Category Archives: review

Membongkar Manipulasi Sejarah: Kontroversi Pelaku dan Peristiwa

6233919
Membongkar Manipulasi Sejarah: Kontroversi Pelaku dan Peristiwa
by Asvi Warman Adam
My rating: 4 of 5 stars

Published: February 2009 by Penerbit Buku Kompas
Binding: Paperback, 257 pages
Setting: Indonesia
isbn: 9797094041 (isbn13: 9789797094041)

Description:

Ketika Orde Baru berakhir, gugatan terhadap sejarah bermunculan. Sejarah pun menjadi polemik karena fakta dan interpretasi selama ini dinilai tidak tepat, tidak lengkap, dan tidak jelas. Manipulasi sejarah dilakukan secara sistematis dan meluas demi kepentingan politik dan kekuasaan.

Mengapa Proklamator Sukarno tidak tampak saat pengibaran bendera Merah Putih 17 Agustus 1945 yang dimuat dalam buku “Pejuang dan Prajurit”? Kemudian, siapa yang melakukan rekayasa dalam buku “Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”, bahwa Sukarno tidak memerlukan Hatta dan Sjahrir, bahkan “peranan Hatta dalam sejarah tidak ada”? Mengapa peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 digambarkan menyanjung Soeharto dan melupakan Sultan Hamengku Buwono IX sebagai konseptor? Bagaimana kisah diorama Monumen Nasional era Orde Baru yang penuh manipulasi sejarah?

Penulis melalui bukunya ini membeberkan kebenaran sejarah secara jujur. Bukan hanya membongkar manipulasi dan rekayasa sejarah Indonesia saja, tetapi juga menampilkan tokoh-tokoh pergerakan dengan kisah yang menyentuh hati. Kisah Agus Salim yang dikatakan menguasai “bahasa kambing dan kuda”. Kisah Mayor John Lie, seorang tokoh etnis Tionghoa, yang berani membersihkan ranjau laut. Juga kisah M.H. Thamrin seorang politikus santun yang “satu napas” dengan Bung Karno.

My review:
Buku ini merupakan kumpulan artikel Dr. Asvi Warman Adam berkaitan dengan manipulasi sejarah bangsa Indonesia. Dibagi dalam empat bagian besar (Nama yang mengukir Indonesia; Kontroversi Sejarah, Gerakan 30 September; Pelurusan Sejarah, Pendidikan Sejarah), berbekalkan wawasan yang luas dan kaya referensi literatur, Dr. Asvi Warman Adam membahas dan membongkar manipulasi sejarah yang terjadi di bangsa ini secara sistematis. Analisis yang tajam, dipaparkan dengan jelas tiap poin-poinnya, membuatnya enak untuk dibaca dan mengajak kita untuk lebih kritis terhadap sejarah. Menurut saya, buku ini tepat sekali untuk dibaca oleh pelajar-pelajar sejarah, baik yang di bangku sekolah (SD, SMP, SMA, kuliah), maupun masyarakat kita sekarang, sebab suka atau tidak suka, kita telah menjadi bagian dari produk sejarah yang dimanipulasi secara sistematis dan menyeluruh oleh rezim yang berkuasa selama 32 tahun.

Kalau dibilang tidak mendalam pembahasannya, rasanya saya kurang setuju, karena sesuai judul bukunya, tujuan buku ini adalah memaparkan argumen kritis terhadap kondisi persejarahan bangsa termasuk literatur yang tersedia. Untuk mengukur cakrawala pengetahuan sejarah, tidaklah cukup hanya dengan membaca satu literatur tetapi juga memperkaya diri dengan sumber-sumber lainnya, sebab sejarah bukanlah ilmu masa lampau semata, melainkan ilmu yang dapat terus diperbaharui seiring dengan penambahan fakta yang ditemukan serta perspektif yang digunakan untuk menilik fakta itu.

A Portrait of the Artist as a Young Man (James Joyce)

Portrait of the Artist As a Young Man (Wordsworth Classics) Portrait of the Artist As a Young Man by James Joyce

My rating: 5 of 5 stars
Portrait of the Artist as a Young Man told us a story about and through the lens of an Irish boy, named Stephen Dedalus. It’s pretty much an autobiography of the adolescence life of Stephen Dedalus who would reappear in one of Joyce’s phenomenal work, Ulysses. Stephen Dedalus’ character, more or less, was based on Joyce himself as a lot of autobiographical details in Portrait matched with his life.

Some of the reviews I read protesting about the lack of time and place sequential description. As I read the book pages by pages, I come to this sense that time and place is an outer world and in this matter, they are less important than what’s going on in Dedalus’ mind. Joyce made a point through Dedalus.

– Yes, Stephen said, smiling in spite of himself at Cranly’s way of remembering thoughts in connexion with places

In other words, Portrait focused on psychological reality. This is the strongest point of this book. How Dedalus’ restless mind saw the world, wandered, stumbled upon nets of his family, politics, and religion, encountered what-so-called sin, felt impure and fear of hell and God, forced himself to display obedience to have his soul lifted up, but in the end he realized he was prisoner of culture and what the society expected him to be. This revelation came to him after he was being rewarded for his obedience. He imagined himself to be the most respectable figure but weary of obedience. Then he found what freed him the most, who he was, what he wanted to do, and for what he would stumble and fall.

As a young man, he saw through the world through the glasses of philosophers. Many of them were Catholic’s thinker and this was ‘normal’ because as a young man, he had not yet experienced life on his own. However, this book signified Dedalus’ departure from what had restrained him for most.

A well-written book, using magnificent and beautiful words, complex enough, profound, and daring in poetic way. I love love love this book and can’t wait to read Ulysses. Hope that I’ll find a copy in bookstores.

Regarding Joyce: is this a man whom Jung diagnosed as a ‘diving’ schizophrenics? He swam in the ‘yellow’ border of madness and achieved profoundness & beauty. ‘Yellow’ hell!
View all my reviews >>

…Ulysses
I’ve found a new way
Well, I’ve found a new way, baby

Oh, oh then suddenly you know
You’re never going home…

Negeri 5 Menara

Negeri 5 Menara Negeri 5 Menara by Ahmad Fuadi

My rating: 5 of 5 stars
Man jadda wajada dan ikhlas, mantra kehidupan yang akan membalik seluruh kekecewaan, putus asa, benci, dan angkara murka. Dalam penggalan-penggalan yang singkat pada masing-masing bab, kita disuguhkan suatu kisah perjuangan, persahabatan, tantangan dalam proses-proses yang tidak hanya terasa manis dan hangat tetapi juga memberikan kekuatan pada kita untuk bermimpi, ikhlas, dan bersungguh-sungguh dalam mewujudkannya. Tidak ada mimpi yang mustahil, kecuali jika kita putus mimpi itu dengan pesimisme. Hidup tanpa mimpi, bukanlah hidup. Hidup tanpa perjuangan, bukanlah hidup. Hidup dengan mimpi dan perjuangan adalah hidup yang sesungguhnya. Dengan ikhlas, kita akan mengikuti jalan kita dengan tenang dan penuh penerimaan. Tidak ada yang tahu rencana Tuhan untuk kita. Apa yang kita anggap sebagai suatu bencana atau kesia-siaan ternyata adalah jalan bagi kita dalam mencapai mimpi kita, keinginan terdalam kita. Surga tidak jauh-jauh di atas atau di luar angkasa. Cecap madu Surga akan diberikan pada mereka yang tidak takut bermimpi dan berjuang.

Gaya penulisan yang jujur, dengan hati, membuat saya sebagai pembaca, ikut masuk dalam dunia mereka dan ikut meresapi ajaran-ajaran yang mereka terima. Selain itu suasana, tempat, kegiatan, dan sebagainya dideskripsikan secara mendetail. Namun pembaca tidak dibombardir dengan fakta-fakta saja, tapi fakta tersebut dikawinkan dengan perspektif pengalamannya, atau dengan kata lain, dari ingatan hati. Kesemua hal-hal ini membuat saya sampai pada kesimpulan yang mungkin juga anjuran, bahwa buku ini layak dibaca oleh semua orang yang mau dan siap untuk disentuh oleh karya Tuhan: hidup.

View all my reviews >>

The Valkyries

The Valkyries The Valkyries by Paulo Coelho

My rating: 5 of 5 stars
The Valkyries was more of the author’s journal than a fiction story. I really appreciate his courage to reveal himself in this book. I could feel Paulo’s urge to ‘hunt’ and his vulnerability. I like Chris’ character who stood by him and found her soul growing and her courage in simplicity.

The story was not about seeing and conversing with angel only but also about breaking a pact with the past. You have to let God do His work on you rather than blowing it up with your feeling of not deserving God’s grace. An angel is sent by God for us. Every person has a different path in life as a learning process to understand his/her role in this world, and only the messengers of God can tell you the right step.

Some of the events more or less happened to me (essentially) and in someway, I feel a connection while reading this book. Perhaps my angel led me to buy this book as a way for him to connect with me. I believe so and I thank God for always watching over me and having my soul grow.

View all my reviews >>

Plato and a Platypus Walk into a Bar…

Plato and a Platypus Walk into a Bar . . .: Understanding Philosophy Through Jokes Plato and a Platypus Walk into a Bar . . .: Understanding Philosophy Through Jokes by Thomas Cathcart

My rating: 3 of 5 stars
A crash course to philosophy, with sprinkle of jokes. I used to think that philosophy is only for people who like sitting in the toilet and wondering around their bitterness. However, now I learn that laughing is hip in philosophy menu, recommended by Chef Cathcart & Klein. Sweet!

View all my reviews >>

The Year of Living Biblically

The Year of Living Biblically: One Man's Humble Quest to Follow the Bible As Literally As Possible The Year of Living Biblically: One Man’s Humble Quest to Follow the Bible As Literally As Possible by A.J. Jacobs

My rating: 5 of 5 stars
When I spotted this book, I thought that it’s just another biblical book, maybe an enlightenment coming from thunder, burning trees, striking light, etc. However, my former psychology lecturer who’s atheist gave this book 5 stars, so I thought this must be not just another biblical book and decided to spend my last penny to buy this book.

A.J. Jacobs was raised in secular family, estranged from religious life. To quote from his saying, “I was agnostic before I even knew what the word meant.” For a long time, he thought that religion would fade away because the potential for abuse too high. However the influence of religion is still strong and he pondered that if he’s the one who’s missing it and not them. This part intrigued me the most: a secular agnostic experimenting to follow the bible as literally as possible. I wondered how it would turn out.

First of all, I have to give credit to him for doing somewhat bold, scary, and funny, things that I perhaps won’t dare to do as an agnostics. He did things that seemed oxymoronic in his quest in one year (what a long time). He grew beard, only wore cloth made from unmixed fibers, didn’t curse, ate only “biblical” diet, played 10 string harps, stoned adulterer, invited Jehovah Witness, went to religious community, even to the fundamentalist one, etc.

If he wasn’t self-observant and insightful, this book probably would go awry. He didn’t. He found a spiritual awakening and insight even from seemed-to-be-ridiculous rules. This book is absorbing, I couldn’t stop reading it and wondering what A.J. Jacobs would tell me on the next chapter. He’s funny and had a flair with words without being complicated. Reading his book was like listening to him talking to you. He was able to get me to sit in front of him for days and still make me excited.

View all my reviews >>

Zaman Peralihan

Zaman Peralihan Zaman Peralihan by Soe Hok Gie

My rating: 5 of 5 stars
Zaman Peralihan memuat artikel-artikel yang ditulis oleh Soe Hok Gie. Soe adalah seorang pemikir yang mempunyai sikap tegas terhadap kebenaran. Soe menganalisis keadaan dari berbagai segi, tidak hanya ideologi semata, tetapi juga melihat dari persoalan ekonomi, sosial politis, dan sebagainya. Salah satu artikelnya yang paling saya sukai adalah tentang bagaimana situasi atau keadaan yang pernah dialami oleh suatu generasi sulit dilepaskan dan mempengaruhi cara berpikir generasi tersebut terhadap situasi-situasi yang dihadapinya.

Soe membantu menggulingkan komunisme yang pada waktu itu baru saja melakukan pemberontakan besar. Namun Soe tidak semata-mata membenci komunisme secara membabi buta tetapi ia berusaha untuk menganalisisnya secara rasional, bahwa tidak semua anggota partai komunis adalah mobilisator tetapi ada pula rakyat kecil seperti petani yang dipaksa masuk atau masuk hanya karena janji diberi tanah. Soe juga mengkritik cara-cara penguasa memperlakukan tapol (yang dituduh komunis) yang mengabaikan aspek kemanusiaan.

Buku ini, menurut saya, sangat relevan untuk dibaca sampai sekarang karena persoalan-persoalan esensial yang dibahas masih terjadi sampai sekarang. Sejarah berulang. Dulu anti komunis, sekarang anti terorisme. Membaca buku ini menginspirasi saya untuk lebih peka dan kritis serta berhati-hati untuk tidak terjebak slogan anti-antian dan malah melakukan apa yang dituduhkan kepada si objek anti (misalnya mengusung anti terorisme, tapi mendukung kekerasan dan melegalkan hukuman tanpa proses peradilan). Lebih baik mendalami, sungguh berpikir, dan merefleksikan supaya “kami tidak takut” tidak cuma jadi jampi-jampi.

View all my reviews >>

Panggil Aku Kartini Saja

Panggil Aku Kartini Saja Panggil Aku Kartini Saja by Pramoedya Ananta Toer

My rating: 5 of 5 stars
Jujur saja, sebelum baca buku ini, ketika saya mendengar “Kartini”, asosiasi saya adalah parade baju daerah yang sering diadakan di sekolah-sekolah pada saat hari Kartini. Setelah mengenal sejarah, oh Kartini adalah perempuan pembela pendidikan, feminis tapi akhirnya terperangkap dalam poligami. Kartini seperti “overrated” dalam kamus saya pada waktu itu.

Tapi setelah membaca buku Pramoedya Ananta Toer ini, saya berpikiran lain. Ternyata persepsi saya tentang Kartini tak lain adalah hasil dari pembentukan persepsi yang diinginkan oleh politik etis. Mensensor dan hanya menampilkan sebagian dari pribadi Kartini. Kartini ternyata bukan saja pembela perempuan, dia punya jiwa patriot. Yang dia perjuangkan adalah melawan segala musuh yang mengakibatkan sengsara pada rakyat, termasuk feodalisme. Dengan segala keterbatasannya karena batasan dari ayahnya yang dicintainya, dia berjuang. Dia juga peduli dengan kesenian rakyat, seperti batik, seni pahat, dan sebagainya. Semuanya dipaparkan di buku ini.

Kalau dalam buku ini, cuma ada uraian tanpa argumen yang jelas, saya juga akan meragukan isi buku ini. Tapi inilah poin plus dalam buku ini, adanya bukti-bukti yang melandasi kesimpulan yang diambil. Singkatnya, ada argumen yang jelas. Kalaupun ada bukti-bukti sejarah yang hilang, penulis berusaha mencari referensi lain seperti dimensi sosiologi kultural untuk membuat dugaan-dugaan. Dugaan mana yang dirasa penulis lebih kuat, disertai dengan argumen yang kuat pula. Ketika saya membaca buku ini, saya seperti mengobrol dengan penulis. Jalan pikiran penulis begitu gamblang dituliskan. Dengan demikian, tidak hanya pembaca dapat mengenal Kartini tetapi juga dapat mempelajari serta berpendapat mengenai cara berpikir atau menarik kesimpulan dari penulis (Pramoedya Ananta Toer).

Kelebihan buku ini juga adalah adanya pembahasan khusus mengenai aspek psikologis Kartini. Dalam buku biografi seperti ini, saya rasa kita perlu juga memahami siapa Kartini sehingga dapat memahami dari mana pikiran tersebut berakar. Penggambaran yang meliputi aspek psikologis ini memberikan gambaran dan pemahaman yang menyeluruh bagi pembaca mengenai siapa Kartini.

Kesimpulan akhir:
Pantaslah buku ini dianggap sebagai “Sumbangan Indonesia untuk Dunia”.

View all my reviews >>

Public Enemies


image, courtesy of wearemoviegeeks.com

Director
: Michael Mann
Casts: Johnny Depp, Christian Bale, James Russo, Billy Crudup, Marion Cotillard

Synopsis

The difficult 1930s is a time of robbers who knock over banks and other rich targets with alarming frequency. Of them, none is more notorious than John Dillinger, whose gang plies its trade with cunning efficiency against big businesses while leaving ordinary citizens alone. As Dillinger becomes a folk hero, FBI head J. Edger Hoover is determined to stop his ilk by assigning ace agent Melvin Purvis to hunt down Dillinger. As Purvis struggles with the manhunt’s realities, Dillinger himself faces an ominous future with the loss of friends, dwindling options and a changing world of organized crime with no room for him.
imdb.com

Johnny Depp scored again! His acting skill is unquestionable. He is the master of turning a dark character into a charming one. He’s successful in portraying John Dillinger as witty, smart, confident, the beloved outlaw or public enemy, just like Robin Hood on the streets (out of the woods). I love the scene when public welcomed Dillinger just like their ‘hero’ and the officer was willing to be photographed hugging with Dillinger, but it stroke me when Dillinger entered the “Dillinger case” police office, checked the pictures and anything there, and even asked the police officers about the scores of a match aired in radio. He knew how to position himself to deceive others, trickery master. Maybe this is subjective, but I find Dillinger tremendously sexy on that particular scene. I always fall in love with bad boys: doing what is prohibited as if it is natural and right to do that.

However, I feel like this movie is relying too much on Dillinger although he is the main character. This movie is one-man-show! Although there’s agent Purvis placed as the antagonist character (Dillinger’s enemy), Purvis’ character is less explored and ends up just like ‘decoration’. Dillinger and Purvis are both smart and confident in themselves but there’s a major difference between both of them: Purvis is not ready to see death. Dillinger pointed this fact behind the bars when they met for the first time. I was expecting, at least this matter to be explored more but I only got a note at the end of the movie, that Purvis committed suicide one year after the death of Dillinger (I might be wrong about the time, correct me if I’m wrong). Also, this movie’s title is Public Enemies, not just Public Enemy, and yet I sense there’s only one, just Dillinger. Dillinger’s friends are just Dillinger’s friends. I don’t know anything about them. Again, they’re only ‘decorations’ in this movie.

Note: I am aware that people are pretty annoyed by the miss on historical facts, but I decide to treat this movie as fiction. After all they don’t write the “inspired by true story” stuff on the movie poster.

Conclusion:
9 of 10 for Johnny Depp’s acting skill
6.5 of 10 for the overall movie

Here’s Public Enemies’ trailer for you

The Melancholy Death of Oyster Boy and Other Stories

The Melancholy Death of Oyster Boy and Other Stories The Melancholy Death of Oyster Boy and Other Stories by Tim Burton

My rating: 5 of 5 stars
Dear Mr. Burton,

I am truly a great fan. Many people may say that this book is weird but I think it is a beautiful poetry. Your vivid dark imagination lets me travel into your world. The beauty of human ‘truth’ in dark way, how you ‘fit’ it in your fantasy, that makes me speechless… You are genius! My favorites are “Roy, The Toxic Boy”, “Staring Girl”, “The Pin Cushion Queen”, and “The Melancholy Death of Oyster Boy”.

Thanks a lot for letting me drawn into your world. 🙂

Love,

Olivia

View all my reviews >>