Category Archives: short story

Hi. I am nothing.

Let me introduce myself. Should I introduce myself to my own journal? Besides I don’t know how to introduce myself.

Sure, I can give you my name, age, where I live or what my line of work is. However it is just cosmetics. It begs for meaning, personality, uniqueness to distinguish myself from other individuals with the same name, age, place, line of work, hobby, favourite dessert or even boyfriend, whatever.You may think that my facebook or twitter page seamlessly tells my story but mine is just another cosmetics, meaningless rambles. The only conclusion you might get is I’m a discreet and shy person. I used to think that way but is it true? Is me being discreet caused by introvert nature? Or it’s because I barely know myself.

‘Hi. How are you?’ is the most difficult question to answer without resorting to the usual minimalistic answer ‘good’ because I don’t know how I am, how I truly feel about the series of events I’ve been through. I am an almost empty vessel, the only essence left is only capable of doing the most banal operation. Thinking. Doubting.

People who know me may think of me as a quirky girl with shy but easy going personality or maybe as a boring person who is incapable of entertaining small talks. But deep inside, I know the ‘me’ they know is the sum total of different unique personalities I have encountered in my life, through books, blogs or people I meet in coffee shop or on the street. I am susceptible to be infected with accents, habits, opinions, thinking of others and make it as if they are my own as well. Maybe that is why I choose a line of work that allows me to use my ability to inhabit people’s mind and steer them to certain desired outcomes. When I work, I feel excited because finally my vessel is filled but they are just guests that are just passing through. When I don’t work, I am an empty vessel again.

You might think that I need some help. But is there anything to be helped? I am not sure myself. Self-help book has never entertained me. Self-help book’s premise is to heal or improve self but what if you don’t have the self? Nor I have the patience to go to psychologists because I have nothing of essence to tell. I also don’t have the inclination to tell my friends. I once told my friends about my nothingness but they did not quite get it, they offered some consolation that it might be because I was tired and needed some vacations. I don’t know if I am the only person who is contracted with this ‘nothingness’ or maybe it’s because I’m using the language that assumes content.

Maybe I need to find or invent the language of ‘nothingness’. Then the second question… If such language exists, are my friends willing to learn this language? I suspect this requires them to submerge themselves in ‘nothingness’ but isn’t this asking too much? I am not sure if I want to demand that kind of sacrifice. Then the only way left is to find another person who also contracts ‘nothingness’. But is it possible for two nothingness to connect? Is the language necessary? Won’t it be nothing as well?

Tagged ,

cinta burung dara

dove

Di suatu pagi, aku kedatangan seekor burung dara yang baru lepas dari sangkarnya. Melihatku sedang menyisir rambutku, ia terbang di hadapanku dan memperdengarkanku kisahnya:

kalau aku cinta monyet
aku tulis di majalah dinding sekolah
akan aku ukir namanya di papan seukuran pintu kelas
dan kulambaikan kala ia bertanding basket
kapanpun itu

namun saat aku benar aku jatuh cinta
tidak ada satupun lalat yang akan mendengar
sebab akan kujaga baik-baik cinta itu
agar cuma jadi milik kami berdua
dan akan kami sebar anak-anak cinta kami
dengan sabar, ikhlas, dan mendengar
supaya orang lain juga rasakan hangatnya cinta
tanpa perlu suburkan industri infotainment
yang lesu oleh rekayasa
cerai hamil nikah selingkuh cinta lokasi

maka jangan bertanya mengapa kami menikah
karena tanpa basa basi kami mencinta

Lalu ia pergi begitu saja, tanpa sempat aku sampaikan rasa ingin tahuku, akan kisah siapakah itu sesungguhnya. Apakah ia curi dengar diriku dan dindingku, suamiku dan wanita-wanitanya? Sungguhlah itu hanya suatu sudut pandang naif dari kemudaanku kala itu.

Ah suamiku, ternyata terlalu royal ia membagi cinta hingga cinta-cinta itu berserakan di jalan, menunggu yang akan menyapunya di pagi hari. Kala ia merebahkan dirinya di sampingku, cintanya habis teronggok di tepi jalan. Penuh surat penolakan di sakunya, ia meraung-raung di pelukanku yang dingin. Awalnya kubelai rambutnya, kukecup keningnya, dan membasuhnya dengan air dan kehangatan cinta. Namun lama-lama aku lelah dan bosan, sebab ia mengambil cintaku lalu boroslah ia mengumbar cinta itu.

Kukatakan padanya suatu malam, “Mas, aku bukan pabrik cinta.”

“Tapi aku ingin cinta. Aku butuh cinta.”

“Aku tahu. Kau pikir aku tidak butuh cinta? Cari saja cintamu di tempat lain.”

“Tidak mau, aku inginnya punyamu.”

Aku menghela nafas, mencoba menyabar-nyabarkan diri. Suamiku, seperti apa adanya kunikahi, dan haruslah kutanggung keputusan itu.

“Baiklah. Kau hanya ingin cinta dariku, tapi aku mulai kehabisan cinta. Bagaimana kalau aku mencari persediaan cinta di tempat lain, supaya aku bisa tetap menyuplai cinta untukmu.”

Ia terdiam, menyenderkan tubuhnya ke dinding kamar kami. Kulihat pemandangan yang sungguh kontras dan sedikit menggelikan. Di atas kepalanya tergantung foto perkawinan kami, aku mengenakan tank top dan celana kulit hitam, rambut acak-acakan, sementara ia mengenakan jas dan kemeja putih, corsage mawar merah disematkan di dada kirinya, segalanya serba bersih, serba klimis, kinclong bak bintang iklan pasta gigi. Ia masih sama seperti yang dulu, hanya saja dulu ia bertubuh ramping seutas ijuk namun sekarang ia bak karung goni yang ditumpuk-tumpuk di gudang hingga sesak dan hampir menjebol pintunya. Lalu aku hitung satu dua tiga. Ah benar saja, ia mulai mengadu tulang belakang kepalanya ke dinding. Kucoba hitung ketukannya, ah staccato!

“Oops gawat,ternyata cintaku memang sudah habis,” bisikku pada diri sendiri. Tergelak oleh pikiranku sendiri, aku mati-matian menahan otot wajahku. Bak seorang istri dalam pajangan opera sabun, aku berusaha tersenyum. Walau senyumku tak menentramkan batin, setidaknya senyum itu tidak boleh melecehkan. Aku bertanya lagi, “Bagaimana, suami? Deal or no deal?”

Satu dua tiga empat lima. “Biarlah kupikir-pikir dulu.” Lalu ia menghambur ke kamar mandi sambil membawa radio compoku, membanting pintu. Satu dua tiga,

All by myself
Don’t wanna be
All by myself
Anymore

Lantunan Celine Dion menyelusup ke telingaku yang lelah, diiringi dengan nada-nada sepi dan isak tangis dari bocah kemarin sore. Melihat semuanya ini, aku sudah biasa. Menelan pemandangan ini, aku lakukan secara rutin. Namun hari ini berbeda, sungguh membuat diriku sendiri kagum. Untuk pertama kalinya, aku utarakan keinginanku. Selama tiga tahun, aku menunggu keberanianku tiba, untuk melanggar nasehat ibuku yang bertalu-talu kala aku ingin memercikkan bubur arang di wajah suamiku. Yah kali ini aku menanti. Suamiku tak pernah tahan akan kesendirian. Katanya sendiri membuka bilur-bilur di hatinya dan kerutan di wajahnya. Ia tak pernah ingin sedih, maka ia tak akan pernah mau sendiri. Di rumah, di kantor, di hotel, di jalan, atau di mana saja, ia akan menarik, menggoda, dan kalau perlu membayar cinta yang akan usir sepi hatinya. Kemudian aku membatin, apalah arti limabelas menit dibanding tiga tahun penantian.

Sepuluh menit kemudian, kudengar pintu berderit. Wajahnya menyembul dari sela-sela pintu, bibirnya merengek, namun matanya menguat-nguatkan posturnya yang pernah kugilai dan ingin kucium-ciumi setiap detiknya.

“Baiklah. Asal kau bisa menjamin aku tak akan tahu dari mana asal cinta-cinta itu kau curi.”

Aku terpana melihat suamiku. Kupikir aku akan senang mendengarnya namun tak kusangka, aku malah jijik dengannya, dengan keberadaanku, dengan pernikahanku, dengan cinta yang kuperkosa bak seorang penulis yang ingin menulis kembali dongeng Cinderella untuk membela posisi Ibu Tiri yang tersudutkan. Namun, aku perempuan yang setia dengan kata-kata walau tidak pada cinta.

“Aku setuju. Aku rasa itu adil.”

Mendengar jawabanku, ia membuka pintu kamar itu, merentangkan tangannya, memintaku untuk merengkuhnya dalam pelukanku. Namun aku terpaku. Rasanya aliran darah di tubuhku berhenti, dan seluruh tubuhku kesemutan. Tak sabar, ia menghampirku dan mendaratkan pelukannya padaku, namun aku tak membalas, aku tak sanggup. Cintaku sudah habis, moralku habis, namun aku tak boleh kehilangan diri. Tuhan melahirkan aku dengan kedirianku, maka itulah hal yang paling harus kupertahankan, walau aku harus bertaruh nyawa dan rasa, agar ketika aku menghadapNya, aku dapat mengembalikan diriku kembali seutuhnya.

