Melankoli Rinai Hujan

Pernah dengar atau mengalami keajaiban hujan? Di tengah terik panas menyerang, hujan bagai penghibur. Kala kesibukan menguasai hari-hari kita, hujan membujuk kita untuk berhenti dan menyempatkan diri melongok ke jendela, hati kita pun mengagumi setiap titik yang jatuh walau rasio kita menyuruh kita untuk was-was akan bahaya macet dan banjir. Hujan mengguyur, memberi hidup pada makhluk dan semesta. Saat hujan, kita pun berefleksi, menengok bagian dalam diri yang sering kita lupakan: keindahan nuansa romansa. Bunga-bunga kenangan merekah dan kita pun mengagumi alunan musik scene-scene memori kita.

Sedari kecil sampai sekarang, saya selalu suka hujan. Gemuruh awan, langit abu-abu, air yang jatuh ke bumi, aroma tanah dimandikan hujan, semuanya selaras. Saya pun diam sejenak, menikmati lanskap itu sambil ditemani secangkir teh hangat. Tak lupa secarik kertas dan sebatang pensil agar dapatlah saya abadikan dalam kata-kata terbatas dan perasaan yang tak berbatas.

Menurut saya, hujan, walau bagaimanapun, adalah anugerah Sang Pencipta untuk kita, untuk mengingat bahwa keindahan diriNya tersembunyi dalam diri kita, menunggu untuk kita sadari dan rasakan. Maka ijinkanlah saya untuk berbagi sedikit cerita kasih saya dan hujan, menyentuh titik melankoli dan syukur.

 

——-

rain drops, love falls from the sky

rain drops,
as love falls from the sky

sleep soundly in our heart
wiping tears in our eyes
whispering “hello” at the first wake
caressing our soul
burning our passion on every kiss and touch
then on our departure day, she closes her eyes
saying “let love be your compass”

Jakarta, 5 Desember 2009

 

 

Beneath The Gray Sky

I always love rainy season: the romantic mist and nostalgic feeling of my childhood.

At this moment, as James Joyce might say, “In the virgin womb of imagination, the word was made flesh.”

I write, weep, dance but never I’ve been weary. This is the season of union, the collision of what is right or wrong, what is believed and discreetly disdained.

As I strolled on my way home, I realized how God blessed me dear, healing my wound, lifting me up, and letting me have a grasp of Eden’s breath.

The gray sky asked me tenderly, “Do you love, my friend?”

And I said, “Yes. I do love, and I love to say I love you because I’m thankful for what I’ve had.”

Then she whispered to me triumphantly about the day she was bored in the womb of the Divine Imagination.

I inhaled every memory and listened to her song, saying hello to the wind, smiling to the cloud, weaving my way to The Path Beyond The Light as this day I was reborn again.

I remembered how I never said goodbye when I walked away because I didn’t know that I had done it after I set foot at new path, new place, new home. How magnifying the sky had led me, in the breadth of the insensible.

Time passed by and abode when the dance of fate met her partner. Her gentle touch slowly cleared my vision in the thick mist of love. Then suddenly it hit me: I’m paler by the night but brighter with joy.

Jakarta, 18 November 2009

 


Pagi itu

Pagi itu bunga meranggas akarnya
Lembaran daun hening dalam peraduan
memeluk ibu yang sepi menghanyut
semarak hilir angin menjamu
menanti hujan janji
gugur romansa Jakarta

Jakarta, 4 November 2009

 

 

Potret di Balik Tirai Hujan

(1)
mendung hipnotisku untuk kembali mengingat setiap inci tubuh putih ringkihnya dan bibirnya yang berbisik tentang masa kecilnya: pencarian telor asin di kampung halamannya dan ibunya yang terbang merengkuhnya agar ia kembali.

rambutnya panjang bergelombang tersibak oleh cahaya lampu; dengan cahaya itu, ia tangkap imajiku, hatiku, dan jiwaku. (Kau pegang cahaya itu dan kau perintahkan untuk terangi mataku; sejak kapankah kau ukir bayang namamu dalam hatiku?)

(2)
dalam hujan, kau mendekapku dalam-dalam. tanganmu menyibak rambutku; sebentar aku mengingatmu di balik panggung itu, kau mengagungkan sederhananya kaos hitammu yang lusuh, dengan semangatmu yang berkobar; namun ke manakah optimismu, kau tukarkah dengan puing-puing cemas masa depan rumah kita?

dalam hujan, kau bisikkan lagi padaku, betapa kau hilang percaya pada Tuhan dan semestaNya; aku menyurukkan kepalaku dalam-dalam ke dadamu, hilang kata karena kurasa cinta Tuhan dalam dirimu, kekasihku; marahmu keringkan air pengharapanku; kehilangan bukan saat yang kuinginkan kala itu.

(3)
hujan makin deras; nafasmu menderas dalam bibirku. aku melirik celana jeans mu di sudut sana; tak ada bedanya aku dan dirimu, potongan jeans di pinggulmu dan pinggulku, beriring nada-nada Jack Johnson di pantai pelesir gairah kita. (sejenak sebelum kau tiba, aku intip pelataran rumahmu yang gersang, mobil biru minimu, gerbang rumahmu yang kau titipkan kuncinya padaku, dan aku ingat saat-saat aku mengurus makan dan tidurmu kala kita berdua sakit perut makan kepiting banjir).

hujan makin deras, aroma tanah yang dikecupnya menyelusupi jendela rumahmu; kau mengerang bahagia, dan kau katakan surgamu ada di sini, dalam saat-saat pertautan ini; aku hanya tersenyum, betapa perjalanan mengantar kita pada Firdaus imaji ini, pada persatuan abadi Adam dan Hawa.

(4)
langit berhenti mengurai air mata bahagianya; kau tertidur dalam pelukanku, sementara aku berdoa agar kau dan aku dihantarkan berlutut padaNya agar kita kembali (lagi) menari di Firdaus kita.

untuk aku dan dia tiga tahun yang lalu

Jakarta, 4 Oktober 2009

 

Canting Candrakirana

Jakarta, 5 Desember 2009

 

Posted also here

Advertisements
Tagged , , , ,

4 thoughts on “Melankoli Rinai Hujan

  1. bibir malam says:

    puisinya asyik……;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: