I mirror you or you mirror me?

Entah kenapa malam ini gue kepikiran soal mirroring. Dulu pas gue aktif berteater di SMA gue, salah satu latihan yang lumayan sering dilakukan adalah ‘mirroring’, tujuannya untuk melatih seberapa ‘sensitif’ dan cepat kita bereaksi terhadap suatu stimulus. Latihan ini dilakukan berpasangan. Misalnya, gue sama temen gue. Ketika gue jadi orangnya, temen gue (pura-puranya) jadi bayangan di cermin. Pas gue garuk pantat, temen gue harus ikut garuk pantat dengan gerakan dan ekspresi yang persis sama gue. Nanti gantian, gue jadi bayangan di cermin, temen gue jadi orangnya. Kalau temen gue ngupil, gue juga harus mengupil dengan gerakan dan ekspresi yang persis sama gue. Makin mirip, makin dinilai bagus.

Begitu gue masuk kuliah, gue belajar bahwa ternyata mirroring juga dilakukan dalam interaksi sehari-hari. Mirroring akan semakin intens, ketika dua orang atau lebih punya level interaksi yang intens pula. Misalnya ketika gue lagi sering-seringnya meeting dengan Managing Director gue, gue pun ga sengaja pick up kebiasaan dia menjawab sesuatu yang membingungkan dengan ‘sound effect’, “e um” (nada tinggi di suku kata pertama, terus turun di suku kata kedua) pada saat berinteraksi dengan dia. Saking seringnya mendengar itu, kebiasaan itu mulai gue internalisasi. Sampai sekarang, gue masih berusaha melawan dorongan untuk melakukan ‘sound effect’ itu hanya karena gue ga mau keliatan plagiat. Ya iyalah, walaupun penelitian bilang sebenernya kita itu ga seunik yang kita pikir, orang tetap pengen menganggap dirinya unik. :p

Sebenernya mirroring ini juga berguna lho. Di mata kuliah teknik konseling, gue belajar bahwa mirroring itu bisa membantu orang lain untuk lebih membuka diri (kalau di kuliah, istilahnya membangun rapport). Bisa mirroring senyumnya, mirroring posisi duduknya atau mirroring sebagian kata atau istilah yang digunakan oleh klien. Konselor dianjurkan mirroring untuk memberikan kesan bahwa ada ‘kesamaan’ antara konselor dan klien yang menunjukkan bahwa konselor bisa memahami klien. Harapannya adalah klien bisa menjadi lebih nyaman untuk sharing dengan konselor.

Seiring dengan waktu yang diikuti dengan berbagai pengalaman, gue menyadari bahwa mirroring itu ga terjadi cuma di permukaannya aja (meniru gerakan, nada suara, etc.), tapi juga terjadi di level psikologis yang lebih dalam, terutama dengan orang yang punya hubungan sangat dekat dengan gue. Misalnya, ketika gue pacaran dengan seseorang, sebutlah namanya Nicholas Sa…*eh* (ngarep aje lu!), gue mengadopsi selera musik, tipe bacaan bahkan cara berpikir dan perasaannya. Walaupun gue merasa bahwa ada hal-hal dari dia yang membuat gue upgraded, ada konsekuensi negatifnya juga. Misalnya, ketika dia lagi sering-seringnya frustrasi dan pesimis terhadap sesuatu, gue juga cenderung mirroring perasaannya dan menginternalisasinya. Bawaannya ketika ada masalah, gue juga ikut pesimis.

Pertanyaan berikutnya… Dia mirroring gue ga yah? Flashback lagi, dia lebih intens mirroring gue pas lagi fase PDKT *ihiy!*. Setelah ‘dapet’, malah gue yang lebih intens mirroring dia. Apa yang menyebabkan perubahan itu? Kalau gue pikir-pikir, mungkin persepsi siapa yang butuh siapa kali yah (the perception of who holds the power). Waktu PDKT, dia punya niat untuk menjadikan gue pacarnya sehingga ‘approval’ dari gue itu penting. Tapi pas pacaran, masalah terjadi yang menjadikan gue ada di fase ‘gue ga mau kehilangan dia’. Posisinya berubah, gue yang butuh ‘approval’ dari dia. Dia pelaku aktifnya, gue bayangan di cermin.

Gue inget temen gue pernah bilang bahwa kalau cari pacar itu sebaiknya yang sudah mapan dalam kariernya soalnya kalau bermasalah, dia akan uring-uringan dan akhirnya akan bikin dia uring-uringan juga. (Ada benernya sih, tapi gak saklek lho… Belum tentu pacarnya mapan, hubungan pasti mulus. Ini cuma satu faktor di antara sekian faktor yang berkontribusi ke hubungan pacaran yang sehat.)

Lalu gue mikir apa kalau hubungan pacarannya sehat (posisi ‘power’ nya seimbang – ga ada yang merasa lebih inferior), mirroring nya cenderung jadi seimbang (ganti-gantian) dan akhirnya membuat masing-masing pihak menginternalisasi perilaku/cara berpikir pasangannya yang berakibat baik untuk setiap pihak? Atau… Justru tingkat kemiripan perilaku dan cara berpikir sedari awal yang membuat lebih besar kemungkinan hubungan pacarannya sehat? Ini teka-teki yang sampai sekarang gue belom tau jawabannya. Atau yang merasa (pernah) punya hubungan pacaran yang sehat, bisa sharing?

Last but not least… Gue pikir, mau pacaran, mau temenan, mau kerja bareng, mirroring itu mungkin susah dihindari (dan kita melakukannya tanpa sadar) soalnya manusia punya kebutuhan untuk ‘diterima’ lingkungan.Tapi, untuk menghindari mirroring yang terlalu intens atau yang berefek negatif, menurut gue, self-esteem adalah kuncinya. At the risk of sounding too generic, setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, misalnya walaupun gue ga bisa ngelucu setingkat Tukul (dan comedian manapun), gue bisa ngakalin internet blackberry gue (misalnya dengan nge-twit marah-marah ke telco provider). Nda’ ndeso, gitu lho.

Advertisements
Tagged , ,

2 thoughts on “I mirror you or you mirror me?

  1. introvertina says:

    Makanya PDKT terus aaajjjaaaahh cyyynn…hahahahaha…biar dia yang mirroring ke kita khan…

    Btw..ganti gaya nulis luuu??? Selain ganti kelamin mungkin? ;p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: