Monthly Archives: October 2010

Transforming The Experience: An Idea to Save Jiffest

“Since its first inception in 1999, JIFFest played a pivotal role in bringing back filmgoing audiences to cinema after a long hiatus of Indonesian cinema in the 1990s. Consistently, JIFFest has brought out international films of reputable quality that mostly are not screened in regular theatres. Up to 2009, JIFFest has been attended by more than 350,000 audiences, and has screened almost 1,500 films from around 40 countries.”

Jiffest, salah satu ajang yang saya tunggu-tunggu setiap tahun, karena berbeda dengan film-film mainstream yang disajikan di bioskop, Jiffest menyajikan film-film berkualitas dari berbagai negara. Dan “Mannen Som Elsket Yngve” (The Man Who Loved Yngve), salah satu film Norwegia yang diputar Jiffest, menjadi salah satu film favorit saya, dan mungkin tidak akan saya ketahui keberadaannya kalau tidak ada Jiffest.

Namun beberapa minggu yang lalu, saya mendengar kasak kusuk seputar Jiffest di Twitter. Kata-katanya Jiffest terancam batal! Alasannya, kurang lebih lagu lama bagi penyelenggara festival atau pertunjukan seni, kurang dana. 1.5 milyar rupiah. Dan apabila Jiffest tidak berhasil mengumpulkan 1 milyar rupiah sampai 1 November 2010, Jiffest batal.

Kaget? Pastinya. Tweeps di timeline saya sibuk membicarakan persoalan ini. Mengapa hal ini bisa terjadi? Dan apa langkah yang harus diambil? Salah satu dari mereka melemparkan ‘tantangan’ ke tweeps lain:

“Coba bikin strategi supaya JiFFest akhirnya cukup dana buat jalan tahun ini.” (@sillysampi)

Tantangan yang menggelitik. Pertama, karena saya suka tantangan. Kedua, karena saya punya kepentingan emosional yang cukup kuat dengan Jiffest. Saya tidak mau Jiffest sampai batal dan saya mau berkontribusi untuk “menyelamatkan” Jiffest.

Cara pertama yang terbersit di pikiran saya (dan rupanya panitia Jiffest) adalah mengajak para pendukung Jiffest untuk menyumbang. Saat ini gerakan “Save Jiffest” merambah twitter timeline saya. Namun deadline semakin dekat, dan dana umlah yang terkumpul, walaupun banyak, namun masih jauh dari jumlah 1 miliar rupiah.

Source: http://2008.jiffest.org/savejiffest/

Gerakan “Save Jiffest” ini sedikit banyak mengingatkan saya pada gerakan Koin Prita. Prita, seorang ibu rumah tangga, mengeluh tentang pelayanan sebuah rumah sakit ternama di sebuah milis. Beberapa lama kemudian, ia tiba-tiba dituntut oleh rumah sakit tersebut atas tuduhan mencemarkan nama baik dan dituntut204 juta. Kaum netters Indonesia pun langsung bereaksi dan mencetuskan gerakan pengumpulan koin sebagai dukungan untuk Prita.

Koin, dalam hal ini, berperan sebagai simbol dukungan rakyat terhadap sesama mereka yang ditindas (Prita) oleh “tirani” (pihak rumah sakit). Apa yang terjadi pada Prita bisa juga terjadi pada saya (yang juga adalah rakyat biasa). Apa jadinya kalau saya, apabila karena sedang berdiskusi tentang pelayanan restoran yang buruk dengan teman, saya tiba-tiba dituntut oleh pihak restoran? Menurut saya, hal inilah yang menyebabkan publik, dari anak-anak kantor saya selebritis, guru, anak-anak sampai pemulung sampah, turut mengirimkan koin-koin ini sebagai bentuk dukungan pada Prita sampai akhirnya terkumpul dana melebihi jumlah tuntutan rumah sakit tersebut.  Sementara dalam Jiffest, hot button ini tidak ada. Mengandalkan “Save Jiffest” sebagai satu-satunya cara mungkin bukan jalan keluarnya.

