkin udara akan mengerti, jika cinta terus-menerus dibakar oleh cemburu dan amarah, maka cinta itu akan seperti sepuntung rokok yang telah berubah jadi abu, ditinggalkan dan dilupakan.


image, courtesy of http://www.allamericanpatriots.com

Tagged , , ,