Oleh karenanya, kukumpulkan segenap tekad untuk jadi kekuatanku, “Dan aku akan pergi mencuri cinta itu sekarang. Empat hari lagi, akan kau terima bagian cintaku untukmu. Cinta yang akan membuatmu paham satu jalan tertutup, jalan lain harus kau buka. Aku akan terbang seperti burung dara, menjemput kebebasanku kembali dan mungkin memulai lagi cinta dari awal, dengan titik asa dan jiwa baru.”

Ia melepaskan pelukannya, menyentuh bahuku, mengelus pipiku. Matanya bertanya seakan meminta penjelasan namun tak tahu memulai dari mana.

“Apa kau akan pergi sekarang dan baru kembali empat hari lagi?”

Aku menghela nafas, menghimpun segenap emosiku agar kata-kataku tidak membakar kerapuhannya. Ia yang pernah kucinta, haruslah kusejukkan dengan apa yang kupunya, meski telah tak bersisa.

“Aku telah pergi bertahun-tahun yang lalu, pagi ini seekor burung dara menjemputku, dan malam ini aku pulang kembali. Dan empat hari lagi (kutahan senyum yang ingin meregangkan bibirku), kita bercerai.”

image, courtesy of http://www.blangkonbirdfarm.co.cc

Sepucuk Surat untuk Sahabatku

Kala aku merengkuh tidurku, aku teringat padamu, sahabatku. Aku ingat masa-masa kita dulu di sebuah lorong saksi air mata, tangis, bahagia, dan canda kita, saat kita menyambut orang yang lalu lalang dengan salam dan senyum terhangat, saat kita menukar kopi kita, dan saat datangnya seorang adik bagi kebersamaan kita.

Aku ingat, sahabatku, saat itu kita bersama-sama membangun hidup, meletakkan dasar-dasar cinta tanpa nafsu dan prasangka. Kita meniupkan nafas hidup kita pada tiap sisi lorong hingga siapapun yang melintas akan rasakan indahnya keakraban tiga insan dalam tiga tubuh namun satu hatinya. Betapa ajaibnya sebuah persahabatan yang mengakar, seperti sebuah pohon raksasa yang dahan dan akarnya saling menguatkan dari terpaan hujan, badai, dan sengatan matahari yang terkadang ingin mengambil air hidup kita.

Kemudian aku ingat, sahabatku, adik kita menunduk malu kala ia ditiup oleh angin-angin yang iri padanya. Namun kau lihatlah sekarang, sahabatku, ia telah tumbuh seperti batang pohon yang mengakar kokoh, seperti dirimu, sahabatku. Sedangkan aku daun yang melambai-lambai yang ingin mengerti arti kelembutan dan kerasnya hati. Kau adalah akar bagi kami dan inginlah kami selalu bersama denganmu.

Sahabatku, kini walau kita terpisah oleh jarak, tidaklah pernah kulupa kenangan itu. Ah bahkan kenangan bukanlah kata yang tepat ‘tuk gambarkan memori-memori yang hidup, yang disemai, dan dirawat dalam hati hingga tumbuh jadi puncak-puncak syukur. Aku daun yang kering kala itu, sedang menancapkan gairah hidupnya pada sang tanah, agar suatu hari kudapat mengakar kuat seperti dirimu.

Ada kala di mana aku terhimpit dalam embun, panas, dan hujan yang menggoyahkan semangatku, namun ketika kuingat kita, aku ingin kembali bangkit, ingatlahku pada nasihatmu, bahwa segala sesuatu yang dipaksakan tiadakanlah berbuah, segala sesuatu akan indah pada waktunya.

Sahabatku, saat ini aku sedang berjuang dalam keringnya tanah gurun, dan usahaku untuk pertahankan rinai hidupku. Aku tiada lagi hendak mematahkan akarmu dan menyimpannya untuk diriku. Tidak, sahabatku. Kali ini aku ingin berjuang dengan kekuatanku sendiri, sebab tiada kemegahan tanpa kejatuhan, tiada terang tanpa gelap, tiada rimbun tanpa gugur. Hanyalah aku ingin bernostalgia, memutar kembali perjumpaan kita dan perjalanan kita, hingga tiba saatnya kita harus berpisah dan merangkai hidup kita sendiri. Bila saatnya kita bertemu lagi, kuingin kau bangga padaku yang telah tumbuh dari hanya sehelai daun menjadi pohon kecil yang mampu bertahan dengan keras dalam sebuah arti kelembutan hati, ikhlas, dan mampu membagi air hidup bagi adik-adik kita yang lain.

Kuharap doaku sampai padamu, lewat angin yang berbaik hati menawarkan jasanya untuk berbisik padamu, melalui kata yang Tuhan anugerahkan pada tiap ciptaanNya, derita yang mengingatkan kita untuk ikhlas bersabar, dan cinta yang senantiasa menumbuhkan kita. Aku rindu padamu sahabatku. Inginlah aku sampaikan padamu, bahwa rinduku bukanlah rindu yang mengikat janji temu untuk suatu waktu yang pasti, namun rinduku adalah tanda cinta abadi, tanpa tercemar ego, yang selalu kudoakan, dari relung hati yang terdalam. Dan pada adik kita yang tercinta, kuharap engkau selalu menemukan jalan kembali padaNya, dan semailah cinta pada tiap langkah yang kau tempuh.

Salam,

Sahabatmu,

Cinta.

Jakarta, 1 Oktober 2009

2 1/2

Suatu senja di kota yang tak pernah tidur dan penuh jeritan-jeritan artifisial tanpa mengenal arti keindahan sebentuk jujur, aku bertemu dengan seorang laki-laki di persimpangan jalan di bawah tenda kemesraan semu dalam keramaian dan kebisuan dalam hingar-bingar orang-orang yang mabuk kesenangan dan tertawa dalam pelariannya dari dunia. Pertemuan yang sedikit absurd, tanpa perkenalan dalam batas kewajaran. Aku tahu namanya dari sebuah surat kabar di daerahku, namun ia tak tahu namaku dan tampak tak mau tahu. Ketika kutawarkan sebuah kartu nama di atas pita suaraku, ia menggeleng dan katanya, ia lebih percaya pada waktu yang akan membuka semua rahasia satu per satu.

Senja tidak pernah selamanya senja, selalu ada waktu untuk malam. Malam tidak pernah terlalu hitam. Malam selalu transparan, bisa dirasa dan dipikirkan. Namun malam sedikit banyak menekan. Ketika kecemasan menyergap, akankah aku bisa merasa dan berpikir? Aku tak tahu. Saat itulah aku bertemu lagi dengan laki-laki yang kukenal di pinggir sebuah senja merah keemasan. Ketika bertemu dengannya untuk pertama kali, aku melihat tubuhnya merah keemasan dan matanya menyala bagaikan api Dewi Agni, berkobar dengan nyala keemasan. Kupikir ia hanya tersepuh cahaya senja dan akan tanggal seiring dengan kepergian senja. Ternyata tubuhnya memang merah keemasan dan matanya menyala bagaikan api Dewi Agni, berkobar dengan nyala keemasan. Sekejap aku melihat elang di atas punggungnya, lalu menghilang di balik matanya.

Kita memang tidak pernah tahu sebuah pertemuan berujung pada sebuah awal perjalanan baru yang akan ditempuh, kita tidak pernah tahu dengan pasti bagaimana waktu menggiring kita dari suatu kejadian ke kejadian lainnya. Demikian pula aku tidak tahu pertemuanku dengan seorang laki-laki di pinggir senja akan membawaku ke sebuah perjalanan, sebuah pengalaman baru. Walaupun aku tidak tahu, aku masih bisa merasa dan berpikir di tengah malam yang sebenarnya tidak terlalu hitam, dengan merah keemasan tubuhnya dan nyala api Dewi Agni yang keemasan di sepasang bola matanya.

Dan ternyata ia tahu namaku. Memang seiring dengan keramahan waktu, ia tahu namaku yang sebenarnya tertera di dalam batinku, bukan hanya nama di atas sebuah kertas. Memang kita selalu membutuhkan nama di atas sebuah kertas sebagai tanda partisipasi legitimasi eksistensi kita, namun kita tak pernah bisa memungkiri bahwa nama kita yang sebenarnya ada dalam diri kita, dalam hati kita tersembunyi di dalam eksistensi kita yang terdalam. Dan ia mengenalku. Namun ternyata aku belum mengenalnya. Dan memang seiring dengan keramahan waktu, aku tahu namanya yang sebenarnya tertera di dalam batinku, bukan hanya nama di atas sebuah kertas.

Walaupun waktu mengubah wajah perjalanan hidup, waktu belum bisa mengubah tubuhnya yang merah keemasan dan matanya yang menyala bagaikan api Dewi Agni, berkobar dengan nyala keemasan. Namun sedikit banyak waktu telah mengubah malam hingga malam tidak lagi benar-benar hitam. Ada kalanya kebocoran alam, ketika di tengah malam untuk beberapa menit kembali ke senja dan pernah juga sampai kembali ke pagi dimana matahari mulai terbit dan bertakhta di langit di atas bumi, setelah pertemuanku dengannya di pinggir sebuah senja, setelah perkenalanku dengannya di malam yang tampak hitam.

Betapa ajaib sebuah perkenalan membawa kita ke dunia baru. Dan aku mengenalnya di pinggir sebuah senja. Waktu terus-menerus ciptakan dunia baru untuk kita semua, sahabatku. Aku berterima kasih pada Tuhan karena waktuNya telah membawaku ke sebuah perkenalan yang indah dan akan selalu indah. Sekarang sang waktu merayakan persahabatannya denganmu sejak kau dilahirkan dan membawa nyala api keemasan di dunia. Begitu pula aku, sahabatku. Aku berdoa semoga jiwamu selalu bersinar tak lekang oleh waktu yang selalu berubah. Selamat ulang tahun, Mas Hardman!

Note: tulisan ini kudedikasikan untuk seorang sahabat di hari ulang tahunnya, kuabadikan agar jejak sekeping hati ini takkan pernah lekang

Jakarta, 4 Juni 2005

tentang mawar hitam

Malam yang benar-benar malam, pikir saya. Langit seakan-akan malu membuka tabirnya dan awan-awan pun menyetujui rahasia-rahasianya. Tidak ada bintang dan malam itu, bulan pun mati, mempersiapkan diri untuk sebuah kelahiran baru.  Di bawah siraman lampu panggung, aku duduk di sebuah pelataran kubah kaca. Konon kubah ini sengaja dibangun hanya dengan kaca-kaca supaya tidak ada yang bisa disembunyikan. Kata seorang penjaga, pemilik kubah ini korban kebohongan orangtua, istri, dan anak-anaknya. Ia mendirikan kubah kaca ini sebagai bagian dari usahanya untuk menghapus kengerian dunia, yang ternodai oleh ucap-ucap yang menipu. “Kebohongan adalah awal kematian sebuah harapan,” ujarnya suatu hari saat saya berbincang-bincang dengannya di pelataran kubah ini.

Kubah ini baru saja diresmikan bulan lalu, untuk tempat berpikir, bertengkar, berdebat, menulis, membaca, galeri dan bahkan untuk mementaskan pertunjukan-pertunjukan. Siapapun boleh menggunakannya secara bergantian, tanpa harus membayar. Setiap masuk dalam kubah itu, kami harus mengganti nama kami, sesuai dengan impian masa kecil kami. Begitu saya melangkah masuk dalam kubah ini, nama saya Candra Kirana karena sejak kecil, saya ingin memiliki kecantikan seperti sinar bulan purnama. Bulan, layaknya seorang bunda mengasuh anaknya, menjaga malam supaya manusia tidak silap dengan godaan-godaan yang menafikan bungkam hati terhadap kebahagiaan dan keindahan.

Di bawah sinar bulan purnama, saya ingat pertemuan saya dengan Bidah. Itulah namanya di sini. Bidah, seorang perempuan cantik dengan mata yang bersinar bagaikan buah kurma, bibir pucat, pipi yang tirus, berkulit hitam keemasan, dan wajah bagaikan hati yang terluka. Saat saya pertama kali melihatnya,  Bidah melangkah dengan gontai sambil sesekali berhenti menatap sang candra. Batin saya, perempuan ini dianugerahi kecantikan yang membangkitkan kenangan masa kecil yang penuh air mata dan kepiluan. Sejujurnya sebuah dorongan simpati dan ketertarikan yang tidak dapat dimengerti, mendorong saya untuk menyapanya dan menawarkan sebuah persahabatan. Semua itu dimulai ketika sibakan gelombang rambut hitamnya menari, menjawab suara saya.

“Saya tidak mau ngomong apa-apa. Tapi kalau boleh, saya ingin duduk di samping anda.”

Begitulah ia menyapaku. Kami tidak mengucapkan sepatah katapun. Seperti yang ia inginkan, kami hanya duduk dan melayangkan pandang kosong kami ke langit, berharap malam akan mengisahkan lakon dirinya. Saya pun menduga ia juga menunggu malam mementaskan kisah saya. Namun seperti malam-malam sebelumnya dan malam-malam berikutnya, tidak ada kisah apapun. Hanya anggukan dan desahan nafas yang kami pertukarkan dalam sebuah percakapan pandangan mata.

Namun setelah malam kedua puluh tiga, lakonnya mulai dipentaskan. Dalam nafas kirana sang candra, untuk pertama kalinya, ia menjadi dayang kata-kata.

“Nama saya Bidah, namun ketika kita melangkah keluar dari sini, kamu tidak kenal saya, sebagaimana kamu pun bukan Candra Kirana. Saya punya impian, selayaknya kamu punya impian. Hidup saya di luar sini bukanlah hidup dan saya yakin, hidupmu di luar sini bukanlah hidup. Kita adalah cermin yang hanya akan jadi satu dalam suatu istana kaca. Begitu kita keluar dari sini, “kita” mati.  Karenanya, begitu kita melangkahkan kaki kanan kita dari pintu itu, cerita saya harus mati bersama dengan kematian saya.”

“Nama saya Bidah karena saya menginginkannya sejak saya dikandung di rahim ayah saya. Ibu saya sudah lama meninggalkan raganya dan hanya setitik nafas yang ia titipkan pada ayah saya. Ayah saya, semenjak saya kecil, selalu menyayangi saya. Ia ibu dan juga ayah bagi saya. Ayah saya menangis ketika saya menangis, tertawa ketika saya tertawa, berduka ketika saya marah. Ayah saya adalah segalanya bagi saya. Oleh karena itu, saya tidak ragu untuk mengambil nafas dari siapapun yang mencoba merenggutnya. Maka sejak Mawar Hitam itu masuk ke rumah saya dan mencoba untuk menjamah ayah saya, saya tidak ragu untuk merampas duri-durinya dan mencuri nafasnya, untuk saya taruh dalam buku catatan harian saya.”

“Nama saya Bidah, karena setelah itu, ayah menangis dan sambil menamparkan terima kasihnya pada sekujur tubuh saya, ayah saya mengucap nama itu. ‘Bidah’. Semenjak itu, saya tahu bahwa sedari dulu itulah nama yang dititipkan ibu pada ayah untuk dianugerahkan pada saya.”

“Namun sejak ayah membuka tabir rahasia nama saya, seorang petugas berjubah putih dengan bercak-bercak merah menarik saya dari genggaman ayah. Tangan ayah, saat itu, berdarah dan saya menjilatinya, memberi obat pada luka-lukanya yang asin. Wajah ayah saya membeku, dingin membiru, dan saya ingin mengecup seluruh wajahnya dengan cinta saya, memberinya kehangatan seorang anak. Saya ingat, saat itu pandangan ayah kosong sama seperti pandangan kita yang lalu-lalu. Oleh karena itu, setiap kali saya melihat kekosongan, saya melihat ayah di situ, melambaikan tangannya, menawan saya dengan kasih sayangnya, memanja saya dengan siraman duka dan penderitaannya. Hari ini hari ulang tahun ayah saya dan saya ingin mengenangnya sejenak. Bolehkah saya mengulang lagi pertemuan ayah saya yang terakhir padamu?”

Kemudian, sebelum saya sempat mencerna kata-katanya, ia menarik tangan saya dan menggenggamkan duri-duri mawar hitam pada saya hingga cairan kemerahan menerangi hitam kelopaknya. Tidak pernah saya sadari kilau hidup di atas bentangan gelap. Rasa ngeri dan keingintahuan yang besar membuat jantung saya serasa berhenti saat itu dan kepala saya berhenti berpikir.  Walau begitu, sisa hati saya yang terakhir masih mampu bergumam mengagumi keindahan yang aneh nan menyentuh dari raut muka Bidah.

Ayah…

Genang air matanya menatap tangan saya dan telinganya mendengarkan lantunan musik dari luka saya. Gema dalam hatinya bertalu-talu, melelehkan jendela hatinya. Rambutnya menyentuh jemarinya yang mengkilat dibelai oleh sinar purnama, dan tangannya adalah cermin perangkap hatinya, memaku dan memaku korban perasaan yang tertinggal ini. Keinginan untuk hidup bukanlah miliknya seorang. Oleh karena itu, saya berusaha untuk melepaskan genggaman tangannya namun tampaknya ia bukan lagi di dunia ini. Nafas orang mati tidak pernah bisa dikembalikan pada hidup, kecuali oleh Dia yang berada di antara hidup dan mati. Duri mawar itu semakin berakar pada darah dan nafas saya. Sekeras saya berusaha, sekeras pula ia ingin hidup dari darah dan daging.

Oh bunga mawar.. lekaslah mengembang… kuingin memetik dikau….

Suara yang indah, lagu yang memilukan, kecantikan yang menyayat. Falsetto keindahan itu dan gairah asmara abu-abu membuat saya perlahan menyerah pada kenangannya. Seorang asing di tangan yang asing digoda untuk menjadi ayah sebuah lagu rindu. Siapa yang bisa menahan gejolak bayang-bayang itu? Bayang-bayang adalah refleksi yang bisa memenjara. Makin kau pandangi, makin kau harap, jerujuinya akan semakin menguat, memaku langkahmu pada satu nada yang dipilihnya.

Seiring dengan jeritan pikiran-pikiran itu, gema-gema nyanyiannya sayup-sayup terdengar di telinga saya yang mulai hilang dan untuk sepersekian detik, saya mendengar ibu saya mendongengkan saya kisah Putri Candra Kirana dan Pangeran Inu Kertapati. Binaan cinta menyinari kerajaan yang lesu dan letih. Dongeng, kata ibu, ditulis supaya manusia tidak lupa cinta dan impian, sebab tanpa keduanya, hidup kita habislah sudah.  Itu sajalah yang masih dapat kudengar sebab suara ibu pun lama-lama hilang dan hening pun merayap.

Satu per satu, nafas saya pun mulai menipis, digantikan oleh nafas ayahnya. Keberadaan diri saya disedot oleh kegelapan yang tak bertepi. Saya merasa diri saya berenang-renang dalam kolam tak berdasar, meraba arah dalam gelap, dan suara-suara saya pun hilang ditelan oleh gema-gema kegelapan. Lama kemudian, barulah saya menyadari raga saya bukan milik saya lagi karena Bidah sudah mendapatkan ayahnya kembali. Apa yang telah dilepaskan tidak mungkin kembali lagi. Hidup terseret-seret oleh takdir masa lalu, dalam kesadaran yang kabur, dan saya hanyalah korban untuk membengkokkan semuanya itu.

Sekarang ini, saya duduk di pelataran kubah kaca ini dan mengenang malam-malam yang lalu, ketika Bidah menghapus malam saya. Mungkin takdir menugaskan pada saya untuk mengisahkan lakon ini pada malam. Berharap malam mau mendalangkan cerita ini, untuk anak-anak sebelum tidur, agar sirapan masa lalu dipelihara dan dipangkas sesuai iramanya. Dengan demikian, mungkin Bidah tidak akan datang lagi pada malam-malam selanjutnya untuk mengulang lakon pikirannya lagi.

Yang berlalu akan berlalu, yang menanti akan datang, dan yang berdiri sekarang akan dirasa. Hukum pergerakan hidup yang tidak boleh dibengkokan, terutama saat malam adalah kubahnya dan kegelapan hati adalah detaknya.

dunia pecha

Konon selain di muka bumi, di dalam bumi juga ada kehidupan. Di sana orang-orangnya  seperti komedo-komedo di hidung, melawan hukum kepantasan. Di sana, semuanya serba terbalik. Kalau kita yang berhasil turun ke dalam dan melihatnya, katanya kita akan mati dalam waktu 24 jam karena gila. Tidak, mereka bukan bangsa barbar yang gemar membunuh dengan tangan berlumuran darah. Tapi kita sendirilah yang akan dengan suka rela bunuh diri dengan cara apapun, dengan makan tanah beracun yang ada di sisi sungai utama yang membelah negara di jantung bumi itu.

Dengar-dengar juga, ada cara-cara untuk menghilangkan racunnya, namun setiap kali warga di sana berusaha untuk memberitahu si pengunjung, si pendatang akan memohon belas kasihan pada sang penduduk untuk membiarkanya bebas dalam mati. Begitulah keadaannya sehingga rahasia keberadaan mereka cukup aman. Namun karena manusia suka mencucukkan hidungnya ke tanah, keberadaan mereka pun tercium juga walaupun hanya dalam bentuk mitos. Kabar tentang keberadaan masyarakat ini cuma lewat mulut ke mulut, sehingga banyak cerita yang mungkin melenceng dari aslinya karena tambahan-tambahan usil manusia yang sukanya merusak dan menciptakan semesta baru.

Seperti anomali yang dilegalkan oleh nafas gila bumi, di sana ikan-ikan hidup di darat, menjadi tonggak masyarakat dan pemerintahan, sementara manusia bagaikan anjing pesuruh ikan-ikan tersebut. Manusia tidak bicara dalam lafal bahasa yang kita ketahui. Mereka menggonggong. Manusia di sana benar-benar asu. Ikan-ikan itu tidak lagi bersisik dan berinsang. Sisiknya telah berubah menjadi bulu-bulu dan insangnya sekarang bermutasi menjadi paru-paru kecil.

Ikan-ikan tersebut duduk sepanjang hidupnya. Mereka duduk di sebuah mesin seperti kursi roda elektrik dengan chip pengendali. Chip tersebut berhubungan dengan otak mereka dan langsung menerjemahkannya dalam bentuk perintah-perintah yang dimengerti oleh sang kursi elektrik. Ketika hendak berpindah tempat, kursi roda itu akan berjalan sendiri di atas tanah, berubah menjadi kapal apabila hendak berlayar, bertransformasi jadi kapal selam jika ingin masuk ke dalam sungai, dan terbang jika ikan-ikan itu menginginkannya.

Mereka juga berkomunikasi melalui transmisi chip tersebut bagaikan telepati. Kalau mereka bertemu manusia asing dari muka bumi, dengan otomatis, chip tersebut akan menganalisis bahasa sang manusia dan menerjemahkan isi pikiran ikan-ikan tersebut dalam bahasa yang dikuasai oleh manusia itu. Dengan kata lain, peradaban mereka jauh melangkahi manusia yang katanya makhluk paling beradab.

(Bersambung)

Cari Surga (4): Epilog

Delapan tahun kemudian, sebuah talkshow di stasiun televisi swasta nasional membahas berita yang akhir-akhir menjadi kegemparan dan keresahan nasional. Dua minggu yang lalu, hotel ternama berkelas internasional telah dibom dan peristiwa tersebut menewaskan 15 orang dan 126 orang luka-luka. Saat seorang pakar terorisme nasional menceritakan bagaimana proses perekrutan jaringan teroris, Juminten sedang di dapur menyiapkan kocokan telor bebek dan telor ayam untuk digoreng. Sebulan yang lalu, setelah bertahun-tahun tiada kabar dari anaknya, di antara pertanyaan apakah anaknya sudah mati atau masih hidup, Juminten menerima surat dari anaknya. Katanya di situ, Bencong akan pulang sebentar lagi. Dipenuhi kebahagiaan dan harapan, setiap hari Juminten menyiapkan masakan kesukaan anaknya, kalau-kalau anaknya tiba-tiba pulang. Ia telah membayangkan berkali-kali peristiwa ini akan tiba, anaknya pulang, dan mereka berpelukan, saling menangis, melepas rindu, dan mengucap kata maaf. Selesai ia mandi, Juminten berlatih di depan cermin untuk menyempurnakan pertemuannya dengan anaknya nanti, anak yang telah ia rindukan, anak yang ingin ia mintai maaf sebelum nanti ia akhirnya masuk ke liang lahat.

Setelah minyak di kuali panas, Juminten hendak memasukkan kocokan telur tersebut. Namun seekor semut menggigit ibu jari kakinya. Juminten kesakitan. Ia memasukkan kocokan telur tersebut terlalu cepat dan minyak panas menjentik ke tangannya. “Syaiton laknat,” serunya. Tiba-tiba ia mendengar pintunya diketuk. Perhatian Juminten terbagi antara menyelesaikan menggoreng telur itu atau membuka pintu terlebih dahulu. Namun pintu itu diketuk semakin kencang, menyiratkan sang tamu tidak mau menunggu lebih lama lagi. Karena panik, Juminten meninggalkan dapurnya dan langsung membukakan pintu.

Dua orang polisi dan lebih banyak lagi polisi di belakangnya, apakah betul Juminten ibu dari Ben Lu. Juminten bingung, “Bukannya Ben Lu itu teroris yang tukang ngebom itu,” tanyanya lugu. “Betul, Bu. Apakah Ibu Juminten ini ibu Ben Lu?” Juminten tertawa, “Ya bukanlah Pak, Bapak ada-ada saja.”

“Apa ibu kenal Ben Lu?”, tanya polisi itu lagi. Juminten misuh-misuh dalam hati, ia benci teroris, bahkan sejak ia nonton di berita tentang pengeboman itu, ia mengutuk-ngutuk teroris itu dijemput oleh syaiton-syaiton neraka. Ada sedikit kelegaan dalam hatinya bahwa ada manusia-manusia yang lebih buruk darinya dan lebih pantas masuk ke neraka. Lamunan Juminten buyar, ketika polisi itu bertanya hampir berteriak, “Ibu yakin ibu tidak kenal Ben Lu?” “Ndak pak, saya ndak kenal Ben…” Saat itu, tiba-tiba ingatannya kembali ke tahun-tahun silam, saat ia menjemput anaknya di rumah orangtuanya, saat ia merayu bapak dan ibunya untuk membiarkan ia membawa anaknya, saat ia bilang, “Aku kangen Ben.” Semuanya kembali bertubi-tubi, pandangannya makin kabur dan samar-samar sebelum rohnya terserap oleh gelap, ia ingat lagi isi surat itu, “Aku sebentar lagi pulang, bu. Aku berhasil cari surga buat ibu.”

—–

Di atas sana

Tidak ada Tuhan

Di bawah sana

Tidak ada Tuhan

Tuhan ada di antara saya

Tuhan ada di antara kamu

Tuhan ada di antara kita semua

Tuhan juga ada dalam kata-kata ini

Biarkanlah Tuhan menuntunmu dalam berkata

Berbuat

Berpikir

Juga dalam ingin dan anganmu

Surga bukan di antara malaikat

Bukan pula di telapak kaki siapapun

Tapi surga ada dalam cinta

Dalam kasih sayang, dan dalam penerimaan

Tuhan ingin kamu bahagia

Bukan menjerat diri dalam rasa bersalah dan sedih berkepanjangan


<< Sebelumnya

Cari Surga (3)

Juminten meremas kertas itu lebih kuat lagi. Ia merasa lelah dan ia ingin tidur. Namun jantungnya belum membiarkan ia untuk mengistirahatkan mata, tubuh, hati, dan pikirannya. Seakan-akan ia terasuki oleh suatu energi aneh yang membuatnya mengingat dan memutar kali adegan-adegan masa lalunya, yang ingin ia gilas dengan setrika terpanas, sehingga tipis, bolong, hangus, dan akhirnya hilang. Namun tampaknya Tuhan tidak ingin Juminten hilang ingatan, dan ia tetap waras dengan ingatan-ingatan masa lalunya. Semakin ia ingin lupa, ia semakin ingat. Semakin ia ingat, semakin ia ingin mengambil pisau dari dapur dan mengiris nadinya, atau mungkin mengorek isi perutnya karena ia mual setiap kali ia ingat suami dan anaknya. Namun ia tidak berani. Pikirannya tentang hikmat surga dan neraka yang didengungkan padanya sejak kecil selalu menghentikannya. Jadilah Juminten menyerah.

Bencong kesayangan Juminten. Tidak seperti ibunya yang gagap aksara, gagap dalam pembicaraan dengan orangtuanya, gagap dengan suaminya, yang duka dan marahnya sedikit demi sedikit mengiris hatinya. Semuanya tidak lucu lagi, tidak lagi seperti humor. Juminten kehilangan humornya, kehilangan keluguannya. Semua terenggut ketika ia hendak mencari Surga di anaknya dan juga suaminya. Bagaimana mungkin suaminya bisa mengantar keluarganya ke Surga, dia sendiri sudah mengangkangi Surga dengan permainan burungnya.

“Juminten lugu, Juminten bodoh,” gumamnya dalam hati di kamar mandi ketika ia sedang buat hajat, setelah ia mendengar desas desus tetangga tentang suaminya. Memang, sejak Juminten melahirkan Bencong, setiap kali Juminten merasa cemas dan tertekan, ia pergi ke kamar mandi dan buang air besar. Herannya perut Juminten malah semakin buncit, bukannya semakin rata. Semakin hati Juminten teriris, gas neraka sedikit demi sedikit mengisi perutnya. Mungkin syaiton-syaiton mengira perut Juminten balon yang dipakai sebagai hiburan di neraka yang terlalu panas, begitu batin Juminten beradu ketika ia melihat perutnya di cermin.

Air mata menggenang di matanya yang semakin hitam dan berkantong, sepertinya mata Juminten tidak kalah besar inginnya untuk buang hajat di matanya. Masa anak-anak meninggalkan Juminten dan sekarang Juminten berkeluarga, harus menghadapi kerumitan masa dewasa. Batin Juminten menjerti apalagi ketika suaminya malah sibuk main burung, bukan burung perkutut, burung jalak, burung beo, burung merpati, atau burung-burung lainnya. Suaminya, yang sering pergi untuk main burung, bohong dan jujur sekaligus. Ia jujur soal bermain burung tapi bohong untuk tidak menyebut kalau dia main dengan burung di antara paha Joko, Subagio, Mandra, Dindon, Mister Wa’it, dan pemilik burung berdaging peluru lainnya.

Ngadiman hilang hormatnya di mata Juminten. Ngadiman egois, main burung di saat Juminten ingin liangnya dikunjungi oleh burung Ngadiman. Tapi ternyata Ngadiman lebih senang sama yang juga punya burung. Jadi Ngadiman bisa memainkan burung sekaligus dimainkan burungnya. Ngadiman memang rakus. Persis kelakuannya di meja makan yang selalu makan tiga perempat nasi yang ada di dandang. Kalau Juminten tidak ambil duluan, mungkin Ngadiman habiskan semuanya.

Di samping semua itu, Juminten bingung. Ngadiman tampak sayang pada Bencong. Dia sering mengajak Bencong bermain ke sawah, menangkap kodok bareng, main layangan, dan menyisakan nasinya untuk anaknya. Tapi sebelum selesai dengan bingungnya, Ngadiman sudah ambil keputusan sendiri. Ngadiman pamit pada Juminten untuk cari surga di tempat lain. Katanya ia ingin cari surga. Juminten membalas, “Bang, kalau kamu ninggalin keluarga, mana bisa kamu masuk surga.  Mau sama Joko, Mandra, Din din apalah itu? Yang ada kamu masuk neraka, dikutuk Allah.” Ngadiman, dengan datar menjawab dengan kata-kata yang sering dibayang-bayangkan dan dilatih ketika ia main burung, “Burung-burung mereka nerbangin abang ke surga.” Juminten menangis dan bertanya bagaimana nasib Bencong dan dirinya kalau ditinggalkan oleh Ngadiman. Namun keputusan Ngadiman sudah bulat. Ia akan mengirim uang setiap bulan untuk Bencong tapi ia tetap akan pergi. Dulu ia menyerah pada orangtuanya saat dipaksa kawin dengan Juminten, sekarang tekad Ngadiman telah mantap. Burung-burung sudah menawan tubuhnya dan hatinya.

Setelah kepergian Ngadiman, Juminten tiap hari menangis. Saat itu umur Bencong 5 tahun dan Bencong diam saja saat ibunya menangis. Bencong juga pasrah saat ibunya satu bulan tidak mau bicara ataupun melihatnya. Karenanya, Bencong dititipkan pada bapak dan ibu Juminten. Juminten lapar terus, ia bisa makan apapun yang ada, pernah juga ia makan kertas, meja, kursi, dan lantai-lantai rumahnya bolong. Pada saat ibunya datang berkunjung, ibunya bertanya mengapa lantai rumahnya banyak yang bolong dan kursi hilang semua. Juminten menjawab banyak tikus. Tapi ketika bapak Juminten sekali-kali menangkap basah Juminten makan meja, kuatlah dugaan bahwa Juminten juga yang makan lantai rumah. Bapak dan ibu Juminten mengelus-ngelus dada. Mereka tidak berani membawanya ke Pak Mantri karena takut diomongi orang. Menantunya kabur saja sudah bikin mereka harus pakai kain di atas kepalanya dan menunduk setiap kali keluar rumah. Hanya pada saat mereka kerja di sawah, mereka harus meninggalkan kain mereka demi kepraktisan dan merasa semua mata melihat ke mereka, penuh iba, cibiran, dan hinaan. Semuanya bukan lagi terasa seperti komedi, melainkan tragedi.

Bencong, 4 tahun, punya bakat untuk merasa-rasa orang lain. Ketika ia memeluk orang, ia bisa langsung tahu orang itu sedang sedih, senang, kesal, marah, ataupun konstipasi. Bencong jarang bicara dengan orang lain tapi Bencong sering ngomong sendiri kalau menjelang tidur. Juminten dan Ngadiman sendiri sering memukuli Bencong kalau Bencong kedapatan bicara sendiri. Saat ditanya, Bencong menjawab kalau dia ngomong dengan Bimbim, temannya. Mereka menganggap Bencong lama-lama bisa sinting kalau ngomong sendiri melulu. Bencong pernah melawan dan tetap ngomong pada Bimbim tapi setiap ketahuan, Bencong bukan cuma dipukul tapi juga dimasukkan ke dalam ember besar, dan dibiarkan ketakutan dalam gelap. Akhirnya Bencong, 5 tahun, pamit sama Bimbim untuk tidak datang lagi.

Satu tahun kemudian, ketika Bencong umur enam tahun, Juminten mulai ngomong. Setelah ia merasa neraka di perutnya membludak dan akhirnya keluar melalui kentut yang panjangnya satu minggu, Juminten datang mengetuk rumah orangtuanya dan minta Bencong dipulangkan. “Aku kangen Ben”, katanya. Sejak kecil, Juminten selalu panggil Bencong dengan penggalan depannya saja karena ia malu dan merasa bersalah telah membiarkan nama itu untuk putra semata wayangnya.

Ben akhirnya pulang. Walaupun Juminten sayang pada anaknya, Juminten tidak bisa banyak ngomong dan melihat Ben. Setiap ketemu anaknya, Juminten membuang muka atau pura-pura sibuk membersihkan rumahnya yang kelewat bersih sampai lecet-lecet karena terlalu sering digosok dengan keras. Sering juga Juminten ngomong dengan anaknya kalau ia lagi di kamar mandi. Juminten buang hajat dan Bencong duduk di depan kamar mandi, ngobrol dengan ibunya. Juminten merasa bersalah karena tidak bisa dekat dengan Ben seperti ibu dan anak yang lain tapi setiap kali Juminten dekat-dekat Ben, ada keinginan yang besar untuk kabur ataupun ke kamar mandi. Walau begitu, Ben tetap lembut padanya dan menunjukkan kasih sayang yang luar biasa.

Selama ini Juminten melarang Bencong keluar rumah.Kalau Bencong memaksa ingin keluar, Juminten pura-pura sakit perut dan Bencong, karena merasa bersalah, akhirnya tinggal di rumah. Tapi saat Bencong tujuh tahun, bapak Juminten memaksa Juminten agar anaknya pergi sekolah.  Saat Bencong pertama kali sekolah, Juminten berada di kamar mandi sendirian. Ia ketakutan saat membayangkan guru sekolah Ben memanggil nama lengkap anaknya dengan Bencong. Ketakutannya terbukti, ketika anaknya pulang, anaknya bertanya soal kenapa teman-temannya meneriakkan namanya berkali-kali dan tidak mau duduk bareng Bencong. Juminten berbohong untuk menyenang-nyenangkan anaknya. Namun setelah itu, Juminten langsung merasa menyesal. Ia merasa kesempatannya untuk masuk Surga semakin kecil. Begitulah keadaannya setiap kali Bencong pergi sekolah dan bertanya macam-macam soal kelakuan temanya.

Di satu siang, Bencong umur delapan tahun, Bencong menanyakan hal yang berbeda, ia bertanya apakah benar surga ada di telapak kaki ibu. Dalam bayangan surga yang semakin jauh dan neraka yang sejengkal lagi, Juminten mengiyakan dengan singkat dan mengalih-ngalihkan pembicaraan. Kalau anaknya mendesak, Juminten pura-pura sakit perut, sampai akhirnya Bencong berhenti bertanya lagi. Hanya sesekali Bencong bertanya namun tidak bertanya lebih lanjut ketika Juminten telah menganggukkan kepala. Tidak hanya itu, Bencong tampak lebih perhatian pada Juminten. Juminten, si kaki basah, merasa bahagia pada saat Bencong di satu sore, menawarkan untuk mencuci dan memijat kaki ibunya. Kebiasaan ini berlangsung rutin setiap sore dan tiap Bencong menyentuh dan mengelus kakinya, muncul perasaan jijik dalam diri Juminten. Ia ingat suaminya, bapak Bencong yang suka main burung. Ia berusaha untuk menyingkirkan jijiknya karena ia tidak ingin mengecewakan putra yang disayanginya. Biarlah putranya berbakti, sehingga kalau Juminten tidak bisa masuk surga, anaknya bisa, begitu pikir Juminten.

Sesekali Juminten merasa bersyukur punya anak lembut dan penyayang seperti Bencong tapi begitu sayang itu terbit, dalam kepalanya, muncul pula sosok suaminya. Juminten merasa diombang ambing sehingga ketika memasak, makanannya selalu keasinan atau tawar. Namun anaknya diam saja dan bahkan memuji-muji masakan ibunya enak sekali. “Rupanya Allah masih sayang padaku,” desis Juminten dalam hati.

Maka Juminten tidak mengerti mengapa anaknya tega padanya. Malam sehari setelah anaknya dihukum karena telah mengorek-ngorek retakan di kakinya, Bencong berpura-pura sakit pusing dan minta ijin tidur duluan. Tapi ketika Juminten terlelap, Bencong mengendap-ngendap ke kamar Juminten sambil membawa pisau dari dapur. “Ibu… Bencong cari surga untuk ibu,” bisik Bencong ke telinga ibunya. Sayup-sayup jauh dalam mimpinya, Juminten mendengar anaknya. Dalam mimpinya, ia dan Bencong dijemput Malaikat Jibril, dibebaskan penderitaannya dan masuk Surga. Hanya dalam mimpi itu, Juminten bisa memeluk anaknya dan saat itulah, ia dengar suara anaknya. Kemudian ada sesosok gelap yang besar memukulkan panci bara merah ke perutnya.

Juminten terbangun tiba-tiba, nyawanya bagaikan dicabut, dan ia mendapati anaknya mengayunkan pisau ke pergelangan kakinya. Juminten berteriak dan segera berusaha menghentikan anaknya. Ia berkata berkali-kali pada Bencong, “Istighfar nak, istighfar. Ibu banyak salah ke kamu tapi masa’ kamu mau bunuh ibu, ibu yang melahirkan kamu,” sambil menahan tangan anaknya. Namun Bencong tetap bersikukuh dengan niatnya dan tampak tidak mempedulikan kata-kata Juminten. Bencong berpikir bahwa akal ibunya hilang dicuri bapaknya dan ia terpaksa harus menyelamatkan ibunya, walaupun dengan cara yang menyakitkan sekalipun. “Aku harus cari surga untuk ibu,” gumam Bencong dalam hati. “Kalau surga tidak ada di permukaan telapak kaki ibu, surga pasti ada di dalam telapak kaki ibu,” pikir Bencong, saat ia memutuskan untuk ke dapur, mengambil pisau itu untuk ibunya. Oleh karena itu, Bencong terus menguatkan niatnya semakin ibunya memohonnya untuk berhenti.

Sampai akhirnya pada detik-detik ketika pisau Bencong berkilat hampir menyentuh dadanya, Bencong tersentak. Juminten langsung mengambil pisau itu dan ia tidak sengaja melukai lengan anaknya. “Masya Allah!” seru Juminten. Bencong tampak kaget, tak percaya bahwa ibunya tega melukai dia, padahal, “Bencong cuma ingin cari Surga buat ibu.” Juminten sangat menyesal sampai-sampai ia ingin memuaskan hasrat pisau itu dengan darah di lehernya. Ia terhenyak, nyawanya kali ini benar-benar telah dicabut Syaiton, pikirnya.

Melihat ibunya pucat tampak ekspresi, Bencong kaget, ia merasa tidak sanggup dan telah gagal mencari surga untuk ibunya. Rasa penyesalannya mendorong dirinya mendekati ibunya dan meminta maaf. Namun yang terlihat di mata Juminten adalah Ngadiman. Penuh duka, amarah, dan dendam, Juminten menampar, memukuli, dan menendang “Ngadiman”. Setelah lelah hampir kehabisan tenaga, Juminten memberikan tendangan terakhirnya pada “Ngadiman” dan mengutuk, “Dasar syaiton laknat, pergi kamu!” “Ngadiman” kecil, hatinya perih, tertusuk-tusuk oleh kata-kata ibunya, akhirnya pergi meninggalkan rumah, sementara Juminten tertidur kelelahan. Setengah jam kemudian, Juminten bangun. Kepalanya berat dan ia bertanya-tanya apa yang terjadi. Perlahan-lahan sang waktu menghukumnya. Jiwa Juminten seperti tertarik keluar, dan ia dipaksa untuk duduk menyaksikan film tragedi yang direkam di kamarnya. Asin dan pahit di lidahnya, dan asam di langit-langit mulutnya saat ia mendapati anaknya sudah pergi, meninggalkan dirinya dengan kepingan rasa bersalah dan tawa penghuni neraka.

Bersambung

<< Sebelumnya

Cari Surga (2)

Juminten, duduk melongo di tepi tempat tidurnya dengan sepucuk kertas yang sudah lecek dan basah dengan keringat. Juminten ingat waktu dia masih bocah cilik umur 14 tahun yang baru-barunya mengalami masa-masa selangkangan ingin digesek-gesek. Juminten, si kembang desa, dikejar laki-laki dari mana saja, dari yang umurnya mendekati liang kubur sampai anak bau kencur yang masih main adu jauh-jauhan kencing di kali.

Walaupun Juminten selebritis desa, Juminten merasa malu karena namanya terlalu ndeso. Dia kepingin punya nama seperti makhluk-makhluk bongsor berambut jagung, apalagi Juminten kepingin jadi artis supaya bisa masuk TV dan terkenal. Juminten berusaha membayang-bayangkan namanya masuk di titel film, tapi tidak masuk juga. Bahkan untuk pemeran-pemeran ecek-ecek, nama Juminten saja tidak nyambung, seperti babi di antara mutiara-mutiara. Juminten tidak mau jadi babi, dia maunya jadi mutiara di antara babi-babi. Beberapa kali Juminten minta pada bapak ibunya supaya diganti nama, misalnya jadi Jeni atau apalah, yang penting terdengar lebih elit, tidak bau desa. Tapi bapak ibunya selalu mengecilkan niat Juminten. Katanya niat Juminten itu bertentangan dengan Allah, perempuan mempertontonkan diri di depan umum itu tidak pantas, nanti Allah marah sama Juminten dan bikin hidup Juminten sengsara sampai di akhirat. “Sudah kamu kawin saja dan punya banyak anak, itu tugas perempuan, jangan macem-macem lah nduk.”

Juminten takut Allah tapi tidak terlalu takut pada orangtua. Baginya, orangtuanya hobi menakut-nakuti dia. Orangtuanya tidak pernah main tangan atau main selangkangan pada Juminten tapi orangtuanya cukup lihai main kata. Juminten selalu merasa cilik di hadapan orangtuanya walaupun tubuhnya sudah bisa dibikin bunting.

Suatu hari waktu Juminten sedang mencari-cari kodok di sawah, ada seorang laki-laki berkulit sawo matang, berkaca mata hitam, pakai sepatu bot karet (seperti punya dinas kebersihan), pakai blue jeans sobek-sobek di dengkul dan di paha, kaos pink lengan buntung dan dimasukkan ke dalam blue jeans itu, perut seperti mau membleduk persis di antara kaos dan celananya, lengan berlipat gajih bertato gambar hati dengan tulisan di bawahnya “Dangdut yuk”, dan rambut warna jagung kematangan. Laki-laki itu sedang berdiri sambil menggoyang-goyangkan pantatnya ke kiri dan kanan, meliuk seperti ular yang dirayu oleh tiupan suling.

Ketika Juminten melihat laki-laki itu, Juminten kesengsem. Pulangnya dari sawah, Juminten tidak mau makan, tidak mau minum, Juminten terus mengurung diri di kamar. Orangtua Juminten khawatir melihat kelakuan anaknya. “Apa jangan-jangan mulut Juminten kemasukan kodok ya Pak?”, kata ibunya. “Wah ya jangan-jangan bener.” Bapak dan ibunya lalu membawa Juminten ke dukun tapi Juminten tidak sembuh-sembuh juga. Padahal setiap hari Juminten sudah dipaksa minum air kencing Bapaknya setiap pagi sesuai dengan yang disuruh Mbah Dukun.

Karena selama seminggu Juminten masih seperti orang kesambet, Juminten dibawa ke mantri tapi kata Pak Mantri, Juminten sehat walafiat tidak kekurangan satu apapun. Putus asa dengan kondisi anak perempuan satu-satunya, bapak Juminten minta obat. Tapi Pak Mantri sama sekali tidak mau kasih obat. Demi memuaskan hati orangtua si pasien, menjaga kredibilitas dirinya tapi tanpa membahayakan kesehatan si pasien, Pak Mantri kasih Juminten vitamin. Orangtua si pasien tidak ngamuk-ngamuk lagi, dan Pak Mantri merasa lega. Sewaktu orangtua si pasien mau membawa pulang pasien itu, Pak Mantri bercanda dengan mereka, “mungkin anaknya harus cepat dikawinin Pak biar cepat sembuh.”

Di luar dugaan, bapak dan ibu Juminten menanggapi ‘saran’ Pak Mantri dengan serius. Akhirnya ibu Juminten memberanikan diri bertanya, “Nduk, kamu mau ‘tak kawinin?” Tiba-tiba Juminten langsung terlihat segar. Juminten langsung lari keluar kamar, ke dapur, mengambil piring dan nasi sebanyak-banyaknya dari dandang, dan mengambil tempe yang baru saja digoreng ibunya untuk lauk makan malam. Takjub melihat perubahan Juminten yang drastis, sang bapak menggumam, “Ternyata Pak Mantri bener-bener sakti.”

Tapi kebahagiaan bapak dan ibu Juminten cuma sebentar. Juminten minta kawin sama anak laki-laki desa tetangga yang kabar-kabarnya pengangguran dan kerjaannya  main-main sama burung. Tapi karena mereka ketakutan anaknya kembali ‘sakit’, diturutilah keinginan Juminten untuk kawin sama Jon alias Ngadiman.

Pada saat kawinan, Juminten senyum-senyum sendiri karena bangga dapat suami berambut jagung. “Biarlah kulitnya gosong, yang penting rambutnya seperti bule,” gumamnya dalam hati. Juminten tidak terlalu suka dengan nama asli suaminya, maka pada saat bikin undangan dan baliho, Juminten minta khusus supaya Ngadiman langsung diganti Jon. Ngadiman tidak masalah dengan keinginan istrinya karena dia sendiri juga merasa nama Jon lebih elit. Juminten membayang-bayangkan satu kampung akan memuji-muji dan iri pada dirinya karena menyandang titel bini mister Jon.

Seperti bahagia yang instan, senepnya juga instan. Pada saat malam pertama, Juminten ditinggal sendiri di kamar. Jon bilang dia tegang karena baru pertama kali seranjang dengan perempuan. Juminten sedikit kesal tapi berusaha mengerti. Dia ingat nasihat bapakya, “jadi istri harus nurut sama suami karena suami imam di keluarga.” Malam kedua malam ketiga, sampai satu bulan habis, Jon pun masih belum sekamar dengan Juminten apalagi menjamah selangkangannya yang makin gatal pingin digaruk. Juminten sudah bosan dengan bantal dan ingin suaminya membuktikan keperkasaannya. Selain itu, kata-kata ibunya sewaktu kemarin ibunya berkunjung, terngiang-ngiang di telinga Juminten, “Nduk, kapan kamu kasih ibu ayah cucu?” Juminten ingin cerita yang sebenarnya tapi dia merasa malu karena dia sendiri yang maksa kawin dengan Jon dan menjawab, “Aku nggak mau punya anak. Punya anak bikin repot.” Ibunya langsung kaget mendengar jawaban anaknya, “Masya Allah, istighfar, Ten. Kamu mesti ingat, punya anak itu ibadah ke Allah. Nikah itu artinya kamu dan suami ngikat janji ke Allah untuk bawa anak ke dunia ini. Anak itu titipan Allah, nduk, masa kamu nolak titipan Allah? Apa kamu sudah mudarat? Apa kamu nggak mau masuk Surga?”

Juminten makin agresif, jalan-jalan bugil di depan suaminya.  Tapi suaminya tetap tidak bergeming, malah setelah itu suaminya malah pergi ke luar rumah.  Sepulangnya, Juminten bertanya ke mana suaminya pergi, tapi jawaban suaminya selalu sama, “Pergi main burung.” Tiga minggu berlalu dengan hari-hari yang kurang lebih mirip, Juminten makin senep.

Sampai satu ketika, sepulangnya si suami dari main burung, Juminten blak-blakan cerita soal kepinginannya punya anak dan berceramah soal tanggung jawab kawin persis kata-kata ibunya. Hanya kali ini, Juminten berteriak-teriak sampai urat suaranya mau putus dan diakhiri dengan tangisan yang ingusnya tidak berhenti-henti. Mendengar istrinya itu, Jon takut dengan hukuman Allah, takut tidak bisa masuk Surga. Akhirnya Jon menyetujui dan bilang, “nanti malam kita ‘main’.” “Main? Aku ngomong soal bikin anak kok kamu malah ngajak main?”, teriak Juminten dengan kesal. Jon menghela napas, mencoba menyabar-nyabarkan diri. “Bikin anak,” sahut Jon, datar. Lalu Jon minta ijin keluar rumah. Juminten mendelik mendengar permintaan suaminya tapi Jon tetap berjalan keluar dan cuma berpesan, “Aku balik sesudah Maghrib.”

Jon kembali sesudah Maghrib, sesuai dengan janjinya. Sesudah menjalankan shalat, Jon mengikuti langkah istrinya ke kamar dengan perasaan tak karuan. Ketika sudah sampai di kamar, Juminten mulai membuka pakaiannya satu per satu dan mendekati Jon, hendak melepaskan pakaian suaminya. Tapi begitu tangan Juminten menyentuh Jon, Jon gelagapan. Lalu Jon dengan gemetaran, “Aku mau ke kamar mandi dulu.” Juminten bingung namun ia tidak punya waktu untuk menanggapi karena Jon kabur secepat kilat (menurut Juminten) ke kamar mandi.

Juminten menunggu dengan gelisah. “Sudah 15 menit kok Jon nggak balik-balik?” Ia ingin menyusul suaminya ke kamar mandi tapi ia malu. Sebagai perempuan, ia merasa harus dijemput untuk urusan main ranjang. Suami minta, istri memberi. Begitulah seharusnya menurut Juminten. Akhirnya Juminten tetap menunggu walaupun lantai kamarnya basah dengan keringat dari telapak kaki Juminten. Juminten selalu sebal dengan kakinya yang suka basah apalagi kalau ia merasa gelisah. Oleh karena itu Juminten sebisa mungkin menghindari pakai sepatu karena kalau pakai sepatu, kakinya pasti bau. “Ah cantik-cantik kok kakinya bau,” Juminten selalu takut kalau ada yang berkomentar seperti itu tentang dirinya. Ia ingin orang-orang beranggapan bahwa ia cantik sempurna, tanpa bau.

Setelah 45 menit menunggu dan kaki yang semakin basah, akhirnya Jon kembali. Juminten buru-buru mengambil pakaiannya dan melap kakinya. Lalu ia menengok ke arah suaminya dan merasa senang karena suaminya kembali-kembali sudah bugil. “Mungkin tadi dia gugup. Burungnya pasti naiknya terlalu cepat liat aku bugil duluan,” gumam Juminten dalam hati. Ketika matanya menjelajahi tubuh suaminya, Juminten bingung. Jon memegang sebuah foto di tangan kirinya. Sebelum Juminten sempat bertanya, Jon sudah menerjang dirinya dengan sentuhan-sentuhan di tubuhnya. Juminten mau protes karena tidak sekalipun Jon mencium dirinya dan Jon pun tidak melirik ke dirinya. Tampaknya Jon malah lebih asyik melihat foto itu. Namun Juminten tidak terlalu peduli karena burung suaminya membawa Juminten  ‘naik ke Surga’.

Satu bulan sesudahnya, Juminten mual-mual dan kata Pak Mantri, Juminten sedang hamil. Mendengar kabar tersebut, Juminten senang karena dapat anak dan membuktikan teorinya bahwa yang berambut kuning jagung seperti bule pasti penjantan tangguh. Namun di antara kebahagiaan itu, Juminten juga sedih karena suaminya tidak pernah ‘main burung’ lagi dengannya. Suaminya selalu menghindari dirinya dan bahkan Jon sering tidak pulang ke rumah. Kalau ditanya, alasannya masih sama, “habis main burung.” Juminten tidak mengerti, apa bagusnya main burung di luar.  Seharusnya suaminya bangga dengan keperkasaannya dan ‘nagih main burung’ dengannya. Tapi Juminten sudah terlalu pusing dan terlalu lelah mengurusi tubuhnya yang semakin tambah berat. Untunglah bapak dan ibunya setiap hari datang mengurusi Juminten, termasuk mencarikan ngidamannya Juminten.

Selama hamil, Juminten ngidam makan yang manis-manis. Kata orang, itu artinya anak Juminten perempuan. Setiap kali orang-orang di kampungnya mengatakan itu, Juminten selau menjawab bahwa ia senang, “Anak laki-laki dan anak perempuan sama saja kok.”  Namun diam-diam dalam hati, Juminten protes pada Allah, bahwa seharusnya Juminten dapat anak laki-laki. Juminten ingin punya anak yang nantinya jadi Imam supaya bisa mengantarkan seluruh keluarganya ke Surga.

Sembilan setengah bulan berlalu, bayi Juminten belum juga brojol. Cemas dengan keadaan kehamilan Juminten yang ketuaan, Pak Mantri akhirnya merujuk Juminten untuk ke rumah sakit yang baru dibangun, 100 km dari desanya. Bersusah payah dengan tubuhnya yang semakin berat, Juminten bersama dengan orangtuanya naik menumpang truk pengangkut ayam yang kebetulan lewat di rumah sakit itu. Suami Juminten tidak pulang-pulang saat itu dan tidak ketahuan di mana suami Juminten main burung. Memang Jon selalu mengelak kalau ditanya oleh istrinya soal hobi perburungannya.

Sesampainya di rumah sakit, dengan rujukan Pak Mantri, Juminten diterima sebagai pasien, dengan syarat, Juminten mandi dulu untuk menghilangkan bau ayamnya. Pada saat keluarga Juminten protes, “Anak saya ini mau melahirkan, sus. Gimana sih, kok malah disuruh mandi.” Dengan tenang, perawat itu menjawab, “Pak, ini rumah sakit baru, kita susah payah akhirnya disetujui Pemda di sini buat bangun rumah sakit. Maka dari itu, kami kepinginnya rumah sakit ini dikenal sebagai rumah sakit manusia sesuai dengan akta pendiriannya, dan bukan rumah sakit hewan.” Akhirnya setelah perjuangan selama 20 jam ditambah 4 jam mandi, Juminten melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama “Bencong Lu” karena keteledoran perawat yang sama. Namun begitu, Juminten bersyukur pada Allah bahwa jalannya ke Surga dimudahkan dengan kehadiran seorang anak laki-laki, walaupun namanya Bencong.

Bersambung

<< Sebelumnya

Cari Surga (1)

Alkisah ada seorang anak laki-laki semata wayang keluarganya namanya Bencong. Dia diberi nama Bencong karena kecelakaan. Waktu itu ibunya habis melahirkan, dan pada saat perawat datang menanyakan pada ibunya anaknya mau diberi nama apa, suami ibu Bencong alias Bapak Bencong baru datang dan ibunya berteriak, “Bencong lu!” Sang perawat mengira itu nama bayi itu dan menulis di akta kelahiran “Bencong Lu”. Ibunya protes tapi namanya sudah diproses dan kalau mau diganti, harus bayar. Saat itu ibu Bencong tidak punya uang, jadilah pasrah dengan nama anak laki-lakinya itu.  Kulit Bencong kuning seperti kuningan, matanya belok hampir meloncat ke luar, bibirnya hitam seperti habis disemen, badannya semampai (semeter tak sampai), tidak terlalu gemuk dan tidak terlalu kurus alias sedang-sedang saja. Rambutnya hitam cepak dan banyak uban karena terlalu banya mikir soal kenapa matahari terbitnya di timur dan tidak di barat, kenapa bumi disebut bumi, dan rajin cuci kaki ibunya sambil sibuk mengamati telapak kaki ibunya untuk membuktikan apakah benar surga ada di telapak kaki ibu.

Sampai hari ini dia bingung karena telapak kaki ibunya sama-sama saja dengan telapak kakinya, kecuali ada retakan-retakan seperti tanah kekeringan di tumitnya. Tiap hari dia menulis jurnal tentang temuan-temuan barunya menyangkut persoalan telapak kaki ibunya. Dia bertanya-tanya apa dia tersilap atau meleng pada saat ada cahaya sinar benderang di telapak kaki ibunya karena tiap kali dia bertanya pada Pak Ustad, Pak Ustad selalu menjawab surga itu ada di telapak kaki ibu maka berbaktilah pada ibu. Awal-awalnya dia mengangguk-ngangguk mendengar kata-kata Pak Ustad tapi lama-lama dia melengos kesal karena dia merasa sudah memenuhi kriterianya. Membasuh kaki ibu itu tanda berbakti yang sekaligus efektif untuk membuktikan kebenaran teori Pak Ustad. Bencong berpikir jangan-jangan Pak Ustad salah tapi dia sudah bertanya pada semua orang termasuk ibunya sendiri dan jawabannya tetap sama. Surga ada di telapak kaki ibu.

Bencong berusaha untuk tanya pada teman-temannya tapi sebelum ia bertanya, teman-temannya sudah pergi duluan begitu Bencong mendekat. Teman-temannya yang sopan, pergi diam-diam. Temannya yang kurang sopan, mengata-ngatai dirinya, “Ih Bencong lewat, bencong lu bencong lu.” Ketika Bencong tanya pada ibunya kenapa temannya suka bilang begitu, ibunya bilang teman-temannya sayang sekaligus iri pada Bencong. Teman-temannya menjauh karena iri tapi tetap memanggil nama Bencong dari kejauhan. Bencong mengangguk-ngangguk senang mendengar penjelasan ibunya. Sejak saat itu, Bencong selalu senyum ala iklan pasta gigi setiap kali teman-temannya mengata-ngatai dia. Tapi kali ini itu tidak cukup. Bencong butuh jawaban. Di manakah Surga yang katanya ada di telapak kaki ibu?

Bencong makin lama makin frustrasi dan makin menyalahkan dirinya. Pikirannya semakin kalut dan ia menulis kemungkinan-kemungkinan di buku hariannya tentang kenapa hanya ia sendiri yang tidak bisa melihat surga di telapak kaki ibu. Kemungkinan pertama, Bencong terlalu bodoh dan lalu Bencong berpikir ah… tidak mungkin Bencong bodoh, buktinya Bencong selalu dapat nilai 100 setiap ada ulangan di sekolah dan selalu ranking satu, bikin bangga satu keluarga dan satu RT. Kata mereka, jarang ada anak pintar seperti Bencong. Jadi Bencong tidak mungkin terlalu bodoh. Coret.

Hm.. Kemungkinan kedua, sebenarnya surga itu jangan-jangan ada di retak-retakan di telapak kaki ibu. Sore kemarin, Bencong sempat mengorek retakan-retakan itu sewaktu mencuci kaki ibu. Ibu berteriak dan Bencong bilang, “Sabar bu, Bencong mau lihat surga bu.” Bukannya mengerti, ibunya malah menempeleng dia dan menyiram dia dengan air di baskom itu sambil berteriak, “Anak gila kamu!”. Lalu ibu meremas lengan kiri Bencong dan menggeretnya ke kamar mandi, mengangkat tubuhnya, dan memasukkan Bencong ke dalam ember besar tempat menaruh cucian kotor dan menutup ember tersebut. Bencong tidak mengerti kenapa usaha pintarnya malah dihadiahi hukuman. Ah mungkin ibu yang terlalu bodoh untuk menyadari kalau ini sebenarnya adalah usaha pintar Bencong. Baiklah, lain kali Bencong jangan mengungkit-ngungkit soal ini. Bencong akan kasih tau ibu kalau Bencong sudah berhasil. Bencong membayangkan ibunya akan mencium pipi Bencong , memeluknya, dan membangga-banggakan kejeniusan Bencong pada satu kampung, satu kelurahan, satu kabupaten, satu propinsi. Bencong membayangkan namanya akan masuk ke koran-koran, diselamati oleh satu negara, dan akhirnya Bencong dipilih jadi maskot Surga.

Lamunan Bencong berhenti ketika tutup ember itu dibuka. “Ibu!” jerit Bencong. Bencong pikir ibunya mau mengeluarkan dia dari ember itu dan minta maaf. Tapi lain di angan, lain di nyata. Ibunya cuma memberi satu tempe dan setengah sendok nasi dalam piring melamin warna abu-abu. Sebelum selesai dengan bingungnya, ibu Bencong sudah menutup ember itu lagi dan membiarkan Bencong untuk merenung-renung dalam kegelapan. Ibu Bencong berharap bahwa Bencong sadar dari kesintingannya tapi Bencong malah berpikir bahwa ibunyalah yang hilang akal. Mungkin bapak lari dari rumah sambil bawa otak ibu, barangkali.

Dalam hati Bencong, Bencong merasa iba dengan ibunya. Wah kalau dibawa otaknya, jadi kosong. Wajar saja ibu berpikir seperti itu. Bencong dilema, apakah ia harus menuruti keinginan ibunya untuk berhenti cari surga atau tetap cari surga. Bencong berpikir, kalau dia nuruti keinginan ibunya, berarti dia menyerah dengan kegilaan ibunya dan membiarkan ibunya dalam kegilaan. Tapi kalau dia tetap cari Surga di telapak kaki ibunya, Bencong bisa beri ibu surga sehingga ibu bisa hidup dengan senang dan mungkin akalnya bisa kembali karena kata orang-orang, Surga itu tempat yang indah, ajaib, terang, dan bikin orang yang tinggal di sana bahagia. Salah satu cara ibu ke surga adalah setelah mati. Tapi Bencong tidak mau ibu mati, Bencong tidak mau sendirian di rumah ini, dan Bencong sayang ibu. Jadi ibu tidak boleh mati dan bencong harus berusaha terus cari Surga supaya bisa dikasih ke ibu.

Bersambung