Ada cara lain, lewat tiket. Saya ingat, waktu itu, @sillysampi bertanya pada tweeps, berapa harga termahal yang rela tweeps keluarkan untuk tiket Jiffest. Mungkin jawabannya beraneka ragam. Ada yang menjawab Rp 50,000 (seperti harga tiket bioskop di hari Sabtu/Minggu) dan ada juga yang menjawab Rp 100,000. Tiket Jiffest biasanya dijual dengan harga di bawah harga tiket bioskop biasa. Dan tantangannya adalah bagaimana kita dapat membuat orang rela membayar lebih, bahkan mungkin sampai di atas harga tiket bioskop biasa.

Selain bagus atau tidaknya sebuah film, penonton bioskop menilai apakah pengeluaran mereka untuk tiket worth it atau tidak, lewat pengalaman. Harga tiket di XXI lebih mahal daripada harga tiket di 21. Penonton dapat “mengerti” hal ini karena pengalaman yang disajikan di kedua bioskop itu berbeda. Di XXI, misalnya tempat duduknya lebih nyaman, interior design yang memberikan kesan luks, dibandingkan dengan 21. Oleh karena itu, transformasi pengalaman menonton dapat menjadi faktor kunci untuk menjawab pertanyaan “What’s in it for them?” (thanks for suggesting this @sillysampi)

Biasanya ketika datang ke Jiffest, orang datang, nonton, pulang. Kadang-kadang ada sesi tanya jawab dengan kelompok pembuat filmnya (sutradara, penulis naskah, aktor/aktris) namun secara garis besar, pengalamannya mirip dengan menonton film secara biasa. Padahal Jiffest bukan festival biasa. Jiffest menyajikan film-film berkualitas yang berbeda. Bisakah kita ubah pengalaman menonton Jiffest menjadi lebih dari sekedar datang, nonton, pulang?

Secara umum, siapakah penonton setia Jiffest? Dari yang saya amati (termasuk saya sendiri), we are people who pride themselves as being the true movie buff. Bosan dengan film-film yang didikte stereotype pasar, mereka menginginkan film-film yang tidak sekedar menghibur, tetapi juga menawarkan cara pandang baru, dari segi artistik film itu sendiri maupun pesannya. Dan Jiffest menjawab kebutuhan mereka dimana film-film berkualitas yang berbeda, “underground”, yang (umumnya) belum diketahui banyak orang, diputar untuk ditonton bersama-sama dengan orang-orang yang memiliki “aspirasi” yang sama.

“Cerita” ini mengingatkan saya pada “Dead Poets Society”. Jalan ceritanya secara singkat kira-kira begini. Ada sebuah sekolah ternama yang didikte oleh sistem yang kaku. Suatu hari datanglah seorang guru sastra membawa metode yang berbeda di kelasnya, menawarkan cara pandang baru yang berbeda. Bagi murid-murid tersebut, hal ini telah ditunggu-tunggu selama ini. Akhirnya terinspirasi dengan guru tersebut, beberapa dari mereka diam-diam menghidupkan kembali literary club “Dead Poets Society”. Setiap malam, mereka berkumpul di gua di sekolah mereka, membaca dan saling berdiskusi.  Does the script sound similar to us?

Jiffest lovers. Different, certainly not mainstream, we are the underground secret society of movie buffs. Dan menurut saya, atribut ini dapat kita angkat untuk menciptakan pengalaman menonton Jiffest yang berbeda: the experience of the underground secret world.

Transformasi pengalaman ini bisa dilakukan sebelum acara, pada hari H dan bahkan setelah acara.  Untuk yang sebelum acara, kita bisa membangun interest orang-orang, misalnya dengan merahasiakan nama sebuah film yang akan diputar. Bermain dengan rasa penasaran, yang akan kita perlihatkan hanya hints tentang film tersebut. Mungkin kita bisa menggunakan twitter untuk memberikan hints atau teka teki ini. Lalu orang-orang yang tertarik dipersilakan untuk membeli tiket.

Mungkin di tiket tersebut juga bisa dicantumkan password. Dan nantinya pada saat hari H, selain memperlihatkan tiket, penonton diminta untuk menyebut password tersebut sebelum memasuki teater.(seperti halnya di film-film, kalau kita ingin masuk ke ruangan perkumpulan rahasia, penjaga pintu akan meminta password untuk verifikasi apakah benar kita anggota perkumpulan itu). Selain itu, kita dapat meminta penonton untuk menebak apa kira-kira judul film itu dengan mengirim tweet (tentunya mentioning Jiffest twitter account). Penonton yang menebak dengan tepat, akan mendapatkan hadiah seusai pemutaran film.

Pada saat hari H,  dekorasi atau suasana juga dibangun merefleksikan nuansa underground secret society. Misalnya, ruangan teater dapat dibiarkan gelap walaupun film belum diputar.  Panitia Jiffest dapat menggunakan senter untuk mengarahkan penonton ke tempat duduknya masing-masing. Dan sesaat sebelum acara, mungkin MC dapat membuka sesi, berinteraksi dengan penonton, misalnya apa yang mereka pikirkan, rasakan.

Apabila tim pembuat film (sutradara, penulis skenario, aktor/aktris, dan sebagainya) dapat hadir, selain sesi tanya jawab seusai pemutaran film, para pemenang kuis dapat berdiskusi dengan mereka secara personal, misalnya makan bersama, dan sebagainya. Saya rasa ini adalah hadiah yang berharga bagi penonton Jiffest, the ‘true’ movie buffs. Dan kesempatan memenangkan hadiah ini bisa juga dikomunikasikan pada tahap sebelum acara untuk menambah interest orang-orang terhadap acara ini.

Dan setelah pemutaran film, sebagai kelanjutan dari underground secret society experience untuk membangun loyalty, penonton dapat diberikan badge yang merepresentasikan kebanggaan mereka sebagai the ‘true’ movie buffs. Bisa berupa pin atau member card beserta privileges untuk lebih cepat mendapatkan info tentang Jiffest tahun depan, dan sebagainya.

Yang saya tuliskan di atas hanyalah rough idea. Terlepas dari apakah ide ini dapat dipakai, harus dialterasi, ataupun dirombak total, post ini adalah doa saya untuk Jiffest agar Jiffest bisa terlaksana tahun ini dan tahun-tahun berikutnya. Amin. 🙂

Advertisements
Tagged , ,

Marriage. Having family.

Marriage. People say, it’s a next step in one’s life. After you ride on a journey with yourself for years, now you share that journey with your partner in a legal way. Declared. Registered. Celebrated.

Two of my colleagues recently got married. And both of them (with their own spouses) seemed very happy. Glowy face (uhm), laughter, and stories (sometimes the story became too intimate and I had to tell them to stop it).

Me? I never thought the idea of marriage seriously. My imagination went only as far as it went: the party. How will I design the party? Hm.. Having a party in the beach, wearing lightweight flowy white dress, bare feet, and barely no make up. It will be a private party inviting only closest friends and families. and the guests will all wear beach attires, a bunch of people having cozy conversations while enjoying the sea breeze. After that, I went blank.

‘Normally’, people will aim for procreation. However I dread to think of having kids. I consider myself as too selfish to raise a little human being who will demand most of my time and energy, physically and emotionally. I used to think that marriage was a waste of time, but now I think, although for me, it sounds dreadful, there are some of my friends who see it as their aspiration. The idea of being together and raising family with their spouses make them happy. Some of them say, it is a commitment for love, for happiness, and for sadness to be happiness.

Yesterday as I silently observed moms talking about how hard it is to raise a kid, to make sure that they eat well, study hard, etc. It not only consumes mom’s time, but their personal space as well, out of love. But, despite of it, they seemed very happy when they talked about it. Dealing with their tantrum, feeding, teaching, worrying,  etc. are just some of the lists. Then, maybe, when one has kid and raises kid, that person will learn the true unselfish love.

For my friends who just got married or are about to be, congratulation. Hope you can really understand, master, and live the unselfish love. And don’t forget to cc me in your e-mail to universe, so I can also learn a little about that side of life: how to love unselfishly.

 

P.S.: I still find this song cheesy and overpromise. Maybe you can help me unlock the reason why this song is said to be one of the greatest songs of all time?

Tagged , ,