Category Archives: Ngerumpi

Blooming Valentine

Saya akhirnya kembali lagi di sini. Menatap layar komputer dengan pikiran melayang, perasaan melambung. Ah bohong deh. Bilang saja saya kurang kerjaan. Tumpukan project sudah selesai dari seminggu yang lalu. Alhasil saya kembali jadi anggota perkumpulan MAGABUT.

Biasanya kalau kerjaan sudah kelar, fokus kembali ke diri sendiri toh, termasuk sampah-sampahnya. Namun bedanya, sekarang saya perhatikan, kok di sampah-sampahnya malah tumbuh tunas bunga baru? Yak, ternyata setelah dua puluh empat tahun melanglang buana di dunia ini, saya sadar bahwa saya telah banyak berubah. Sudah tidak terlalu cengeng (kadang-kadang masihlah, namanya juga manusia). Masih pendek sih tapi herannya saya sudah tidak sesinis dulu. Kalau dulu saya percaya bahwa Valentine itu cuma akal-akalan orang marketing, sekarang saya paling tidak bersedia mengakui bahwa Valentine itu indah, tidak hanya buat kaum kapitalis tetapi juga buat orang-orang yang merasakan cinta. Cinta memang sudah seharusnya dirasakan setiap hari, namun tidak ada salahnya toh kita sekali-sekali berpesta untuk cinta?

Apa ini karena saya sedang jatuh cinta? Ya tidak juga. Maksud saya, cinta dalam arti yang sehakikatnya. Cinta Tuhan, cinta orangtua, cinta saudara, cinta teman, cinta sesama. Tidak perlu cinta eros, cinta-cinta itu sudah nyetrum kok. Hanya saja karena kita dianugerahi cinta-cinta itu semenjak kita ada, kita lupa. Padahal cinta yang berharga itu apa sih? Saya juga bingung, tapi kemarin malam, saya menonton sebuah film di HBO, Nights In Rodanthe, dan saya merasa seperti tersetrum mendengar potongan dialog ini,

“But there’s another kind of love, Amanda. One that gives you the courage to be better than you are, not less than you are. One that makes you feel that anything is possible. I want you to know that you could have that. I want you to hold out for it.”

Film ini memang film romansa, namun pesan di dialog ini begitu indah. Cinta yang membuat kita berani untuk menjadi lebih baik, yang membuat kita merasa segalanya mungkin. Tidakkah cinta saudara dan teman membuat kita merasa dipahami? Tidakkah cinta orangtua membuat kita bertumbuh? Tidakkah cinta Tuhan memberi kita kekuatan, inspirasi, dan anugerah tiada batasnya? Tidakkah cinta sesama membuat kita merasakan cinta Tuhan yang begitu besar?

Oleh karena itu, ingin saya dedikasikan bulan cinta ini pada teman-teman semua, saudara, keluarga, dan terutama untuk Tuhan. Semoga hati kita dapat semakin merekah, merasakan berkat Tuhan dan keindahan dalam anugerah terindah yang Tuhan berikan pada kita, C I N T A. I love you all. 🙂

image, courtesy of fineartamerica.com

Posted also here

Tagged , , , ,

Journey to The Center of 2009 (in brief)

Opening the gate of 2010, most people reflect on what have they achieved and what happened in 2009. Then they joyfully enter the new gate with hope that everything will be alright, that joy and luck will stay with them always.

The year of 2009, well, to be honest, I’m not good at remembering details, but one thing for sure, I do remember what I’ve learned and accomplished this year, in general.

1. Enlisting myself as capitalism slave and I love it. It is time to give back. I have been a faithful shopper and now I’m in the process of learning how to make people shop more. At the same time, I also shop more. Capitalism should thank a diligent student like me. 😀

2. Learning to accept and let go. We cannot always have what we want because perhaps, what we want is not what’s best for us. When we are subdued by our desire, our eyes are blind and we feel misery when we don’t get it. However, later on, we might realize that we should be thankful that we don’t get it. This is a lesson that we can read but we cannot acquire unless we experience it firsthand. That’s what I learn so far.

3. Learning to get to know people more and their hidden motives, learning how to distinguish real friends and real predators. 😀
Real friends wish the best for all of us, whereas real predators pose themselves as friends to prey on you while you’re off-guard. Despite all that mess, on 2009, I met some new friends and I’m grateful to know them. 🙂

4. Writing more, sharing more. On 2009, I began to write more often, practise more. Then my friend recommended me to join Ngerumpi where all the people there share their writing and give feedback on each other. They’ve inspired me to write and to learn each and everyday. By the beginning of 2010, one of my article will have been published along with other bloggers in Ngerumpi, “Berbagi cinta, berbagi cerita” (Sharing Love, Sharing Stories). Thank you guys! 🙂

Conclusion:
2009 has been a wonderful year to me and I’m thankful that God has given me opportunity to experience it all. I believe that the journey has just been started. I can’t wait to see the next chapter!

Tagged , , , ,

Melankoli Rinai Hujan

Pernah dengar atau mengalami keajaiban hujan? Di tengah terik panas menyerang, hujan bagai penghibur. Kala kesibukan menguasai hari-hari kita, hujan membujuk kita untuk berhenti dan menyempatkan diri melongok ke jendela, hati kita pun mengagumi setiap titik yang jatuh walau rasio kita menyuruh kita untuk was-was akan bahaya macet dan banjir. Hujan mengguyur, memberi hidup pada makhluk dan semesta. Saat hujan, kita pun berefleksi, menengok bagian dalam diri yang sering kita lupakan: keindahan nuansa romansa. Bunga-bunga kenangan merekah dan kita pun mengagumi alunan musik scene-scene memori kita.

Sedari kecil sampai sekarang, saya selalu suka hujan. Gemuruh awan, langit abu-abu, air yang jatuh ke bumi, aroma tanah dimandikan hujan, semuanya selaras. Saya pun diam sejenak, menikmati lanskap itu sambil ditemani secangkir teh hangat. Tak lupa secarik kertas dan sebatang pensil agar dapatlah saya abadikan dalam kata-kata terbatas dan perasaan yang tak berbatas.

Menurut saya, hujan, walau bagaimanapun, adalah anugerah Sang Pencipta untuk kita, untuk mengingat bahwa keindahan diriNya tersembunyi dalam diri kita, menunggu untuk kita sadari dan rasakan. Maka ijinkanlah saya untuk berbagi sedikit cerita kasih saya dan hujan, menyentuh titik melankoli dan syukur.

 

——-

rain drops, love falls from the sky

rain drops,
as love falls from the sky

sleep soundly in our heart
wiping tears in our eyes
whispering “hello” at the first wake
caressing our soul
burning our passion on every kiss and touch
then on our departure day, she closes her eyes
saying “let love be your compass”

Jakarta, 5 Desember 2009

 

 

Beneath The Gray Sky

I always love rainy season: the romantic mist and nostalgic feeling of my childhood.

At this moment, as James Joyce might say, “In the virgin womb of imagination, the word was made flesh.”

I write, weep, dance but never I’ve been weary. This is the season of union, the collision of what is right or wrong, what is believed and discreetly disdained.

As I strolled on my way home, I realized how God blessed me dear, healing my wound, lifting me up, and letting me have a grasp of Eden’s breath.

The gray sky asked me tenderly, “Do you love, my friend?”

And I said, “Yes. I do love, and I love to say I love you because I’m thankful for what I’ve had.”

Then she whispered to me triumphantly about the day she was bored in the womb of the Divine Imagination.

I inhaled every memory and listened to her song, saying hello to the wind, smiling to the cloud, weaving my way to The Path Beyond The Light as this day I was reborn again.

I remembered how I never said goodbye when I walked away because I didn’t know that I had done it after I set foot at new path, new place, new home. How magnifying the sky had led me, in the breadth of the insensible.

Time passed by and abode when the dance of fate met her partner. Her gentle touch slowly cleared my vision in the thick mist of love. Then suddenly it hit me: I’m paler by the night but brighter with joy.

Jakarta, 18 November 2009

 


Pagi itu

Pagi itu bunga meranggas akarnya
Lembaran daun hening dalam peraduan
memeluk ibu yang sepi menghanyut
semarak hilir angin menjamu
menanti hujan janji
gugur romansa Jakarta

Jakarta, 4 November 2009

 

 

Potret di Balik Tirai Hujan

(1)
mendung hipnotisku untuk kembali mengingat setiap inci tubuh putih ringkihnya dan bibirnya yang berbisik tentang masa kecilnya: pencarian telor asin di kampung halamannya dan ibunya yang terbang merengkuhnya agar ia kembali.

rambutnya panjang bergelombang tersibak oleh cahaya lampu; dengan cahaya itu, ia tangkap imajiku, hatiku, dan jiwaku. (Kau pegang cahaya itu dan kau perintahkan untuk terangi mataku; sejak kapankah kau ukir bayang namamu dalam hatiku?)

(2)
dalam hujan, kau mendekapku dalam-dalam. tanganmu menyibak rambutku; sebentar aku mengingatmu di balik panggung itu, kau mengagungkan sederhananya kaos hitammu yang lusuh, dengan semangatmu yang berkobar; namun ke manakah optimismu, kau tukarkah dengan puing-puing cemas masa depan rumah kita?

dalam hujan, kau bisikkan lagi padaku, betapa kau hilang percaya pada Tuhan dan semestaNya; aku menyurukkan kepalaku dalam-dalam ke dadamu, hilang kata karena kurasa cinta Tuhan dalam dirimu, kekasihku; marahmu keringkan air pengharapanku; kehilangan bukan saat yang kuinginkan kala itu.

(3)
hujan makin deras; nafasmu menderas dalam bibirku. aku melirik celana jeans mu di sudut sana; tak ada bedanya aku dan dirimu, potongan jeans di pinggulmu dan pinggulku, beriring nada-nada Jack Johnson di pantai pelesir gairah kita. (sejenak sebelum kau tiba, aku intip pelataran rumahmu yang gersang, mobil biru minimu, gerbang rumahmu yang kau titipkan kuncinya padaku, dan aku ingat saat-saat aku mengurus makan dan tidurmu kala kita berdua sakit perut makan kepiting banjir).

hujan makin deras, aroma tanah yang dikecupnya menyelusupi jendela rumahmu; kau mengerang bahagia, dan kau katakan surgamu ada di sini, dalam saat-saat pertautan ini; aku hanya tersenyum, betapa perjalanan mengantar kita pada Firdaus imaji ini, pada persatuan abadi Adam dan Hawa.

(4)
langit berhenti mengurai air mata bahagianya; kau tertidur dalam pelukanku, sementara aku berdoa agar kau dan aku dihantarkan berlutut padaNya agar kita kembali (lagi) menari di Firdaus kita.

untuk aku dan dia tiga tahun yang lalu

Jakarta, 4 Oktober 2009

 

Canting Candrakirana

Jakarta, 5 Desember 2009

 

Posted also here

Tagged , , , ,