[petak umpet di bus kota]

duduk di bus kota
aku mengenangmu

takdir rupanya suka main mata
kulihat tawa-tawa kecil kita
cubitan mesra
gerutumu manismu
pongahmu dan aku yang menggeleng-geleng
ada di dia, di mereka, di dia, di orang itu
laki-laki di depanku, perempuan di belakangku

lama kubiarkan takdir merengek-rengek
menyeretku untuk membalas ajakannya

kuberi permen,
ia merengut
kubelikan susu,
ia emoh, takut gemuk protesnya
kuselipkan gulali jembut nenek
apalagi, mimpi buruk ia bilang
kupetikkan mawar,
“memangnya aku banci opera sabun!”, teriaknya
kuajak nonton TV
ia melengos, menginjak jempol kakiku
(sampai lebam)
kutanya, “uang?”
“aku bukan buaya!”
alamak! kali ini ia menamparku!

matahari terbit
langit pun meronta
amarah Agni menyelusupi tiap sisi kota
kota semakin sempit
sabarku kian tipis

sebelum aku turun,
ia menarik ujung bajuku
dan memelas
“aku cuma ingin dibacakan cerita, Bunda”

ah aku menyerah

ternyata aliran waktu tak sanggup menahan ombak rindu!

Advertisements

8 thoughts on “[petak umpet di bus kota]

  1. gulali jembut nenek? wujudnya seperti apa ya? 😀

  2. Pakde Cholik says:

    Unik puisinya karena ada jembut nenek-ini istilah daerah mana ya ?
    Saya catat sebagi peserta
    Terima kasih atas perhatiannya
    Salam hangat dari Surabaya

  3. ramudeng says:

    Puisinya bercerita,keren mbak. Salam kenal

  4. Juri PPC says:

    juri sedang berkunjung dan wowww, puisinya mengagumkan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: